Ibadah
Beranda » Berita » Mengupas Tuntas Kitab Safinatun Najah: Panduan Fiqh Puasa bagi Pemula

Mengupas Tuntas Kitab Safinatun Najah: Panduan Fiqh Puasa bagi Pemula

Para penuntut ilmu sering mengawali langkah mereka dengan membaca kitab kuning legendaris. Kitab Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami menjadi rujukan utama di pesantren. Kitab ini menyajikan materi fiqh praktis dengan bahasa yang sangat sederhana. Terutama dalam bab puasa Kitab Safinatun Najah Dasar Fiqh Puasa, penulis memberikan panduan mendasar yang sangat krusial bagi setiap Muslim pada Kitab Safinatun Najah Dasar Fiqh Puasa.

Mengenal Kitab Safinatun Najah

Nama lengkap kitab ini adalah Safinatun Najah Fiima Yajibu ‘ala Abdi li Maulah. Secara harfiah, judul tersebut berarti “Perahu Keselamatan dalam Kewajiban Hamba kepada Tuhannya”. Syekh Salim menyusun kitab ini untuk memudahkan masyarakat awam memahami dasar-dasar hukum Islam. Fokus utama kitab ini mencakup pilar-pilar penting dalam Mazhab Syafi’i.

Syarat Wajib Menjalankan Puasa

Dalam bab puasa, Syekh Salim menguraikan syarat-syarat yang mewajibkan seseorang berpuasa. Seorang Muslim harus memenuhi kriteria tertentu agar kewajiban ini melekat pada dirinya. Beliau menuliskan kutipan berikut dalam kitabnya:

“Syarat wajib puasa ada lima perkara: Islam, taklif (baligh dan berakal), kuat berpuasa, sehat, dan mukim (tidak sedang bepergian).”

Poin ini menegaskan bahwa Islam memberikan keringanan bagi orang yang lemah. Orang sakit dan musafir mendapatkan kemudahan untuk tidak berpuasa. Namun, mereka harus mengganti puasa tersebut pada hari yang lain. Prinsip ini menunjukkan keadilan hukum Islam bagi setiap umat manusia.

Lalat dan Argumentasi Tauhid dalam QS. Al-Ḥajj: 73 (Sebuah Analisis Teologis dan Rasional)

Syarat Sah Ibadah Puasa

Selain syarat wajib, umat Islam harus memperhatikan syarat sah puasa. Jika seseorang mengabaikan syarat sah, maka puasanya tidak bernilai ibadah. Safinatun Najah merinci syarat sah puasa sebagai berikut:

  1. Beragama Islam secara penuh.

  2. Memiliki akal yang sehat (Tamyiz).

  3. Suci dari haid dan nifas bagi wanita.

  4. Mengetahui waktu yang memperbolehkan puasa.

    Meneladani Puasa Para Sufi: Mematikan Syahwat Menghidupkan Qalbu

Seseorang tidak boleh berpuasa pada hari-hari terlarang. Misalnya, Islam melarang puasa pada dua hari raya dan hari tasyrik. Pengetahuan ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam ibadah yang salah.

Rukun Puasa dalam Safinatun Najah

Rukun adalah pondasi utama yang menyusun struktur sebuah ibadah. Tanpa rukun, sebuah amal perbuatan tidak akan pernah dianggap sah secara syariat. Syekh Salim menjelaskan rukun puasa dengan sangat ringkas:

“Rukun puasa ada tiga perkara: Niat pada malam hari bagi setiap hari dalam puasa fardhu, meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa saat dalam keadaan sadar, atas kemauan sendiri, dan tidak bodoh yang udzur, serta orang yang berpuasa.”

Niat menjadi kunci utama dalam setiap aktivitas ibadah. Muslim harus memantapkan niat di dalam hati sebelum fajar menyingsing. Selain itu, menahan diri dari godaan hawa nafsu merupakan esensi sejati dari puasa.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Kitab ini juga memberikan perhatian besar pada aspek yang merusak puasa. Banyak orang sering mengabaikan hal-hal kecil yang ternyata berakibat fatal. Syekh Salim merinci beberapa pembatal puasa, antara lain:

Tafsir Isyari Surah Al-Baqarah 183: Perjalanan Menuju Kesempurnaan Ruhani

  • Masuknya benda ke dalam lubang tubuh secara sengaja.

  • Muntah dengan kesengajaan.

  • Melakukan hubungan suami istri di siang hari.

  • Mengalami haid, nifas, atau melahirkan.

  • Hilang akal atau gila meskipun sebentar.

  • Keluar dari agama Islam (Murtad).

Memahami daftar pembatal ini membantu kita lebih waspada selama menjalani Ramadhan. Kita harus menjaga seluruh anggota tubuh agar puasa memberikan dampak spiritual yang maksimal.

Kesimpulan bagi Pembelajar Pemula

Belajar fiqh puasa melalui Kitab Safinatun Najah memberikan landasan yang kuat. Penjelasan yang sistematis memudahkan kita dalam mempraktikkan ajaran agama sehari-hari. Ibadah puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga semata. Puasa memerlukan pemahaman ilmu agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dengan memahami Safinatun Najah, Anda telah memegang kunci keselamatan dalam beribadah. Kitab ini menjadi bukti bahwa ilmu agama sangat mudah untuk kita pelajari. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah dengan terus memperdalam pemahaman fiqh yang benar. Kesempurnaan ibadah berawal dari ketekunan kita dalam mempelajari dasar-dasar hukum Allah.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.