Banyak umat Muslim memandang puasa hanya sebagai rutinitas menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga terbenam matahari. Namun, Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah al-Iskandari menawarkan perspektif spiritual yang jauh lebih mendalam. Beliau memotret puasa sebagai instrumen vital untuk menjinakkan nafsu yang seringkali liar dan menguasai hati manusia. Dalam pandangan tasawuf, puasa bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan sebuah metode penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Puasa sebagai Pintu Cahaya Hati
Ibnu Atha’illah menekankan bahwa perut yang selalu kenyang dapat mengeraskan hati dan mematikan cahaya spiritual. Beliau percaya bahwa rasa lapar selama puasa memiliki kekuatan untuk membuka pintu-pintu kegaiban yang tertutup oleh syahwat. Nafsu manusia cenderung mencari kenyamanan dan kesenangan duniawi yang berlebihan. Puasa datang sebagai perisai yang membatasi ruang gerak nafsu tersebut agar tidak menjerumuskan manusia ke dalam kelalaian.
Dalam salah satu bait hikmahnya, Ibnu Atha’illah menyatakan:
“Asal mula segala kemaksiatan dan kelalaian adalah kepuasan nafsu, sedangkan asal mula ketaatan dan kesadaran adalah ketidakpuasan terhadap nafsu.”
Kutipan ini menjelaskan bahwa kepuasan nafsu menjadi akar dari segala perbuatan buruk. Saat kita berpuasa, kita secara sengaja tidak memuaskan keinginan nafsu tersebut. Tindakan ini menciptakan ruang di dalam hati untuk menumbuhkan ketaatan dan kesadaran penuh kepada Allah SWT.
Menghancurkan Dominasi Ego
Filosofi puasa dalam Al-Hikam juga menyoroti pentingnya menghancurkan ego atau ke-akuan. Nafsu selalu ingin merasa berkuasa dan mandiri dari pencipta-Nya. Melalui lapar dan dahaga, puasa menyadarkan manusia akan sifat aslinya yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah. Perisai puasa melindungi hati dari sifat sombong dan merasa hebat (ujub).
Syekh Ibnu Atha’illah memberikan nasihat mendalam mengenai hal ini:
“Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati seperti mengasingkan diri (khalwat) yang disertai dengan perenungan (fikrah).”
Meskipun kutipan ini berbicara tentang khalwat, puasa adalah bentuk nyata dari pengasingan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Puasa memaksa kita berhenti dari rutinitas makan yang berlebihan dan menggantinya dengan perenungan spiritual. Perisai ini menjaga fokus manusia agar tetap tertuju pada Sang Khalik, bukan pada makhluk atau benda-benda duniawi.
Puasa Menyingkap Tirai Hijab
Dalam ajaran tasawuf, dosa dan nafsu merupakan hijab atau penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa hati yang bersih akan lebih mudah menangkap sinyal-sinyal kebenaran. Puasa membersihkan karat-karat nafsu yang menempel pada cermin hati. Saat cermin tersebut bersih, maka pantulan cahaya ilahi akan terlihat dengan sangat jelas.
Tanpa perisai puasa, nafsu akan terus menumpuk beban pada jiwa manusia. Jiwa yang berat akan sulit melakukan perjalanan menuju Allah. Sebaliknya, puasa meringankan beban tersebut dengan cara memutus ketergantungan manusia terhadap kebutuhan fisik yang berlebihan. Hal ini selaras dengan tujuan utama kehidupan yaitu mencapai makrifatullah atau mengenal Allah secara mendalam.
Keseimbangan Antara Fisik dan Ruh
Kitab Al-Hikam mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan lahiriah dan batiniah. Puasa melatih kita untuk tidak menjadi budak bagi perut sendiri. Ketika kita mampu mengendalikan rasa lapar, kita akan lebih mudah mengendalikan amarah, rasa iri, dan keinginan duniawi lainnya. Puasa efektif menjadi benteng pertahanan terakhir dari gempuran godaan setan yang masuk melalui aliran darah manusia.
Penerapan filosofi puasa ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang penuh dengan konsumerisme. Manusia saat ini seringkali terjebak dalam keinginan yang tidak terbatas. Ibnu Atha’illah mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pemenuhan nafsu, tetapi pada kemampuan kita mengendalikannya.
Kesimpulan
Menjadikan puasa sebagai perisai nafsu sesuai arahan Kitab Al-Hikam akan mengubah kualitas ibadah kita. Kita tidak lagi sekadar menahan lapar, tetapi sedang membangun benteng spiritual yang sangat kokoh. Melalui puasa, kita belajar mengenali diri sendiri agar bisa mengenali Tuhan kita dengan lebih baik. Mari kita jadikan setiap detik puasa sebagai momentum untuk membersihkan hati dari segala kotoran nafsu yang menghambat perjalanan menuju rida Allah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
