Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad menyusun Kitab Risalatul Mu’awanah sebagai panduan praktis bagi umat Islam menuju jalan akhirat. Salah satu poin sentral yang beliau tekankan adalah pengendalian nafsu melalui pengelolaan pola makan. Beliau memandang bahwa rasa lapar dan dahaga bukan sekadar siksaan fisik bagi tubuh manusia. Sebaliknya, kedua kondisi tersebut merupakan senjata spiritual yang sangat ampuh untuk menundukkan ego atau nafsu yang liar.
Filosofi Lapar Menurut Imam Al-Haddad
Dalam pandangan tasawuf Imam Al-Haddad, perut yang kenyang merupakan sumber dari berbagai penyakit hati dan kemalasan ibadah. Beliau menjelaskan bahwa rasa lapar mampu menjernihkan akal serta menerangi batin seseorang dengan cahaya makrifat. Ketika seseorang membiarkan dirinya merasakan lapar, ia sebenarnya sedang memberikan ruang bagi roh untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
Imam Al-Haddad menuliskan nasihat penting mengenai bahaya rasa kenyang yang berlebihan dalam kitabnya:
“Hendaklah engkau tidak membiasakan dirimu kenyang dengan makanan, karena kenyang itu mengeraskan hati, mengabaikan anggota tubuh dari ibadah, dan menggerakkan syahwat.”
Melalui kutipan tersebut, kita memahami bahwa rasa kenyang yang terus-menerus akan membuat hati manusia membatu. Hati yang keras sulit menerima kebenaran dan cenderung menjauh dari ketaatan kepada Allah SWT. Sebaliknya, rasa lapar yang terkontrol akan melunakkan hati sehingga seseorang lebih mudah terenyuh dalam doa dan zikir.
Lapar sebagai Pilar Penjaga Jiwa
Para ulama sufi menempatkan lapar (al-ju’) sebagai salah satu dari empat pilar perjuangan spiritual. Tiga pilar lainnya adalah diam (as-shamt), terjaga di malam hari (as-sahar), dan mengasingkan diri (al-khalwah). Rasa lapar menjadi pondasi karena ia memengaruhi kondisi fisik dan mental secara langsung.
Imam Al-Haddad menegaskan bahwa rasa lapar memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan jasmani maupun rohani. Beliau menganjurkan setiap Muslim untuk membagi perut mereka menjadi tiga bagian sesuai sunah Rasulullah SAW. Satu bagian untuk makanan, satu bagian untuk minuman, dan satu bagian lagi untuk nafas.
“Kenyang yang berlebihan itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, dan mendatangkan rasa kantuk yang banyak.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa makan secara berlebihan hanya akan merugikan produktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang terlalu kenyang cenderung menghabiskan waktunya untuk tidur daripada melakukan amal kebajikan yang bermanfaat.
Dahaga dan Pengingat akan Akhirat
Selain lapar, menahan dahaga juga memiliki makna yang sangat mendalam dalam Risalatul Mu’awanah. Rasa haus yang dialami seseorang saat berpuasa seharusnya menjadi pengingat akan dahaga yang dahsyat di hari kiamat. Dengan merasakan haus di dunia, seorang hamba akan lebih termotivasi untuk mencari bekal amal saleh demi keselamatan akhirat.
Imam Al-Haddad mendorong para muridnya untuk tidak segera memuaskan setiap keinginan nafsu akan air yang segar. Beliau mengajarkan etika kesederhanaan dalam minum agar seseorang tidak menjadi hamba dari keinginan-keinginan jasmaninya sendiri. Pengendalian terhadap rasa haus melatih kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai ujian hidup yang berat.
Kaitan Lapar dengan Kepekaan Sosial
Makna lapar dalam kitab ini juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat bagi kehidupan bermasyarakat. Melalui rasa lapar, orang-orang kaya dapat merasakan penderitaan fakir miskin yang seringkali tidak memiliki makanan. Hal ini menumbuhkan rasa empati dan semangat untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan bantuan.
Imam Al-Haddad menekankan bahwa sedekah yang paling utama adalah memberikan makanan saat kita sendiri merasakannya. Pengalaman lapar pribadi menjadi katalisator bagi munculnya sifat dermawan dalam diri seorang Muslim. Dengan demikian, lapar bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi juga mengharmoniskan hubungan antarmanusia.
Kesimpulan
Kitab Risalatul Mu’awanah mengajarkan kita bahwa lapar dan dahaga adalah instrumen penting untuk mencapai kedekatan kepada Allah. Imam Al-Haddad mengingatkan bahwa setiap suap makanan yang masuk ke perut memiliki dampak spiritual yang sangat nyata. Kita harus bijak dalam mengatur porsi makan agar jiwa tetap ringan dalam mendaki tangga spiritualitas. Mari kita amalkan nilai-nilai kesederhanaan ini untuk meraih kejernihan hati dan ketenangan batin yang abadi.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
