Ibadah
Beranda » Berita » Batas Waktu Imsak: Memahami Perbedaan Antara Sunnah dan Tradisi Masyarakat

Batas Waktu Imsak: Memahami Perbedaan Antara Sunnah dan Tradisi Masyarakat

Gema sirine atau seruan “imsak” dari masjid-masjid menjadi pemandangan rutin bagi masyarakat Indonesia selama bulan suci Ramadhan. Fenomena ini seringkali menimbulkan pertanyaan di tengah umat mengenai batasan waktu makan sahur yang sebenarnya. Banyak orang merasa bingung apakah mereka harus berhenti makan saat imsak atau boleh lanjut hingga azan Subuh berkumandang. Memahami batas waktu imsak memerlukan tinjauan mendalam dari sisi syariat dan kebiasaan lokal yang telah mendarah daging.

Landasan Utama dalam Al-Qur’an

Secara harfiah, kata “imsak” berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan atau menjaga diri. Dalam konteks puasa, Al-Qur’an memberikan batasan yang sangat jelas mengenai kapan seseorang harus mulai berhenti makan dan minum. Allah SWT menegaskan batas tersebut dalam surat Al-Baqarah ayat 187:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa batas akhir makan sahur adalah terbitnya fajar shadiq atau waktu Subuh. Berdasarkan teks suci ini, secara hukum fikih, seseorang masih boleh makan dan minum selama azan Subuh belum berkumandang. Namun, masyarakat Indonesia memiliki kearifan lokal dengan menetapkan waktu imsak sekitar sepuluh menit sebelum Subuh.

Menelusuri Sunnah Rasulullah dalam Bersahur

Tradisi imsak sepuluh menit sebelum Subuh bukan muncul tanpa alasan atau sekadar kebiasaan tanpa dasar. Para ulama mengambil referensi dari sebuah hadis yang menceritakan durasi antara sahur Rasulullah SAW dan waktu salat. Zaid bin Thabit RA pernah meriwayatkan pengalaman pribadinya saat bersahur bersama Nabi:

Niat Puasa Ramadhan Sebulan: Apakah Cukup Sekali atau Harus Setiap Malam?

“Kami bersahur bersama Nabi SAW, kemudian kami berdiri untuk shalat. Aku bertanya: Berapa lama jarak antara azan dan sahur? Beliau menjawab: Kadar membaca lima puluh ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama kemudian mengonversi waktu membaca lima puluh ayat tersebut menjadi durasi menit. Hasil perhitungan rata-rata menunjukkan bahwa membaca lima puluh ayat memerlukan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Oleh karena itu, penetapan jadwal imsak dalam kalender ijtima’iyah bertujuan untuk mengikuti perilaku Nabi yang mengakhiri sahur sebelum fajar.

Fungsi Imsak sebagai Lampu Kuning

Umat Islam harus memandang waktu imsak sebagai peringatan atau “lampu kuning” dalam berkendara. Jadwal imsak memberikan kesempatan bagi seseorang untuk membersihkan mulut dan mempersiapkan diri menghadapi waktu Subuh. Kebiasaan ini sangat membantu agar kita tidak terjebak dalam kondisi masih mengunyah makanan saat azan berkumandang.

Jika seseorang baru terbangun tepat pada waktu imsak, ia tidak perlu merasa panik atau langsung berhenti makan. Ia masih memiliki waktu sekitar sepuluh menit untuk menyantap makanan sahur secukupnya demi kekuatan fisik saat berpuasa. Kepastian hukum tetap merujuk pada masuknya waktu fajar sebagai titik awal dimulainya ibadah puasa harian.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan waktu sahur namun tetap berhati-hati agar tidak melewati batas fajar. Penggunaan jadwal imsak merupakan bentuk kehati-hatian atau ihtiyat yang sangat bermanfaat bagi keteraturan ibadah. Hal ini menjaga kualitas puasa seseorang agar tetap sah menurut aturan syariat yang berlaku.

Fiqh Puasa bagi Ibu Hamil dan Menyusui: Tips Tetap Sehat

Menyikapi Perbedaan Persepsi di Masyarakat

Terkadang muncul perdebatan antara kelompok yang memegang teguh tradisi imsak dan mereka yang hanya merujuk pada fajar. Padahal, kedua sudut pandang ini tidak perlu saling berbenturan jika kita memahami esensinya dengan benar. Kelompok yang menggunakan waktu imsak berusaha menjalankan prinsip kehati-hatian agar puasa tidak rusak karena keterlambatan berhenti makan.

Di sisi lain, pengetahuan bahwa batas asli adalah fajar memberikan kemudahan bagi mereka yang berada dalam kondisi darurat. Misalnya, orang yang baru bangun tidur mendekati Subuh tetap bisa mengambil air minum tanpa merasa berdosa. Edukasi yang tepat mengenai makna imsak akan menciptakan suasana ibadah yang lebih tenang dan tidak kaku.

Masyarakat perlu memahami bahwa pengumuman imsak bukan merupakan tanda masuknya waktu haram untuk makan secara mutlak. Pengumuman tersebut adalah bentuk pelayanan masjid untuk membantu warga mengatur waktu sahur dengan lebih efektif dan efisien. Sinergi antara sunnah dan kebiasaan masyarakat ini justru memperkaya khazanah praktik keagamaan di tanah air.

Kesimpulan

Batas waktu imsak di Indonesia merupakan perpaduan harmonis antara dalil agama dan ijtihad para ulama untuk kemaslahatan umat. Meskipun Al-Qur’an menetapkan fajar sebagai batas akhir, tradisi imsak sepuluh menit sebelumnya memiliki landasan kuat dari hadis Nabi. Kita sebaiknya mengikuti jadwal imsak sebagai bentuk kedisiplinan diri tanpa melupakan hakikat hukum aslinya. Dengan memahami hal ini, ibadah puasa kita akan menjadi lebih sempurna dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Panduan Lengkap Ketentuan Puasa Lansia dan Orang Sakit Menahun

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.