Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang memuat perintah dan larangan. Ia juga berfungsi sebagai cermin sejarah bagi umat manusia. Salah satu narasi paling kuat adalah pertarungan antara Nabi Musa dan Firaun. Kisah ini menggambarkan benturan ekstrem antara kesombongan manusia dan kemahakuasaan Tuhan. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa kezaliman sehebat apa pun pasti akan runtuh.
Puncak Kesombongan Sang Penguasa
Firaun merupakan simbol tirani yang melampaui batas kemanusiaan. Ia tidak hanya menindas rakyatnya secara fisik dan ekonomi. Ia bahkan berani mengklaim kedudukan ketuhanan di muka bumi. Dalam catatan sejarah Al-Qur’an, Firaun menunjukkan arogansi yang luar biasa kepada pengikutnya.
Kutipan dalam Surah An-Nazi’at ayat 24 merekam klaim tersebut:
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
Pernyataan ini menunjukkan puncak degradasi moral seorang pemimpin. Firaun merasa memiliki kontrol penuh atas hidup dan mati seseorang. Ia memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil hanya karena sebuah mimpi. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan membutakan mata hatinya dari kebenaran yang nyata.
Dakwah Nabi Musa: Kelembutan Melawan Kekerasan
Allah SWT tidak membiarkan kezaliman merajalela tanpa peringatan. Dia mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Firaun. Menariknya, Allah memerintahkan mereka untuk berbicara dengan lemah lembut. Hal ini mengajarkan bahwa kebenaran harus tersampaikan dengan cara yang elegan.
Namun, Firaun justru membalas kelembutan tersebut dengan ancaman kekerasan. Ia menganggap mukjizat Nabi Musa sebagai sihir murahan. Firaun kemudian menantang Nabi Musa dalam sebuah pertandingan terbuka. Ia mengumpulkan penyihir terbaik dari seluruh pelosok negeri Mesir untuk menjatuhkan Musa.
Kemenangan Kebenaran di Tepi Laut Merah
Puncak drama sejarah ini terjadi saat pelarian Bani Israil dari Mesir. Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka hingga ke pinggir laut. Secara logika manusia, Nabi Musa dan pengikutnya sudah tidak memiliki jalan keluar. Di depan membentang laut luas, sementara di belakang pasukan bersenjata siap membantai.
Pada momen kritis inilah, Allah menunjukkan mukjizat-Nya yang agung. Laut Merah terbelah setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya atas perintah Allah. Jalan setapak yang kering muncul di tengah lautan untuk menyelamatkan orang-orang beriman. Kebenaran mulai menunjukkan kemenangannya secara fisik dan nyata.
Firaun yang keras kepala mencoba mengikuti jalur tersebut. Namun, air laut kembali menyatu saat pasukan zalim berada di tengahnya. Firaun tenggelam dalam kehinaan bersama seluruh kesombongannya. Sebelum ajalnya tiba, ia sempat menyatakan keimanan, namun Allah sudah menutup pintu taubat baginya.
Jasad Firaun Sebagai Pelajaran Generasi
Berbeda dengan kaum zalim lainnya, Allah menyelamatkan jasad Firaun. Hal ini bertujuan agar manusia masa depan bisa melihat bukti kehancuran penguasa yang sombong. Keberadaan mumi Firaun saat ini menjadi bukti otentik kebenaran firman Allah.
Kutipan Surah Yunus ayat 92 menegaskan hal ini:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu.”
Ayat tersebut membuktikan bahwa Allah menjaga bukti sejarah untuk peringatan manusia. Kekuasaan manusia memiliki batas yang sangat sempit. Sebaliknya, kebenaran Tuhan akan tetap berdiri tegak melampaui zaman dan peradaban.
Hikmah untuk Kehidupan Modern
Kisah kezaliman Firaun dan kemenangan kebenaran mengandung pesan moral yang sangat relevan. Pemimpin masa kini harus menjauhi sifat otoriter dan sombong. Kekuasaan adalah amanah yang harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan pencipta. Penindasan terhadap rakyat kecil hanya akan mengundang kehancuran bagi sang penguasa itu sendiri.
Kita juga belajar bahwa kemenangan sejati milik mereka yang teguh pada kebenaran. Meskipun jalan menuju kemenangan penuh dengan rintangan, hasil akhirnya selalu manis. Kebatilan mungkin tampak mendominasi untuk sementara waktu. Namun, seperti busa di lautan, kebatilan akan hilang tertelan oleh ombak keadilan.
Kesimpulan
Sejarah Firaun mengajarkan kita tentang kerapuhan kekuasaan tanpa moralitas. Al-Qur’an menyajikan kisah ini agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mari kita jadikan nilai-nilai keadilan dan keimanan sebagai landasan hidup. Kemenangan kebenaran adalah janji Tuhan yang tidak akan pernah diingkari.
Catatan Kebahasaan:
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
