Ruang publik digital saat ini sering menjadi medan konflik kata-kata. Banyak orang bebas berkomentar tanpa memikirkan dampak buruknya. Fenomena hoaks, fitnah, hingga perundungan siber merusak tatanan sosial kita. Padahal, Islam telah mengatur etika berkomunikasi dengan sangat detail. Salah satu panduan utama tersebut tertuang dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Ahzab.
Surah Al-Ahzab memberikan pelajaran berharga tentang cara mengelola lisan. Allah SWT menekankan pentingnya kejujuran dan ketepatan dalam berbicara. Prinsip ini menjadi pondasi dasar bagi setiap muslim dalam berinteraksi. Mari kita bedah lebih dalam bagaimana Al-Qur’an menuntun kita dalam berpendapat.
Prinsip Qaulan Sadida dalam Surah Al-Ahzab
Pondasi utama etika berbicara dalam Islam adalah prinsip qaulan sadida. Istilah ini muncul secara spesifik dalam Surah Al-Ahzab ayat 70. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (qaulan sadida).”
Kutipan tersebut memerintahkan umat manusia untuk selalu menjaga integritas lisan. Qaulan sadida tidak hanya berarti berkata benar secara faktual. Kata ini juga bermakna pembicaraan yang tepat sasaran, jujur, dan tidak berbelit-belit. Kita harus menyampaikan kebenaran dengan cara yang pantas dan objektif.
Dalam konteks ruang publik, qaulan sadida menuntut validasi data sebelum menyebarkan informasi. Kita dilarang keras menyebarkan berita yang masih samar kebenarannya. Media sosial sering kali menggoda kita untuk bereaksi cepat tanpa riset. Namun, Al-Ahzab mengingatkan kita untuk tetap tenang dan tetap berpegang pada fakta.
Hubungan Lisan dengan Kualitas Amal
Etika berbicara ternyata berdampak langsung pada kualitas hidup seseorang. Al-Qur’an menjelaskan korelasi ini pada ayat selanjutnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 71:
“Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
Ayat ini memberikan janji yang sangat luar biasa bagi orang jujur. Saat seseorang menjaga lisannya, Allah akan memperbaiki seluruh amal perbuatannya. Lisan yang baik menjadi cermin dari hati yang bersih. Sebaliknya, lisan yang buruk akan merusak amal-amal baik lainnya.
Pengampunan dosa juga menjadi imbalan bagi mereka yang menjaga etika berpendapat. Hal ini menunjukkan bahwa kesalahan dalam berbicara memiliki konsekuensi spiritual yang besar. Ruang publik bukan sekadar tempat bertukar ide. Ruang ini juga menjadi ladang pahala atau tumpukan dosa bagi kita.
Menghindari Fitnah di Era Digital
Media sosial memudahkan setiap orang untuk menjadi kritikus. Namun, kritik sering kali berubah menjadi hujatan atau fitnah. Surah Al-Ahzab memberikan peringatan keras mengenai hal ini. Allah melarang hamba-Nya menyakiti perasaan orang lain melalui perkataan.
Kita harus mampu membedakan antara opini kritis dan serangan personal. Opini kritis berfokus pada substansi masalah untuk mencari solusi. Serangan personal hanya bertujuan untuk menjatuhkan martabat lawan bicara. Islam menjunjung tinggi kehormatan manusia di atas segalanya.
Gunakanlah bahasa yang santun saat menyampaikan aspirasi di ruang publik. Hindari penggunaan kata-kata kasar yang dapat memicu kemarahan. Diskusi yang sehat membutuhkan kepala dingin dan hati yang lapang. Kita harus meniru cara Rasulullah SAW dalam berdialog dengan penuh kelembutan.
Dampak Sosial dari Kata-kata yang Baik
Ketika masyarakat menerapkan etika Al-Ahzab, harmoni sosial akan tercipta. Komunikasi yang jujur membangun kepercayaan antarindividu di ruang publik. Tanpa kepercayaan, demokrasi dan diskusi sosial akan runtuh. Kita memerlukan lebih banyak narasi positif untuk mendinginkan suasana politik yang panas.
Setiap kata yang kita ketik di kolom komentar memiliki energi. Energi positif akan melahirkan kedamaian dan solusi bagi bangsa. Sebaliknya, energi negatif hanya akan memperuncing perpecahan di tengah masyarakat. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai standar utama dalam berinteraksi di dunia maya.
Kesimpulan: Komitmen Menjaga Lisan
Menerapkan etika berpendapat dari Surah Al-Ahzab adalah sebuah keharusan. Kita harus berkomitmen untuk selalu berkata benar dan bertanggung jawab. Ruang publik harus menjadi tempat yang aman untuk semua orang. Dengan mengikuti panduan qaulan sadida, kita berkontribusi pada peradaban yang lebih beradab.
Ingatlah bahwa setiap huruf yang kita ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan sampai pendapat kita justru menjadi penghalang menuju surga-Nya. Mulailah dari diri sendiri untuk selalu bijak dalam berkomunikasi. Mari kita ciptakan ruang publik yang sehat, inspiratif, dan penuh dengan kebenaran.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
