Khazanah
Beranda » Berita » Menjaga Persatuan Ukhuwah: Tafsir Mendalam Ayat “Wa’tashimu Bi Hablillahi Jami’a”

Menjaga Persatuan Ukhuwah: Tafsir Mendalam Ayat “Wa’tashimu Bi Hablillahi Jami’a”

Dunia modern saat ini menghadapi tantangan perpecahan yang besar. Perbedaan pandangan politik seringkali merusak tatanan persaudaraan kita. Namun, Islam memberikan solusi abadi melalui Al-Qur’an. Allah memerintahkan umat manusia untuk selalu menjaga persatuan. Landasan utama ajaran ini terdapat dalam Surat Ali ‘Imran ayat 103.

Makna Ayat dan Kutipan Suci

Ayat ini menjadi pilar utama dalam membangun ukhuwah Islamiyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ “

Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Perintah ini sangat tegas dan jelas bagi kita. Allah meminta setiap mukmin untuk berpegang pada “Tali Allah”. Para ahli tafsir memiliki berbagai pandangan mengenai istilah tersebut. Namun, mayoritas ulama sepakat bahwa “Tali Allah” adalah Al-Qur’an dan syariat Islam.

Keadilan Bagi Pemimpin: Kupas Tuntas Tafsir Surah An-Nisa Ayat 58 tentang Amanah

Menyelami Tafsir “Hablillah”

Menjaga persatuan ukhuwah memerlukan pemahaman yang benar terhadap teks suci. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah melarang perpecahan dalam umat. Beliau menekankan pentingnya jamaah atau kebersamaan dalam beragama. Perpecahan hanya akan melemahkan kekuatan umat Islam secara global.

Rasulullah SAW juga sering mengingatkan pentingnya persatuan ini. Beliau mengibaratkan umat Islam seperti satu tubuh yang utuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya. Prinsip inilah yang mendasari kekuatan umat pada zaman keemasan Islam.

Belajar dari Sejarah Persatuan

Ayat ini turun bukan tanpa latar belakang yang kuat. Dahulu, suku Aus dan Khazraj di Madinah sering berperang. Mereka terjebak dalam dendam kesumat selama puluhan tahun. Namun, cahaya Islam datang membawa perdamaian bagi mereka.

Islam berhasil menyatukan hati yang sebelumnya saling membenci. Allah mengingatkan mereka akan nikmat persaudaraan dalam ayat tersebut. Tanpa hidayah Allah, manusia sulit bersatu di atas perbedaan. Sejarah ini membuktikan bahwa agama mampu menjadi perekat sosial yang paling efektif.

Tantangan Menjaga Persatuan Ukhuwah Saat Ini

Saat ini, media sosial sering memicu konflik antar sesama. Fitnah dan berita bohong tersebar dengan sangat cepat. Kondisi ini mengancam ukhuwah yang sudah kita bangun lama. Oleh karena itu, kita harus menerapkan nilai-nilai ayat 103 Ali ‘Imran.

Hubbul Wathan Minal Iman: Membedah Isyarat Al-Qur’an dan Perspektif Ulama Nusantara

Kita perlu mengedepankan tabayyun atau klarifikasi sebelum bertindak. Menjaga lisan dan jempol adalah bentuk menjaga persatuan ukhuwah. Jangan sampai perbedaan kecil merusak ikatan iman yang besar. Persatuan adalah kunci utama menuju kejayaan bangsa dan agama.

Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana cara kita mempraktikkan ayat ini secara nyata? Pertama, kita harus selalu memupuk rasa empati terhadap sesama. Kedua, utamakan dialog saat menghadapi perselisihan yang muncul. Ketiga, hindari sikap fanatisme kelompok yang berlebihan.

Setiap Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan kedamaian. Kita harus menjadi duta perdamaian di lingkungan masing-masing. Ingatlah bahwa perpecahan adalah sumber kegagalan dan kehancuran. Sebaliknya, persatuan akan mendatangkan rahmat dan keberkahan dari Allah.

Kesimpulan

Menjaga persatuan ukhuwah bukan sekadar teori dalam buku tafsir. Hal ini merupakan perintah langsung dari Allah Yang Maha Kuasa. Kita wajib berpegang teguh pada ajaran Islam secara kolektif. Jangan biarkan ego pribadi merobek tali persaudaraan kita.

Mari kita jadikan QS Ali ‘Imran ayat 103 sebagai pedoman hidup. Bangunlah jembatan komunikasi, bukan tembok pemisah di antara kita. Dengan bersatu, kita akan menjadi umat yang kuat dan disegani. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam ikatan persaudaraan yang tulus.

Islam dan Toleransi: Membedah Makna “Lakum Dinukum Waliyadin” dalam Tafsir Al-Jalalayn


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.