Masyarakat Indonesia mengenal akrab jargon Hubbul Wathan Minal Iman. Kalimat yang bermakna “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman” ini menjadi ruh perjuangan bangsa. Para ulama Nusantara berhasil mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas dengan semangat kebangsaan melalui Hubbul Wathan Minal Iman. Meskipun sering menjadi perdebatan dari sisi status hadis, substansi maknanya memiliki akar kuat dalam isyarat Al-Qur’an.
Para ulama Nusantara memandang bahwa mencintai tanah air bukan sekadar dorongan emosional. Hubbul Wathan Minal Iman Mereka menempatkan nasionalisme sebagai bagian dari manifestasi ketaatan kepada Allah SWT. Isyarat ini tersebar dalam berbagai ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hubungan manusia dengan tempat kelahirannya.
Isyarat Al-Qur’an tentang Cinta Tanah Air
Ulama Nusantara sering merujuk pada Surah Al-Qasas ayat 85 sebagai landasan teologis. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al-Qasas: 85).
Syeikh Ismail Haqqi dalam Tafsir Ruhul Bayan memberikan penjelasan menarik terkait ayat ini. Beliau mengaitkan kata “Ma’ad” atau tempat kembali dengan tanah air. Beliau menegaskan:
“Di dalam ayat ini terdapat suatu isyarat bahwa cinta tanah air sebagian dari iman.”
Rasulullah SAW sendiri menunjukkan teladan luar biasa mengenai kecintaan pada tanah kelahiran. Saat melakukan hijrah, Nabi Muhammad SAW sempat berhenti dan menatap Kota Makkah dengan penuh kerinduan. Nabi mengungkapkan betapa mulianya Makkah dan betapa cintanya beliau pada kota tersebut.
Ulama Nusantara memahami bahwa rasa rindu Nabi merupakan fitrah yang mendapat legitimasi agama. Mereka menyimpulkan bahwa Islam tidak melarang seseorang mencintai bangsanya. Justru, Islam mewajibkan umatnya menjaga kedaulatan tempat mereka berpijak dan beribadah.
Peran Ulama Nusantara dalam Menanamkan Nasionalisme
Tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari memiliki peran vital dalam merumuskan konsep ini di Indonesia. Beliau tidak memisahkan antara kewajiban membela agama dan membela negara. Baginya, keamanan negara merupakan prasyarat mutlak bagi tegaknya syariat Islam.
Tanpa tanah air yang merdeka, umat Islam akan kesulitan menjalankan ibadah dengan tenang. Ulama Nusantara mengadopsi kaidah fikih yang sangat relevan dalam konteks ini. Mereka meyakini bahwa menjaga tanah air adalah bagian dari Maqashid asy-Syariah (tujuan-tujuan syariat), khususnya dalam aspek menjaga jiwa dan agama.
KH Hasyim Asy’ari pernah menegaskan pentingnya persatuan nasional:
“Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.”
Kalimat ini membakar semangat para pejuang saat menghadapi penjajah. Hal ini membuktikan bahwa doktrin Hubbul Wathan mampu menjadi motor penggerak kemerdekaan yang efektif.
Relevansi Hubbul Wathan Minal Iman di Era Modern
Pada masa sekarang, konsep cinta tanah air harus bertransformasi menjadi aksi nyata dalam pembangunan. Ulama Nusantara menekankan bahwa mencintai negara berarti menjaga keutuhannya dari ancaman ideologi radikal. Masyarakat harus merawat keberagaman sebagai kekayaan bangsa yang Allah anugerahkan.
Menghargai simbol negara dan mematuhi hukum yang berlaku juga mencerminkan nilai Hubbul Wathan. Ulama Nusantara mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin (Ulul Amri) selama tidak memerintahkan kemaksiatan adalah kewajiban agama. Dengan demikian, seorang muslim yang baik secara otomatis akan menjadi warga negara yang patriotik.
Dalam pandangan teologi Nusantara, mencintai tanah air berarti kita mensyukuri nikmat tempat tinggal. Allah memberikan bumi pertiwi ini sebagai ladang amal bagi penduduknya. Merusak tanah air sama saja dengan mengkhianati amanah Tuhan yang sangat besar.
Kesimpulan
Konsep Hubbul Wathan bukan sekadar slogan politik atau jargon tanpa makna. Konsep ini memiliki fondasi kuat dalam isyarat Al-Qur’an dan tradisi intelektual ulama Nusantara. Melalui pemahaman yang benar, kita dapat menyatukan identitas sebagai hamba Allah sekaligus warga negara Indonesia.
Mari kita terus merawat rasa cinta ini dalam sanubari. Jadikan iman sebagai kompas dalam berbangsa dan jadikan nasionalisme sebagai jalan pengabdian. Dengan semangat Hubbul Wathan Minal Iman, kita menjaga martabat bangsa di mata dunia. Indonesia yang damai dan berdaulat adalah cita-cita luhur yang harus kita perjuangkan bersama selamanya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
