Ibadah
Beranda » Berita » Islam dan Toleransi: Membedah Makna “Lakum Dinukum Waliyadin” dalam Tafsir Al-Jalalayn

Islam dan Toleransi: Membedah Makna “Lakum Dinukum Waliyadin” dalam Tafsir Al-Jalalayn

Ilustrasi santri membaca Tafsir Jalalain dengan cahaya lembut di ruang belajar k-
Ilustrasi filosofis tentang kesungguhan belajar memahami tafsir Al-Qur’an melalui Jalalain, simbol kesatuan ilmu dan spiritualitas.

Isu toleransi beragama selalu menjadi topik hangat di tengah masyarakat plural. Umat Islam memiliki panduan utama dalam bersikap melalui Al-Qur’an. Salah satu ayat yang paling populer adalah Surah Al-Kafirun ayat 6. Ayat tersebut berbunyi: “Lakum dinukum waliyadin”. Banyak orang memaknai ayat ini sebagai simbol kebebasan beragama. Namun, bagaimana sebenarnya Tafsir Al-Jalalayn menjelaskan hal tersebut?

Konteks Sejarah Surah Al-Kafirun

Surah Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas tawaran kaum kafir Quraisy. Saat itu, tokoh-tokoh Quraisy mengajak Nabi Muhammad SAW berkompromi dalam ibadah. Mereka menawarkan ide pertukaran penyembahan tuhan secara bergantian. Kaum Quraisy bersedia menyembah Allah selama satu tahun. Sebagai syarat, Nabi Muhammad SAW harus menyembah berhala mereka pada tahun berikutnya.

Nabi Muhammad SAW menolak keras tawaran tidak logis tersebut. Allah SWT kemudian menurunkan Surah Al-Kafirun untuk menegaskan garis pemisah. Islam tidak mengenal kompromi dalam masalah akidah dan peribadatan. Ketegasan ini menjadi pondasi utama dalam membangun kerukunan tanpa mengorbankan keyakinan.

Penjelasan Makna dalam Tafsir Al-Jalalayn

Kitab Tafsir Al-Jalalayn merupakan karya monumental dua ulama besar. Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti menyusun tafsir ini secara ringkas. Terkait ayat keenam, Tafsir Al-Jalalayn memberikan penjelasan yang sangat padat.

Kutipan asli tafsir tersebut menyatakan:

Hubbul Wathan Minal Iman: Membedah Isyarat Al-Qur’an dan Perspektif Ulama Nusantara

“Untukmulah agama kalian, yaitu kemusyrikan, dan untukkulah agamaku, yaitu Islam.”

Tafsir ini menegaskan adanya batasan yang jelas (infishal). Frasa “Lakum dinukum” atau “Untukmu agamamu” merujuk pada kepercayaan kaum kafir. Mereka tetap pada jalan kemusyrikan dan menanggung segala konsekuensinya. Sebaliknya, frasa “Waliyadin” atau “Dan untukku agamaku” menekankan keteguhan tauhid. Nabi Muhammad SAW tetap setia pada ajaran Islam yang murni.

Konsep Toleransi Tanpa Sinkretisme

Tafsir Al-Jalalayn menunjukkan bahwa toleransi Islam bukan berarti penyatuan ajaran (sinkretisme). Islam menghargai keberadaan agama lain di ruang publik. Namun, Islam melarang umatnya mencampuradukkan ritual ibadah. Ayat ini mengajarkan cara hidup berdampingan secara damai tanpa harus saling mengakui kebenaran teologis.

Kalimat “Lakum dinukum waliyadin” mengandung pesan perdamaian yang kuat. Umat Islam tidak boleh memaksa orang lain masuk ke dalam agamanya. Sebaliknya, umat lain juga tidak boleh mengganggu kemurnian ibadah umat Islam. Inilah esensi moderasi beragama yang sesungguhnya.

Implementasi Toleransi di Masa Kini

Masyarakat modern seringkali salah kaprah dalam memaknai toleransi. Sebagian orang menganggap toleransi berarti mengikuti ritual agama lain. Padahal, Tafsir Al-Jalalayn menekankan pada aspek “pemisahan” yang saling menghormati. Kita bisa bekerja sama dalam urusan sosial, ekonomi, dan politik. Namun, dalam urusan sujud dan doa, setiap umat memiliki jalannya masing-masing.

Membangun Keluarga Sakinah: Bedah Tafsir Surah Ar-Rum Ayat 21 dalam Al-Mishbah

Penerapan ayat ini sangat relevan dalam menjaga stabilitas bangsa. Setiap warga negara bebas menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut. Islam memerintahkan umatnya untuk berbuat baik kepada siapa saja. Syaratnya, perbuatan baik tersebut tidak melanggar batas-batas syariat yang telah ada.

Kesimpulan

Memahami makna “Lakum dinukum waliyadin” melalui Tafsir Al-Jalalayn memberikan perspektif yang jernih. Ayat ini bukan sekadar slogan basa-basi di ruang publik. Ayat ini adalah manifestasi dari ketegasan prinsip yang bersanding dengan kedamaian sosial.

Umat Islam harus menjaga kemurnian akidah dengan tetap bersikap inklusif secara sosial. Toleransi tidak memerlukan pengorbanan keyakinan dasar. Sebaliknya, toleransi lahir dari rasa percaya diri atas kebenaran agama masing-masing. Mari kita terus merawat kerukunan dengan semangat Al-Qur’an yang moderat dan penuh rahmah.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.