Pernikahan bukan sekadar ikatan hukum antara dua insan manusia. Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan ibadah mulia yang bertujuan menciptakan ketenteraman hidup. Salah satu rujukan utama dalam memahami konsep ini adalah Surah Ar-Rum ayat 21. M. Quraish Shihab melalui Tafsir Al-Mishbah memberikan penjelasan mendalam tentang bagaimana pasangan dapat membangun keluarga sakinah yang kokoh.
Surah Ar-Rum ayat 21 berbunyi:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Kesetaraan Manusia dalam Pernikahan
Quraish Shihab mengawali penafsirannya dengan menyoroti kalimat min anfusikum. Kalimat ini memiliki arti bahwa pasangan hidup berasal dari jenis yang sama, yaitu sesama manusia. Allah tidak menciptakan pasangan manusia dari makhluk jenis lain. Hal ini menunjukkan adanya kesetaraan derajat antara suami dan istri di hadapan Allah SWT.
Penciptaan pasangan dari jenis yang sama bertujuan agar manusia merasakan kecenderungan alami. Kesamaan sifat dan kemanusiaan memudahkan proses adaptasi dalam rumah tangga. Suami dan istri memikul tanggung jawab yang seimbang untuk menciptakan keharmonisan setiap hari. Keduanya harus saling menghargai karena berasal dari sumber penciptaan yang satu.
Makna Sakinah: Ketenangan yang Menghujam
Tujuan utama pernikahan menurut ayat ini adalah litaskunu ilaiha. Kata sakinah berakar dari kata sakana yang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergerak. Quraish Shihab menjelaskan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang memiliki ketenangan batin. Pasangan suami istri tidak lagi merasa gelisah karena telah menemukan tempat berlabuh yang tepat.
Membangun keluarga sakinah memerlukan fondasi spiritual yang kuat. Ketenangan ini tidak hadir secara otomatis saat akad nikah selesai. Setiap pasangan harus mengusahakan ketenangan tersebut melalui komunikasi yang baik dan pengertian yang luas. Rumah tangga seharusnya menjadi surga kecil tempat setiap anggota keluarga mendapatkan perlindungan dan kedamaian batin.
Memahami Dinamika Mawaddah dan Rahmah
Allah menyisipkan dua pilar utama dalam hubungan suami istri, yaitu mawaddah dan rahmah. Quraish Shihab memberikan pemisahan yang jelas antara keduanya. Mawaddah merujuk pada kasih sayang yang terlihat pada aspek lahiriah. Biasanya, mawaddah mendominasi pada masa awal pernikahan saat daya tarik fisik masih sangat kuat.
Namun, manusia akan menua dan kekuatan fisik pasti akan memudar seiring berjalannya waktu. Di sinilah peran rahmah atau kasih sayang yang tulus dari lubuk hati terdalam. Rahmah merupakan anugerah Tuhan yang membuat suami tetap mencintai istrinya meski kecantikannya telah berkurang. Begitu pula istri tetap setia mendampingi suami dalam kondisi sakit maupun sulit. Kombinasi keduanya menjadi kunci utama dalam membangun keluarga sakinah yang abadi.
Refleksi bagi Kaum yang Berpikir
Bagian akhir ayat ini menegaskan bahwa fenomena cinta dan pernikahan merupakan tanda kekuasaan Allah. Hanya orang-orang yang mau menggunakan akalnya yang mampu menangkap pesan ini. Pernikahan bukan hanya soal pemenuhan hasrat biologis atau status sosial semata. Pernikahan adalah laboratorium bagi manusia untuk mempraktikkan kesabaran, pengorbanan, dan syukur.
Membangun keluarga sakinah menuntut kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi. Pasangan harus melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai pemicu konflik yang merusak. Dengan merenungkan ayat ini, suami dan istri akan menyadari bahwa Tuhan selalu terlibat dalam kebahagiaan mereka. Kesadaran ketuhanan ini akan membentengi rumah tangga dari badai ujian kehidupan yang datang silih berganti.
Kesimpulan
Tafsir Al-Mishbah mengajak kita memahami bahwa keluarga sakinah adalah proses perjalanan panjang. Kita memerlukan mawaddah sebagai penggerak awal dan rahmah sebagai pengikat abadi. Mari kita terapkan nilai-nilai Surah Ar-Rum ayat 21 untuk mewujudkan rumah tangga yang penuh berkah. Kebahagiaan sejati dalam keluarga hanya akan tercapai saat kita mengikuti tuntunan Sang Pencipta.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
