SURAU.CO – Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang istimewa, bukan semata karena kewajiban puasa di dalamnya, tetapi karena misi besar yang dibawanya: membentuk manusia bertakwa. Setiap menjelang Ramadhan, spanduk Tarhib Ramadhan terpasang di halaman masjid, pengajian digelar, jadwal imam dan penceramah disusun rapi. Semua itu penting. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlewat: sudahkah hati kita benar-benar siap menyambut Ramadhan, atau kita sekadar mengulang rutinitas tahunan tanpa makna?.
Allah Ta’ala menegaskan tujuan utama puasa dengan sangat jelas:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”¹
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan tujuan akhir, melainkan sarana menuju takwa. Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menekankan bahwa takwa adalah kesadaran hidup di bawah pengawasan Allah, yang tercermin dalam sikap jujur, adil, dan bertanggung jawab. Karena itu, Ramadhan sejatinya adalah proyek pembinaan akhlak, bukan sekadar peningkatan aktivitas ritual.
Tarhib Ramadhan: Tradisi yang Bermakna
Rasulullah ﷺ menyambut datangnya Ramadhan dengan memberi kabar gembira kepada para sahabat. Beliau bersabda:
> أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya.”²
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa menyambut Ramadhan dengan kesiapan ruhani adalah bagian dari sunnah Nabi. Oleh sebab itu, tradisi tarhib Ramadhan—baik melalui pengajian, tabligh akbar, maupun simbol keagamaan di ruang publik, bukan sekadar seremoni, selama ia berfungsi membangkitkan kesadaran iman dan dorongan amal saleh.
Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Pedoman Puasa menegaskan bahwa menyambut Ramadhan dengan persiapan batin adalah bagian dari adab beribadah. Menurutnya, ibadah puasa akan kehilangan makna jika dilakukan tanpa pemahaman tujuan dan hikmahnya. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi latihan pengendalian diri dan pendidikan moral.
Ramadhan dan Krisis Kesadaran Beragama
Di tengah kehidupan modern, Ramadhan kerap terjebak dalam keramaian simbolik. Pasar Ramadhan ramai, jadwal buka puasa bersama padat, media sosial dipenuhi konten religius. Namun, realitas sosial sering kali menunjukkan ironi: kejujuran masih langka, empati melemah, dan kezaliman kerap dianggap biasa.
Buya Hamka mengingatkan bahwa ibadah yang tidak membekas pada akhlak hanyalah ibadah jasmani. Dalam pandangannya, puasa yang benar akan melahirkan kepekaan sosial, merasakan lapar orang miskin dan menumbuhkan keberanian moral untuk berkata benar. Jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan perilaku, maka yang perlu dievaluasi bukan ajaran Islamnya, melainkan kesungguhan umat dalam menghayatinya.
Ramadhan datang bukan untuk memoles citra religius, tetapi untuk mengguncang kesadaran.
Menata Niat Sebelum Hilal Terlihat
Kunci keberhasilan Ramadhan terletak pada niat. Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”³
Hasbi Ash-Shiddieqy menafsirkan hadis ini sebagai penegasan bahwa puasa harus dilandasi kesadaran iman dan orientasi akhirat. Tanpa niat yang lurus, puasa hanya menjadi kebiasaan fisik yang miskin nilai ruhani.
Karena itu, menyambut Ramadhan seharusnya dimulai jauh sebelum hilal terlihat: dengan memperbaiki shalat, membersihkan hati dari dengki, dan meluruskan kembali orientasi hidup.
Masjid sebagai Pusat Kebangkitan Ramadhan
Spanduk Tarhib Ramadhan yang terpasang di halaman masjid mengingatkan kita pada peran strategis masjid. Masjid bukan sekadar tempat tarawih, tetapi pusat pembinaan umat.
Buya Hamka menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat cahaya akal dan cahaya iman, tempat lahirnya ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial.
Ramadhan yang ideal bukan hanya ditandai dengan penuhnya shaf shalat, tetapi juga dengan hidupnya majelis ilmu, kuatnya solidaritas sosial, dan tumbuhnya keberanian moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Menyambut, Bukan Sekadar Menunggu
Ada perbedaan mendasar antara menunggu Ramadhan dan menyambut Ramadhan. Menunggu bersifat pasif, sementara menyambut menuntut kesiapan dan kesungguhan. Menyambut Ramadhan berarti memaafkan sebelum diminta, memperbaiki diri sebelum ditegur, dan menghidupkan Al-Qur’an sebelum suara tarawih menggema.
Ramadhan adalah madrasah tahunan. Tetapi madrasah hanya bermakna bagi mereka yang datang sebagai murid, bukan sekadar pengunjung musiman.
Jika Ramadhan kembali berlalu tanpa perubahan, mungkin yang perlu kita koreksi bukan lamanya ibadah, tetapi kejujuran kita dalam menyambutnya. Sebab Ramadhan selalu datang membawa ampunan dan keberkahan. Tinggal kita yang menentukan: menyambutnya dengan kesungguhan, atau membiarkannya berlalu sebagai rutinitas kosong.
Catatan Kaki
¹ QS. Al-Baqarah: 183.
² HR. Ahmad.
³ HR. Bukhari dan Muslim.
⁴ Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid II.
⁵ Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Puasa, Bulan Bintang. (Penulis: Tengku Iskandar, M. Pd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
