Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim sepanjang hayat mereka. Namun, ilmu yang bermanfaat tidak hanya datang dari kecerdasan otak semata. Keberkahan ilmu sangat bergantung pada adab seorang murid terhadap gurunya. Salah satu rujukan terbaik mengenai etika ini tertuang dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Tafsir Ibn Katsir mengupas tuntas perjalanan penuh hikmah ini yang termaktub dalam Surah Al-Kahf.
Kerendahan Hati dalam Mencari Kebenaran
Kisah ini bermula saat Nabi Musa merasa bahwa dialah orang paling berilmu di muka bumi. Allah SWT kemudian menegur hal tersebut dan memerintahkan Musa untuk menemui hamba-Nya yang lebih berilmu. Meskipun berstatus sebagai Rasul pilihan, Nabi Musa menunjukkan ketawaduan yang luar biasa. Beliau rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan tambahan pengetahuan.
Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Musa tidak merasa sombong dengan kedudukannya. Beliau berkata kepada muridnya, Yusha’ bin Nun: “Aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” Semangat membara ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu harus memiliki tekad yang kuat. Anda tidak boleh menyerah hanya karena rintangan jarak atau waktu yang lama.
Syarat Utama: Kesabaran dan Kepatuhan
Ketika Nabi Musa akhirnya bertemu dengan Khidir, muncul sebuah dialog yang menjadi fondasi adab menuntut ilmu. Nabi Musa meminta izin untuk mengikuti Khidir agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Khidir memberikan syarat yang sangat berat bagi seorang murid yang kritis. Beliau berkata sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahf: 67-68).
Nabi Musa kemudian menjawab dengan penuh kesantunan: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”
Kutipan ini menegaskan bahwa kesabaran adalah kunci utama dalam belajar. Seorang murid tidak boleh terburu-buru menyimpulkan sesuatu sebelum guru menyelesaikan penjelasannya. Ibn Katsir menekankan bahwa kepatuhan kepada guru dalam hal kebaikan akan membuka pintu pemahaman yang tertutup.
Menghindari Protes Sebelum Waktunya
Dalam perjalanan tersebut, Nabi Khidir melakukan tiga tindakan yang tampak aneh di mata Nabi Musa. Khidir melubangi perahu, membunuh seorang anak muda, dan membangun dinding yang hampir roboh. Nabi Musa, dengan sifat manusianya, berkali-kali melontarkan protes karena melihat kejanggalan tersebut.
Setiap kali Musa bertanya, Khidir mengingatkan janji awal mereka. Adab yang harus kita petik adalah menahan diri dari banyak bertanya yang tidak perlu. Terkadang, seorang guru memiliki metode penyampaian yang unik atau menyimpan rahasia ilmu yang belum sampai pada nalar murid. Murid yang baik harus memberikan kepercayaan penuh kepada sang guru selama proses belajar berlangsung.
Hikmah dan Penutup Perjalanan
Pada akhir kisah, Khidir menjelaskan alasan di balik semua tindakan anehnya tersebut. Perahu yang ia lubangi bertujuan agar tidak disita oleh raja yang zalim. Anak muda yang ia bunuh adalah bentuk perlindungan bagi orang tuanya yang beriman. Sementara itu, dinding yang ia bangun menyimpan harta bagi anak yatim piatu.
Tafsir Ibn Katsir menggarisbawahi bahwa ilmu Allah sangatlah luas melampaui logika manusia yang terbatas. Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa seorang penuntut ilmu harus memiliki jiwa yang lapang. Anda harus menerima bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui.
Kesimpulan: Mengamalkan Adab Menuntut Ilmu
Belajar dari Nabi Musa, kita memahami bahwa adab menuntut ilmu meliputi niat yang tulus dan semangat pantang menyerah. Anda juga harus menjaga lisan serta menghormati setiap proses yang guru berikan. Tanpa adab yang baik, ilmu hanya akan menjadi beban pikiran tanpa memberikan ketenangan hati.
Mari kita terapkan etika para nabi ini dalam kehidupan sehari-hari. Hormatilah para guru, bersabarlah dalam kesulitan belajar, dan selalu jaga kerendahan hati. Dengan menjalankan adab tersebut, niscaya Allah SWT akan mengangkat derajat kita melalui ilmu yang berkah dan bermanfaat bagi sesama.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
