Khazanah
Beranda » Berita » Tafsir Al Misbah Quraish Shihab: Jembatan Wahyu dan Zaman

Tafsir Al Misbah Quraish Shihab: Jembatan Wahyu dan Zaman

tafsir al misbah-quraish shihab
tafsir al misbah quraish shihab

SURAU.CO. Tafsir Al Misbah karya M. Quraish Shihab hadir sebagai oase intelektual dalam dunia Islam. Karya monumental ini tidak sekadar menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga mengajak pembacanya berdialog dengan teks suci secara rasional, kontekstual, dan manusiawi. Al-Misbah, sebagaimana namanya—lampu penerang—berupaya menyinari jalan umat Islam agar memahami Al-Qur’an secara utuh, tidak terjebak pada literalitas sempit maupun tafsir ideologis.

Quraish Shihab menulis tafsir ini dengan kesadaran penuh bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia dan seluruh zaman. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Namun, petunjuk tidak akan berfungsi tanpa pemahaman. Di sinilah Tafsir Al-Misbah memainkan perannya.

Metodologi Tafsir Al Misbah

Berbeda dari banyak tafsir klasik yang menggunakan bahasa Arab teknis dan pendekatan hukum yang kaku, Quraish Shihab memilih pendekatan tahlili (analitis) dengan sentuhan kontekstual dan tematik.

Membangun Benteng Iman: Bedah Surah At-Tahrim Ayat 6 dalam Menjaga Keluarga

Setiap surah dalam Al-Misbah diawali dengan pengantar: nama surah, makna, jumlah ayat, sebab penamaan, dan konteks turunnya (asbāb al-nuzūl). Pendekatan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak turun di ruang hampa, melainkan berdialog dengan realitas sosial, budaya, dan psikologis manusia.

Prinsip ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an sendiri:

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya.” (QS. Shad: 29)

Tadabbur—merenung dan memahami secara mendalam—menjadi kata kunci utama dalam Tafsir Al-Misbah.

Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup, Bukan Sekadar Teks Hukum

Salah satu kekuatan utama Tafsir Al Misbah adalah keberanian Quraish Shihab menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman moral dan spiritual, bukan hanya kitab hukum. Ia berulang kali menegaskan bahwa pesan utama Al-Qur’an adalah keadilan, rahmat, dan kemanusiaan.

Mengambil Pelajaran Adab Menuntut Ilmu dari Perjalanan Nabi Musa dan Khidir

Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, Quraish Shihab tidak berhenti pada bunyi teks, tetapi menggali tujuan (maqāṣid) di baliknya. Ini penting di tengah kecenderungan sebagian kelompok yang menjadikan ayat sebagai alat pembenaran sikap keras dan eksklusif.

Al-Qur’an sendiri menegaskan misi rahmat tersebut:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Melalui Al-Misbah, ayat ini tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diterjemahkan dalam sikap beragama yang toleran, beradab, dan bertanggung jawab.

Menjaga Keseimbangan antara Akal dan Wahyu

Akal bukan penguasa wahyu, tetapi alat untuk memahami wahyu. Dalam Al-Misbah, ia sering mengutip pendapat ulama klasik seperti Al-Tabari, Al-Razi, dan Ibn Katsir, sekaligus mengaitkannya dengan pandangan ulama kontemporer dan temuan ilmu pengetahuan modern.

Berlaku Adil Terhadap Kerabat Sendiri: Ujian Moral Seorang Muslim

Pendekatan ini sejalan dengan spirit Al-Qur’an yang berulang kali mengajak manusia berpikir:

“Apakah mereka tidak memikirkan (Al-Qur’an)?” (QS. Muhammad: 24)

Dengan gaya ini, Al Misbah menjadi tafsir yang tidak mematikan nalar, tetapi justru menghidupkannya. Tafsir ini mengajarkan bahwa iman tidak bertentangan dengan rasionalitas, dan agama tidak alergi terhadap ilmu pengetahuan.

Relevansi Sosial dan Kebangsaan

Salah satu keunikan Tafsir Al Misbah adalah keberpihakannya pada realitas keindonesiaan. Quraish Shihab tidak segan mengaitkan pesan Al-Qur’an dengan isu-isu kebangsaan: pluralisme, keadilan sosial, relasi antarumat beragama, hingga etika kekuasaan.

Dalam menafsirkan ayat tentang keadilan, misalnya, ia menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi kehidupan bernegara, bukan sekadar tuntutan ritual. Ini selaras dengan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Melalui tafsir ini, Al-Qur’an tidak ditempatkan berseberangan dengan negara dan kemajemukan, tetapi justru menjadi sumber nilai untuk merawat keduanya.

Tafsir Al Misbah dan Tantangan Zaman

Di era media sosial, ketika ayat-ayat Al-Qur’an sering dipotong, dipelintir, dan dijadikan amunisi perdebatan, Tafsir Al-Misbah menawarkan ketenangan. Ia mengajak umat Islam untuk tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan makna wahyu.

Quraish Shihab berulang kali mengingatkan bahwa kesalahan memahami Al-Qur’an bukan terletak pada teksnya, melainkan pada cara membacanya. Pesan ini terasa kian relevan di tengah maraknya ekstremisme dan politisasi agama.

Tafsir Al Misbah bukan sekadar buku tafsir. Ia adalah proyek pencerahan. Dengan bahasa yang jernih, pendekatan yang seimbang, dan keberanian moral, Quraish Shihab berhasil menjadikan Al-Qur’an terasa dekat, membumi, dan relevan.

Di tengah kebisingan tafsir instan dan fatwa viral, Al-Misbah mengingatkan kita bahwa memahami wahyu membutuhkan kesabaran, keilmuan, dan kerendahan hati. ***


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.