Ramadan
Beranda » Berita » Persiapan Menyambut Ramadan

Persiapan Menyambut Ramadan

persiapan ramadan
persiapan ramadan bagi muslim

SURAU.CO. Persiapan Ramadan yang tidak kalah penting dengan Ramadan itu sendiri. Ia menuntut lebih dari sekadar pengetahuan kalender hijriah atau kesiapan logistik dapur. Ramadan adalah momentum perubahan, dan perubahan tidak pernah lahir dari kebiasaan yang berjalan begitu saja.

Pertanyaannya bukan kapan Ramadan tiba, melainkan sejauh apa seorang muslim telah menyiapkan diri untuk benar-benar hadir di dalamnya. Ramadan justru datang ketika manusia masih sibuk dengan urusan dunia yang tak pernah selesai. Di sinilah pentingnya persiapan—bukan ritual semata, melainkan kesiapan batin, akal, dan sikap sosial.

Persiapan Ramadan: Momentum Kesadaran

Al-Qur’an menegaskan bahwa puasa bukan tujuan, melainkan sarana pembentukan kesadaran moral:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Tujuan puasa adalah takwa—kesadaran batin yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Maka persiapan Ramadan seharusnya dimulai dari pertanyaan mendasar: takwa seperti apa yang ingin dibangun?. Tanpa persiapan, Ramadan berisiko berubah menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan daya transformasinya.

Menjaga Lisan dan Hati dalam Kitab Bahjatul Wasail: Seni Mengendalikan Diri dari Dosa

Persiapan Spiritual

Persiapan ramadan yang pertama adalah spiritual. Bukan dalam arti memperbanyak ibadah secara instan, melainkan membersihkan niat dan arah. Ramadan bukan panggung kompetisi kesalehan, tetapi ruang latihan kejujuran diri.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Taubat, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan meluruskan motivasi menjadi fondasi utama sebelum memasuki bulan suci.

Persiapan Mental

Puasa adalah latihan pengendalian diri yang paling konkret. Menahan lapar dan dahaga hanyalah permukaan. Intinya adalah disiplin—kemampuan mengatur keinginan dan menunda kepuasan.

Tuntunan Puasa dalam Kitab Bahjatul Wasail: Melatih Hati Menjadi Tunduk dan Sabar

Di sinilah persiapan mental menjadi krusial. Tanpa kesiapan ini, puasa mudah berubah menjadi sekadar perubahan jadwal makan. Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan ritual kosong:

“Allah tidak memerlukan (ibadah) dari kalian, tetapi Dia menghendaki agar kalian bertakwa.”
(makna substansial dari QS. Al-Hajj [22]: 37)

Menjelang Ramadan, seorang muslim perlu mulai membiasakan pengendalian diri: mengurangi amarah, menahan lisan, membatasi konsumsi berlebihan, dan melatih kesabaran.

Persiapan Intelektual

Salah satu ironi Ramadan modern adalah maraknya ritual tanpa pemahaman.

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ngopi, Ngaji, dan Ngendalikan Diri

Persiapan intelektual berarti menyiapkan diri untuk berdialog dengan Al-Qur’an. Membaca tafsir, memahami konteks ayat, dan mengaitkannya dengan realitas hidup menjadi bagian penting dari persiapan Ramadan.

Tanpa pemahaman, ibadah berisiko menjadi mekanis. Dengan pemahaman, Ramadan menjadi ruang refleksi dan koreksi diri.

Persiapan Sosial

Puasa tidak hanya membentuk hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga kepekaan horizontal dengan sesama. Al-Qur’an menegaskan dimensi sosial iman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un [107]: 1–3)

Persiapan Ramadan berarti memperbaiki relasi sosial: menyelesaikan konflik, meminta dan memberi maaf, serta menata ulang sikap terhadap orang lain. Ibadah yang tidak berdampak sosial patut dipertanyakan kualitasnya.

Di tengah kesenjangan ekonomi dan krisis empati, Ramadan seharusnya menjadi momen koreksi kolektif, bukan sekadar festival konsumsi berbaju religius.

Persiapan Praktis

Menariknya, menjelang Ramadan justru sering terjadi lonjakan konsumsi. Padahal puasa mengajarkan kesederhanaan. Persiapan praktis seharusnya berfokus pada pengaturan waktu, energi, dan prioritas—bukan penumpukan belanja.

Ramadan bukan tentang menu berbuka yang mewah, tetapi tentang kesadaran mengendalikan diri. Kesederhanaan adalah bentuk kesiapan yang paling jujur.

Ramadan bukan tamu biasa. Ia datang membawa peluang perubahan yang hanya singgah setahun sekali. Tanpa persiapan, Ramadan akan berlalu seperti bulan-bulan lainnya—menyisakan rutinitas, bukan transformasi.

Persiapan seorang muslim menjelang Ramadan adalah proses menyeluruh: membersihkan niat, melatih disiplin, memperdalam pemahaman, dan menajamkan empati sosial. Semua itu bermuara pada satu tujuan: membentuk manusia yang lebih sadar, lebih adil, dan lebih jujur. ***


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.