Ibadah
Beranda » Berita » Adab Berdoa Agar Dikabulkan: Menyelami Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 55-56

Adab Berdoa Agar Dikabulkan: Menyelami Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 55-56

Berdoa merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap muslim. Doa menjadi jembatan komunikasi antara hamba dengan Penciptanya. Namun, Islam mengatur etika atau adab tertentu agar doa tersebut mencapai derajat mustajab. Al-Qur’an memberikan panduan eksplisit mengenai hal ini. Salah satu rujukan utamanya adalah Surah Al-A’raf ayat 55-56. Ayat ini menjelaskan bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap saat memohon kepada Allah SWT.

Perintah Berdoa dengan Rendah Hati dan Lembut

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 55:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55).

Ayat ini menekankan dua poin utama dalam berinteraksi dengan Tuhan. Pertama adalah sifat tadarru’ atau rendah hati. Seseorang harus menyadari kehinaan dirinya di hadapan kemuliaan Allah. Saat berdoa, kita sebaiknya menanggalkan segala atribut kesombongan duniawi.

Kedua adalah khufyah atau suara yang lembut. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa berdoa dengan suara pelan menunjukkan keikhlasan. Hal ini juga menjauhkan diri dari sifat riya atau pamer. Suara yang tenang mencerminkan ketenangan hati dan kedekatan spiritual. Allah Maha Mendengar, sehingga kita tidak perlu berteriak saat memohon kepada-Nya.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Larangan Melampaui Batas dalam Berdoa

Bagian akhir ayat 55 memberikan peringatan keras. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (al-mu’tadin). Dalam konteks doa, melampaui batas memiliki banyak makna. Seseorang dianggap melampaui batas jika meminta hal-hal yang mustahil secara syariat. Misalnya, seseorang meminta agar ia menjadi nabi setelah Rasulullah SAW.

Selain itu, meminta sesuatu yang mengandung dosa juga termasuk pelanggaran. Meminta putusnya silaturahmi merupakan contoh doa yang melampaui batas. Penggunaan kata-kata yang terlalu bersajak secara berlebihan juga perlu kita hindari. Fokuslah pada ketulusan makna daripada sekadar keindahan rima yang kosong.

Menjaga Kedamaian di Muka Bumi

Setelah membahas adab secara personal, Allah melanjutkan panduan-Nya pada ayat 56:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56).

Allah melarang manusia melakukan kerusakan di muka bumi. Kerusakan ini mencakup aspek fisik maupun moral. Secara fisik, kita harus menjaga kelestarian alam lingkungan sekitar. Secara moral, kita harus menjauhi kemaksiatan dan kezaliman antar sesama manusia. Doa orang yang sering merusak tatanan bumi sulit mendapatkan jawaban.

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Kekuatan Rasa Takut dan Harapan

Ayat 56 juga memperkenalkan konsep khauf dan thama’Khauf berarti rasa takut akan azab dan ketidakterimaan amal. Perasaan ini muncul karena kesadaran akan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Sementara itu, thama’ berarti harapan besar akan rahmat dan pengabulan dari Allah.

Seorang mukmin harus menyeimbangkan kedua rasa ini saat berdoa. Harapan yang terlalu besar tanpa rasa takut bisa memicu rasa aman yang palsu. Sebaliknya, rasa takut yang berlebihan tanpa harapan bisa menyebabkan keputusasaan. Keseimbangan keduanya membuat jiwa tetap rendah hati namun tetap optimis. Kita yakin Allah Maha Pengasih, namun kita tetap waspada terhadap kelalaian diri.

Janji Rahmat bagi Orang Berbuat Baik

Allah menutup ayat ke-56 dengan kabar gembira yang sangat indah. Rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin). Kalimat ini menegaskan hubungan antara doa dan perilaku nyata. Kita tidak bisa hanya mengandalkan lisan untuk memohon keajaiban.

Kita perlu mengiringi doa dengan tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi seorang muhsin berarti melakukan segala sesuatu dengan standar terbaik. Ketika seseorang konsisten berbuat baik, hatinya menjadi lebih bersih. Hati yang bersih mempermudah doa menembus pintu langit.

Kesimpulan: Mengintegrasikan Adab dalam Kehidupan

Menerapkan adab berdoa agar dikabulkan bukan sekadar masalah teknis suara. Ini adalah perjalanan hati untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Kita belajar untuk bersuara lembut, rendah hati, dan penuh harap. Kita juga belajar untuk menjauhi kerusakan serta menjaga hubungan baik dengan sesama.

Memahami Hak dan Kewajiban Suami Istri: Perspektif Tafsir Ahkam

Melalui tafsir Surah Al-A’raf ayat 55-56, kita memahami bahwa doa adalah ibadah utuh. Ibadah ini melibatkan lisan yang santun, hati yang tulus, dan amal yang nyata. Mari kita perbaiki cara kita meminta kepada Allah mulai hari ini. Dengan adab yang benar, niscaya rahmat Allah akan selalu menyertai setiap langkah hidup kita.

Allah SWT sangat mencintai hamba yang bergantung sepenuhnya hanya kepada-Nya. Mari jadikan doa sebagai sarana transformasi diri menuju pribadi yang lebih bertakwa. Jangan pernah berputus asa, karena rahmat-Nya selalu dekat bagi mereka yang senantiasa berbuat kebajikan.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.