Kalam
Beranda » Berita » Nabi Muhammad Kecil Dalam Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad Kecil Dalam Sirah Nabawiyah

nabi muhammad kecil
nabi muhamamd kecil dalam sirah nabawiyah

SURAU.CO.  Dalam Sirah Nabawiyah, masa kecil Nabi Muhammad SAW justru menyimpan fondasi penting bagi lahirnya seorang pembaharu peradaban. Ia tumbuh bukan dalam kemewahan, melainkan dalam kesunyian, kehilangan, dan pengasuhan yang berpindah-pindah.

Dari sanalah kepekaan sosial dan kekuatan spiritual Nabi terbentuk. Masa kecil Nabi bukan kisah romantik tentang istana atau keistimewaan duniawi.

Lahir dalam Bayang-Bayang Kehilangan

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada tahun Gajah, sekitar 570 M. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum beliau lahir. Ibunya, Aminah binti Wahb, mengasuhnya dalam kasih sayang, namun hanya sampai usia enam tahun. Setelah itu, Aminah wafat dalam perjalanan pulang dari Madinah.

Al-Qur’an merekam fase ini dengan nada yang tenang namun penuh makna:

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”
(QS. Ad-Duha [93]: 6)

Berlaku Adil Terhadap Kerabat Sendiri: Ujian Moral Seorang Muslim

Ayat ini bukan sekadar penghiburan personal, tetapi pernyataan teologis bahwa Allah sendiri yang mengambil alih perlindungan Nabi sejak kecil. Status yatim yang dialami Nabi bukan kelemahan, melainkan ruang pembentukan empati yang mendalam terhadap kaum lemah.

Masa Pengasuhan Nabi Muhammad Kecil

Sesuai tradisi Quraisy, Nabi Muhammad kecil disusukan dan diasuh oleh Halimah as-Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’ad. Lingkungan padang pasir yang keras membentuk fisik yang kuat, bahasa Arab yang fasih, dan karakter mandiri.

Di sinilah Nabi belajar hidup sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota Makkah. Kehidupan Badui yang jujur dan apa adanya memperkenalkan nilai keikhlasan dan ketahanan hidup. Halimah sendiri meriwayatkan bahwa kehadiran Muhammad kecil membawa keberkahan bagi keluarganya—ternak menjadi subur, rezeki bertambah.

Setelah ibunya wafat, Nabi diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, pemuka Quraisy yang disegani. Namun perlindungan ini hanya berlangsung singkat. Abdul Muthalib wafat ketika Nabi berusia delapan tahun. Kepemimpinan keluarga kemudian beralih kepada pamannya, Abu Thalib, sosok yang kelak memainkan peran krusial dalam melindungi Nabi dari tekanan Quraisy.

Abu Thalib bukan orang kaya. Nabi tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, ikut menggembala kambing, dan membantu pamannya berdagang. Dalam kesederhanaan inilah Nabi belajar tanggung jawab dan kerja keras. Kesabaran, kepemimpinan, dan perhatian terhadap makhluk hidup terasah dalam pekerjaan yang sunyi dan jauh dari sorotan.

Detoks Digital dengan Tadabbur: Solusi Ampuh Menjernihkan Pikiran Lelah

Pembentukan Akhlak Sejak Dini

Satu hal yang konsisten dalam riwayat masa kecil Nabi adalah reputasi akhlaknya. Sejak muda, beliau dikenal jujur, dapat dipercaya, dan tidak pernah terlibat dalam praktik jahiliah yang lazim di Makkah, seperti mabuk-mabukan atau penyembahan berhala.

Al-Qur’an menegaskan karakter ini:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam [68]: 4)

Akhlak tidak muncul secara instan. Ia adalah hasil pembiasaan panjang dalam lingkungan yang keras namun jujur. Namun masa kecil Nabi menunjukkan bahwa kesunyian bukanlah kekosongan. Justru dari sunyi itulah lahir kepekaan batin.

Nabi kecil tidak tumbuh dengan kemewahan, tetapi dengan perhatian Allah yang tak kasatmata. Al-Qur’an kembali menegaskan:

Seni Menenangkan Hati: Berdamai dengan Proses

“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”
(QS. Ad-Duha [93]: 7)

Kebingungan di sini bukan kekurangan, melainkan fase pencarian yang manusiawi.

Di tengah dunia yang menilai kesuksesan dari privilese sejak lahir, kisah masa kecil Nabi Muhammad menghadirkan kritik halus. Kepemimpinan moral tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari pengalaman hidup yang jujur.

Sirah Nabawiyah mengajarkan bahwa empati sosial tidak bisa diajarkan di ruang kelas semata. Ia lahir dari perjumpaan langsung dengan penderitaan dan keterbatasan. Nabi Muhammad memahami kaum lemah bukan dari teori, tetapi dari pengalaman hidup sebagai yatim dan pekerja kecil.

Masa kecil Nabi Muhammad SAW adalah fase sunyi yang menentukan. Dari kehilangan, kesederhanaan, dan kerja keras, lahir seorang rasul yang kelak mengubah arah sejarah. Pada diri Nabi Muhammad, masa kecil bukanlah catatan kaki sejarah, melainkan fondasi risalah. ***


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.