Shalat merupakan tiang agama yang sangat kokoh bagi setiap Muslim. Al-Quran memberikan penekanan luar biasa mengenai ibadah ini melalui berbagai ayat. Salah satu sumber rujukan terpercaya untuk memahami maknanya adalah Tafsir Al-Wajiz karya Syaikh Wahbah az-Zuhaili. Beliau mengupas tuntas rahasia spiritual di balik perintah shalat, khususnya dalam Surah Al-Baqarah. Artikel ini akan membahas hikmah tersebut secara mendalam untuk memperkuat iman kita.
Shalat sebagai Identitas Utama Mukmin
Pada awal Surah Al-Baqarah, Allah langsung menyebutkan shalat sebagai kriteria orang bertaqwa. Hal ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas fisik semata. Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa shalat mencerminkan pengakuan jujur seorang hamba kepada Penciptanya.
Kutipan Surah Al-Baqarah ayat 3 menyebutkan:
“الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ”
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Dalam Tafsir Al-Wajiz, penulis menekankan kata “mendirikan” (yuqiimuuna). Makna kata ini melampaui sekadar melakukan gerakan shalat. Mukmin harus melaksanakan shalat secara sempurna, tepat waktu, dan penuh kekhusyukan. Shalat yang benar akan membentuk karakter manusia yang disiplin dan jujur.
Menemukan Kekuatan Melalui Sabar dan Shalat
Kehidupan manusia sering kali penuh dengan cobaan dan kesulitan hidup. Allah memberikan solusi nyata melalui Surah Al-Baqarah ayat 45. Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk mencari pertolongan melalui jalan shalat.
Kutipan Surah Al-Baqarah ayat 45 berbunyi:
“وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ”
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan hikmah perintah shalat Al-Baqarah ini dengan sangat indah. Beliau memandang shalat sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya. Saat seseorang bersujud, ia melepaskan beban dunia dan meraih kekuatan spiritual. Namun, hanya orang-orang khusyuk yang mampu merasakan kenikmatan ini. Shalat membantu seseorang mengendalikan emosi dan tetap tenang dalam badai kehidupan.
Menjaga Keseimbangan Hidup dengan Shalat Wustha
Allah juga memerintahkan umat Islam untuk menjaga seluruh shalat, terutama shalat wustha. Hal ini tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 238. Penjagaan shalat ini bertujuan agar manusia tidak lalai oleh urusan duniawi yang menyibukkan.
Kutipan Surah Al-Baqarah ayat 238 menyatakan:
“حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ”
Peliharalah semua salat dan salat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.
Tafsir Al-Wajiz menggarisbawahi bahwa shalat wustha (sering ditafsirkan sebagai Ashar) berada di waktu sibuk. Allah memerintahkan kita berhenti sejenak dari aktivitas kerja untuk menghadap-Nya. Hikmahnya adalah agar manusia menyadari bahwa Allah lebih besar dari segala urusan bisnis atau pekerjaan. Kedisiplinan ini menjaga kesehatan mental dan spiritual secara seimbang sepanjang hari.
Hikmah Sosial dan Persatuan Umat
Shalat tidak hanya membawa manfaat bagi individu secara personal. Perintah shalat dalam Al-Baqarah juga mengandung hikmah sosial yang sangat kuat. Ayat 43 memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan shalat secara berjamaah.
Kutipan Surah Al-Baqarah ayat 43 menyebutkan:
“وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ”
Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyoroti frasa “rukuklah bersama orang yang rukuk”. Ini merupakan anjuran kuat untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Shalat berjamaah menghapuskan perbedaan kasta, harta, dan jabatan dalam masyarakat. Semua orang berdiri sejajar menghadap kiblat yang sama. Ibadah ini memupuk rasa persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim.
Shalat sebagai Benteng dari Perbuatan Buruk
Secara esensial, shalat berfungsi sebagai pembersih jiwa dari noda dosa. Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Wahbah menjelaskan bahwa shalat yang benar pasti membuahkan akhlak mulia. Orang yang rajin shalat akan merasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Perasaan ini mencegah seseorang untuk berbuat curang atau menyakiti orang lain.
Hikmah perintah shalat Al-Baqarah menunjukkan bahwa ibadah ini adalah nutrisi bagi ruhani. Tanpa shalat, jiwa manusia akan kering dan mudah terseret arus negatif. Dengan menjaga shalat, seorang hamba memperoleh cahaya petunjuk dalam setiap langkah kakinya.
Kesimpulan
Berdasarkan paparan Tafsir Al-Wajiz, hikmah shalat mencakup aspek spiritual, mental, dan sosial. Surah Al-Baqarah mengajarkan kita bahwa shalat adalah kunci keberuntungan dan sumber kekuatan. Mari kita perbaiki kualitas shalat kita agar mendapatkan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan pokok bagi setiap jiwa yang merindukan kedamaian.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
