Cinta merupakan fondasi paling mendasar dalam menjalani kehidupan beragama bagi setiap Muslim. Tanpa rasa cinta, ibadah hanya akan menjadi rutinitas fisik yang hampa tanpa ruh spiritualitas. Al-Qur’an menggambarkan hubungan kasih sayang yang luar biasa antara Pencipta dan makhluk-Nya melalui sebuah frasa yang sangat indah. Frase tersebut adalah “Yuhibbum wa Yuhibbunah” yang berarti “Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”. Kalimat ini termaktub dalam Surah Al-Ma’idah ayat 54 sebagai standar tertinggi keimanan seorang hamba.
Imam Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya, Ma’alimut Tanzil, memberikan penjelasan yang sangat menyentuh hati mengenai ayat tersebut. Beliau membedah bagaimana cinta antara Allah dan hamba-Nya bekerja dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Artikel ini akan mengupas tuntas makna cinta tersebut agar kita bisa meraih kedekatan yang hakiki dengan Allah SWT.
Hakikat Cinta Allah kepada Hamba (Yuhibbum)
Banyak ulama bertanya-tanya, bagaimana mungkin Allah yang Maha Kaya mencintai hamba-Nya yang penuh dengan kelemahan? Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya bukan berarti Allah memiliki perasaan emosional layaknya manusia. Cinta Allah adalah bentuk kehendak-Nya untuk memberikan kemuliaan, perlindungan, dan taufiq kepada hamba yang Dia pilih.
Dalam Tafsir Al-Baghawi, makna “Yuhibbum” (Allah mencintai mereka) merujuk pada pemberian ampunan dan pujian dari Allah. Allah memberikan petunjuk (hidayah) sehingga hamba tersebut mampu melakukan amal saleh secara konsisten. Allah juga menjauhkan hamba tersebut dari perbuatan maksiat yang dapat membinasakan jiwanya. Dengan kata lain, cinta Allah adalah fasilitas spiritual agar manusia tetap berada di jalan kebenaran.
Menyelami Cinta Hamba kepada Allah (Yuhibbunah)
Setelah Allah memberikan cinta-Nya, maka hamba tersebut akan merespons dengan cinta yang tulus atau “Yuhibbunah”. Al-Baghawi menekankan bahwa cinta seorang hamba kepada Allah bukanlah sekadar ucapan di lisan saja. Cinta ini merupakan kecenderungan hati yang sangat kuat untuk selalu taat dan merasa tenang saat mengingat-Nya.
Cinta hamba kepada Allah muncul karena kesadaran akan besarnya nikmat yang telah mereka terima. Orang yang mencintai Allah akan memprioritaskan keinginan Allah di atas keinginan pribadinya. Mereka merasakan kelezatan dalam melakukan ketaatan dan merasa pedih saat melakukan pelanggaran terhadap syariat. Inilah puncak kebahagiaan bagi seorang mukmin sejati dalam kehidupan dunia.
Karakteristik Kaum yang Dicintai Allah
Dalam konteks Surah Al-Ma’idah ayat 54, Allah menyebutkan ciri-ciri kelompok yang menyandang predikat “Yuhibbum wa Yuhibbunah”. Imam Al-Baghawi menguraikan beberapa poin penting mengenai karakter mereka:
-
Bersikap Rendah Hati kepada Sesama Mukmin: Mereka menunjukkan kasih sayang, kelembutan, dan rasa hormat kepada saudara seiman.
-
Bersikap Tegas terhadap Orang Kafir: Tegas di sini berarti memiliki prinsip yang kuat dan tidak goyah dalam mempertahankan akidah.
-
Berjihad di Jalan Allah: Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan harta untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
-
Tidak Takut Celaan: Mereka tetap teguh menjalankan syariat meskipun banyak orang mencaci atau menghina tindakan mereka tersebut.
Al-Baghawi menegaskan bahwa sifat-sifat ini merupakan bukti nyata dari adanya cinta yang tulus di dalam hati. Cinta sejati selalu membuahkan aksi nyata yang bermanfaat bagi agama dan lingkungan sekitar.
Relevansi Tafsir Al-Baghawi di Masa Kini
Membaca kembali Tafsir Al-Baghawi tentang cinta kepada Allah memberikan perspektif segar di tengah modernitas yang materialistik. Saat ini, banyak orang mencari kebahagiaan melalui materi, namun mereka justru merasa hampa dan mengalami kekosongan jiwa. Al-Baghawi mengingatkan kita bahwa hanya dengan mencintai Allah, hati manusia akan menemukan kedamaian yang bersifat abadi.
Cinta kepada Allah juga menjadi benteng pertahanan dari godaan ideologi yang merusak moralitas bangsa. Dengan mencintai Allah, seseorang akan memiliki kontrol diri yang sangat kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Kita harus menanamkan benih cinta ini sejak dini kepada generasi muda agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Kesimpulan
Makna ayat “Yuhibbum wa Yuhibbunah” dalam Tafsir Al-Baghawi mengajarkan kita tentang hubungan timbal balik yang sangat harmonis. Allah memulai cinta-Nya dengan memberikan rahmat, dan hamba menyambutnya dengan ketaatan yang penuh dengan rasa syukur. Mari kita berusaha menjadi bagian dari kaum yang Allah cintai dengan cara memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak kita setiap hari. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah agar kita mampu mencintai-Nya dengan sepenuh jiwa dan raga.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
