Fiqih
Beranda » Berita » Makna Istiqomah: Penjelasan Mendalam Ayat “Fastaqim Kama Umirta” Menurut Ulama Salaf

Makna Istiqomah: Penjelasan Mendalam Ayat “Fastaqim Kama Umirta” Menurut Ulama Salaf

Istiqomah merupakan pilar utama dalam menjalankan agama Islam. Banyak Muslim mendambakan keteguhan hati dalam beribadah. Namun, mempertahankan konsistensi bukanlah perkara mudah. Al-Qur’an memberikan panduan jelas mengenai hal ini melalui Surah Hud ayat 112. Ayat tersebut memuat perintah Allah yang sangat tegas kepada Nabi Muhammad dan umatnya.

Memahami Perintah Istiqomah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ”

Artinya: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Ayat ini mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa Surah Hud membuatnya beruban. Hal ini karena beratnya beban perintah istiqomah yang terkandung di dalamnya. Beliau menyadari tanggung jawab besar untuk menjaga umat agar tetap di jalur yang lurus.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Penjelasan Ulama Salaf tentang Istiqomah

Para ulama salaf memberikan definisi yang kaya mengenai istiqomah. Mereka tidak hanya melihatnya sebagai rutinitas ibadah. Istiqomah mencakup aspek lahiriah dan batiniah seseorang.

1. Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas)
Sahabat Nabi yang mulia ini menjelaskan makna ayat tersebut. Beliau menyatakan bahwa tidak ada ayat yang lebih berat bagi Rasulullah selain ayat ini. Menurut Ibnu Abbas, istiqomah berarti melaksanakan kewajiban dengan penuh ketaatan. Seseorang harus tetap teguh menjalankan perintah Allah tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri.

2. Sufyan al-Thawri
Ulama besar ini menekankan pentingnya niat. Beliau menjelaskan bahwa istiqomah adalah menetapi amal saleh di atas ilmu. Seseorang harus memahami dasar setiap perbuatannya. Tanpa ilmu, seseorang mungkin akan terjatuh pada kesia-siaan meskipun ia merasa telah berbuat baik.

3. Ibn Rajab al-Hanbali
Dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, beliau memberikan penjelasan rinci. Beliau menulis:

“Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah mencakup pelaksanaan semua ketaatan baik lahir maupun batin dan meninggalkan semua larangan.”

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Menjaga Batasan: Jangan Melampaui Batas

Ayat “Fastaqim Kama Umirta” diikuti dengan larangan “Wa la tathghaw”. Artinya, kita dilarang melampaui batas dalam beragama. Ulama salaf mengingatkan bahwa sikap ekstrem (ghuluw) justru merusak hakikat istiqomah.

Islam menghendaki umatnya berada di jalan tengah. Kita tidak boleh meremehkan syariat. Di sisi lain, kita juga tidak boleh berlebihan hingga memberatkan diri sendiri secara tidak syar’i. Istiqomah yang benar adalah mengikuti sunnah Rasulullah dengan tepat.

Cara Mengamalkan Istiqomah dalam Keseharian

Bagaimana kita menerapkan ajaran para salaf ini? Berikut adalah beberapa langkah praktis:

  • Memperbaiki Niat: Pastikan setiap amal hanya tertuju kepada Allah.

  • Melakukan Ibadah Secara Rutin: Rasulullah menyukai amal yang kontinu meskipun sedikit.

    Memahami Hak dan Kewajiban Suami Istri: Perspektif Tafsir Ahkam

  • Mencari Lingkungan Baik: Teman yang saleh akan membantu kita tetap teguh.

  • Terus Menuntut Ilmu: Ilmu adalah cahaya yang menjaga kita dari kesesatan.

  • Banyak Berdoa: Mintalah keteguhan hati kepada Allah, Sang Pemilik Hati.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah juga memberikan catatan penting. Beliau menyebutkan bahwa istiqomah berkaitan erat dengan lisan dan hati. Jika hati telah istiqomah mengenal Allah, maka anggota tubuh lain akan mengikutinya. Lisan yang terjaga mencerminkan hati yang teguh di atas tauhid.

Penutup

Makna istiqomah fastaqim kama umirta adalah panggilan untuk setia pada syariat. Kita harus berupaya konsisten sesuai perintah Allah, bukan sesuai selera pribadi. Para ulama salaf telah mewariskan pemahaman yang lurus bagi kita. Dengan memahami tafsir mereka, kita dapat meniti jalan menuju rida-Nya dengan lebih mantap. Semoga Allah senantiasa membimbing kita agar tetap istiqomah hingga akhir hayat.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.