Dalam kehidupan sosial, lisan memiliki peran yang sangat krusial bagi setiap individu. Kata-kata manusia dapat membangun persaudaraan yang erat atau justru menghancurkan tatanan masyarakat secara permanen. Salah satu penyakit lisan yang paling merusak hubungan antarmanusia adalah perilaku ghibah atau membicarakan aib orang lain.
Al-Qur’an memberikan peringatan keras mengenai etika berkomunikasi, terutama dalam Surah Al-Hujurat ayat 12. Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam karya monumentalnya, Tafsir Al-Maraghi, memberikan penjelasan mendalam tentang ayat tersebut. Beliau menekankan bahwa menjaga lisan merupakan bagian utama dari kesempurnaan iman seorang Muslim.
Makna Larangan dalam Surah Al-Hujurat Ayat 12
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Dalam tafsirnya, Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat ini mengandung tiga larangan utama yang saling berkaitan. Pertama adalah larangan berprasangka buruk (su’uzhan), kedua adalah larangan mencari-cari kesalahan (tajassus), dan ketiga adalah larangan ghibah. Ketiga perilaku ini merupakan akar dari perpecahan di tengah masyarakat.
Mengapa Ghibah Sangat Berbahaya?
Menurut Tafsir Maraghi, ghibah bukan sekadar ucapan biasa yang keluar dari mulut. Ghibah mencerminkan kondisi hati yang kotor dan penuh dengan penyakit iri hati atau dengki. Al-Maraghi menegaskan bahwa orang yang melakukan ghibah sebenarnya sedang meruntuhkan kehormatan saudaranya sendiri di depan umum.
Dampak dari bahaya lisan ini sangatlah luas. Ghibah dapat memicu permusuhan yang berkepanjangan antar keluarga atau sahabat. Selain itu, perilaku menggunjing akan menghilangkan rasa saling percaya dalam komunitas sosial. Ketika kepercayaan hilang, maka stabilitas dan keharmonisan sebuah bangsa juga akan terancam runtuh secara perlahan.
Analogi Memakan Daging Saudara Sendiri
Salah satu poin paling tajam dalam Tafsir Maraghi adalah penjelasan mengenai perumpamaan memakan daging saudara yang sudah mati. Syekh Al-Maraghi menjelaskan bahwa Allah menggunakan perumpamaan ini untuk menimbulkan rasa mual dan jijik pada jiwa manusia.
Membicarakan aib orang lain sama buruknya dengan memakan bangkai manusia secara langsung. Al-Maraghi menekankan bahwa sebagaimana manusia merasa jijik terhadap bangkai, mereka seharusnya lebih jijik terhadap perbuatan ghibah. Analogi ini bertujuan agar setiap orang beriman merasa takut dan segera menjauhi lisan yang beracun.
Cara Menghindari Bahaya Lisan Menurut Perspektif Tafsir
Menghindari ghibah memerlukan latihan spiritual yang konsisten dan kesadaran diri yang tinggi setiap hari. Al-Maraghi menyarankan agar umat Islam senantiasa menyibukkan diri dengan mengevaluasi kekurangan pribadi daripada mencari kesalahan orang lain. Fokus pada perbaikan diri sendiri merupakan kunci utama dalam menjaga lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat.
Selain itu, lingkungan pergaulan juga memegang peranan penting dalam membentuk pola komunikasi kita. Jika kita berada dalam majelis yang mulai membicarakan aib orang, sebaiknya kita segera mengalihkan pembicaraan. Kita juga bisa meninggalkan tempat tersebut jika peringatan kita tidak mereka hiraukan sama sekali.
Menjaga Ukhuwah dengan Lisan yang Baik
Menjaga lisan adalah fondasi utama untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim. Surah Al-Hujurat ayat 12 merupakan panduan etis agar manusia hidup dengan penuh kedamaian dan rasa hormat. Tafsir Al-Maraghi mengingatkan kita bahwa setiap ucapan akan mendapatkan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT kelak.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari bahaya lisan. Gunakanlah kata-kata untuk menyebarkan kebaikan, kedamaian, serta motivasi positif bagi sesama manusia. Dengan menjauhi ghibah, kita tidak hanya menjaga kehormatan orang lain, tetapi juga sedang menjaga kemurnian hati kita sendiri.
Tafsir Al-Maraghi memberikan kita pelajaran berharga bahwa integritas seorang Mukmin tercermin dari cara dia berbicara. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai standar utama dalam bertutur kata agar selamat di dunia maupun di akhirat. Kesadaran akan bahaya lisan dan ghibah harus selalu ada dalam setiap napas kehidupan kita.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
