Fiqih
Beranda » Berita » Mendalami Konsep Syukur dalam Al-Qur’an: Analisis Makna “La’in Syakartum” dalam Tafsir Al-Mishbah

Mendalami Konsep Syukur dalam Al-Qur’an: Analisis Makna “La’in Syakartum” dalam Tafsir Al-Mishbah

Banyak orang menganggap syukur hanya sebatas ucapan “Alhamdulillah” setelah menerima rezeki. Namun, Al-Qur’an menawarkan kedalaman makna yang jauh melampaui sekadar kata-kata. Salah satu rujukan penting untuk memahami hal ini adalah karya monumental M. Quraish Shihab, yaitu Tafsir Al-Mishbah. Beliau membedah secara filosofis dan praktis bagaimana seorang hamba seharusnya menyikapi nikmat Tuhan.

Intisari Surah Ibrahim Ayat 7

Pusat pembahasan syukur dalam Al-Qur’an sering kali merujuk pada Surah Ibrahim ayat 7. Ayat ini mengandung janji sekaligus peringatan yang sangat tegas dari Allah SWT. Berikut adalah bunyi kutipan ayat tersebut:

“Lain syakartum la’azidannakum wala’in kafartum inna ‘adzabi lasyadid”
(Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat).

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menekankan bahwa ayat ini menggunakan bentuk penekanan (ta’kid) yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa janji Allah tentang penambahan nikmat bagi orang yang bersyukur adalah sebuah kepastian yang mutlak.

Makna Etimologi dan Filosofi Syukur

Secara bahasa, Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata “syukur” berasal dari akar kata yang berarti “menampakkan”. Makna ini merupakan lawan kata dari kufur yang berarti “menutup”. Maka, orang yang bersyukur adalah mereka yang menampakkan nikmat Allah melalui pengakuan dan pemanfaatan yang tepat.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Sebaliknya, orang yang kufur berusaha menyembunyikan atau menutup-nutupi nikmat tersebut. Mereka merasa bahwa keberhasilan tersebut semata-mata merupakan hasil kerja keras pribadi. Sikap sombong ini menjauhkan manusia dari sumber nikmat yang sebenarnya, yakni Sang Pencipta.

Tiga Pilar Syukur Menurut Tafsir Al-Mishbah

Dalam konsep syukur dalam Al-Qur’an, M. Quraish Shihab merumuskan tiga tahapan penting agar syukur seseorang mencapai kesempurnaan:

1. Syukur dengan Hati
Hati harus mengakui sepenuhnya bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Tanpa kesadaran batin, ucapan lisan hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna. Seseorang harus merasa rendah hati di hadapan keagungan Tuhan saat menerima anugerah.

2. Syukur dengan Lisan
Setelah hati meyakini, lisan bertugas memuji Allah. Mengucapkan hamdalah atau menceritakan nikmat (tahadduts bin ni’mah) termasuk dalam kategori ini. Tujuannya bukan untuk pamer, melainkan untuk menginspirasi orang lain agar turut mengakui kebaikan Allah.

3. Syukur dengan Perbuatan
Inilah tahapan yang paling krusial. Syukur berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan sang pemberi nikmat (Allah). Jika Allah memberi harta, maka syukurnya adalah dengan berzakat dan bersedekah. Jika Allah memberi ilmu, maka syukurnya adalah dengan mengajarkannya kepada sesama.

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Mengapa Allah Menambah Nikmat?

Kalimat “La’in Syakartum” memberikan jaminan bahwa syukur mengundang tambahan keberkahan. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tambahan nikmat tidak selalu berbentuk kuantitas atau jumlah. Terkadang, Allah menambah kualitas nikmat tersebut.

Harta yang sedikit namun penuh berkah jauh lebih baik daripada harta melimpah yang menimbulkan kegelisahan. Syukur mengubah perspektif manusia sehingga mereka selalu merasa cukup (qana’ah). Ketenangan hati inilah yang merupakan tambahan nikmat paling berharga dalam kehidupan manusia.

Bahaya Mengingkari Nikmat (Kufur)

Tafsir Al-Mishbah memberikan peringatan keras mengenai bagian akhir ayat tersebut. Allah tidak secara langsung menyebut akan menyiksa, namun Allah menegaskan bahwa “azab-Ku sangat berat”. Ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari kekufuran sangatlah nyata.

Kekufuran menyebabkan nikmat tersebut hilang atau bahkan menjadi beban bagi pemiliknya. Harta bisa menjadi fitnah, kesehatan bisa menjadi sarana maksiat, dan kecerdasan bisa menjadi alat penipuan. Tanpa syukur, nikmat berubah menjadi istidraj atau jebakan yang menghancurkan.

Kesimpulan

Konsep syukur dalam Al-Qur’an melalui kacamata Tafsir Al-Mishbah mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang apresiatif. Syukur bukan sekadar ritual formalitas setelah makan atau mendapat gaji. Syukur adalah sebuah gaya hidup yang melibatkan kesadaran hati, kejujuran lisan, dan ketepatan dalam bertindak.

Memahami Hak dan Kewajiban Suami Istri: Perspektif Tafsir Ahkam

Mari kita terapkan makna “La’in Syakartum” dalam setiap aspek kehidupan. Dengan bersyukur, kita tidak hanya menjaga nikmat yang sudah ada, tetapi juga membuka pintu bagi datangnya rahmat Allah yang lebih luas. Kebahagiaan sejati bermula dari hati yang pandai berterima kasih kepada Sang Khaliq.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.