Sosok
Beranda » Berita » Rabi‘ah Al Adawiyah dan Jejak Mahabbah Ilahiyah

Rabi‘ah Al Adawiyah dan Jejak Mahabbah Ilahiyah

Rabi‘ah Al Adawiyah
rabi'ah dan mahabbah ilahiyah

SURAU.CO. Dalam sejarah Islam, Rabi‘ah Al Adawiyah adalah satu nama yang bertahan lintas zaman bukan karena jabatan atau karya tulis monumental, melainkan karena kedalaman spiritualnya. Ia tidak memimpin pasukan, tidak menulis kitab tebal, dan tidak mendirikan madrasah. Tetapi gagasannya tentang cinta kepada Tuhan mengubah wajah tasawuf Islam secara fundamental.

Rabi‘ah hidup pada abad ke-2 Hijriah, masa ketika Islam mulai berkembang pesat secara politik dan ekonomi. Ironisnya, justru pada masa kejayaan lahir sosok yang memilih jalan asketis, sunyi, dan radikal dalam makna spiritual.

Profil Rabi‘ah Al Adawiyah

Rabi‘ah Al Adawiyah lahir di Basrah, Irak, sekitar tahun 95 H (713 M). Ia berasal dari keluarga miskin. Spiritualitas Rabi‘ah tidak lahir dari kenyamanan sosial, melainkan dari pengalaman keterasingan dan penderitaan.

Dalam sejumlah riwayat, Rabi‘ah bahkan pernah mengalami perbudakan sebelum akhirnya dimerdekakan karena kesalehan dan keteguhan ibadahnya. Setelah merdeka, Rabi‘ah memilih hidup zuhud. Ia menolak pernikahan, kemewahan, bahkan bantuan finansial dari para penguasa dan ulama kaya pada masanya. Pilihannya ini bukan bentuk kebencian terhadap dunia, tetapi kesadaran bahwa dunia tidak boleh menguasai hati.

Al-Qur’an mengingatkan:

Menyelami Biografi Achjat Irsjad: Kiai Penggerak dari Banyuwangi

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)

Bagi Rabi‘ah, ayat ini bukan sekadar peringatan normatif, tetapi prinsip hidup. Ia menjadikan kesederhanaan sebagai jalan pembebasan batin.

Mahabbah Ilahiyah Rabi’ah Al Adawiyah

Kontribusi terbesar Rabi‘ah al Adawiyah dalam Islam terletak pada konsep mahabbah ilahiyah—cinta murni kepada Allah. Dalam doa yang terkenal, Rabi‘ah berkata,

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka jangan Engkau sembunyikan keindahan-Mu dariku.”

Gagasan ini bukan bentuk penyimpangan, melainkan penajaman makna tauhid. Al-Qur’an sendiri menegaskan dimensi cinta dalam relasi hamba dan Tuhan:

Kepemimpinan Perempuan: Meninjau Kembali Tafsir Klasik ke Konteks Modern

“Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Rabi‘ah memindahkan pusat ibadah dari transaksi pahala menuju relasi cinta.

Jejak Spiritualnya

Meskipun tidak meninggalkan karya tulis, pengaruh Rabi‘ah sangat besar. Ia menjadi rujukan para sufi besar setelahnya, seperti Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, hingga Jalaluddin Rumi berabad-abad kemudian. Para ulama datang berdiskusi dengannya, bukan untuk menguji ilmunya, tetapi untuk belajar tentang kejernihan hati.

Rabi‘ah juga mematahkan asumsi patriarkal bahwa otoritas spiritual hanya milik laki-laki. Tanpa mendeklarasikan diri sebagai simbol perlawanan gender, kehidupannya sendiri telah menjadi kritik sosial. Ia dihormati bukan karena status, tetapi karena integritas spiritual.

Dalam konteks ini, Rabi‘ah sejalan dengan pesan Al-Qur’an:

Keadilan Hukum untuk Semua: Meneladani Kebijaksanaan dari Kitab I’lam al-Muwaqqi’in

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Dalam banyak riwayat, Rabi‘ah justru khawatir jika amalnya tercemar oleh rasa bangga.

Relevansi Rabi‘ah di Zaman Modern

Di era modern, agama kerap terjebak dalam dua ekstrem: formalisme kaku atau komodifikasi spiritual. Ibadah diukur dari tampilan, angka, dan pengakuan sosial. Dalam konteks ini, pesan Rabi‘ah terasa sangat relevan.

Cinta kepada Tuhan yang diajarkan Rabi‘ah membebaskan iman dari ketakutan berlebihan dan kepentingan pragmatis. Ia mengajarkan bahwa agama bukan sekadar alat legitimasi sosial atau politik, melainkan jalan penyucian batin.

Di tengah dunia yang kompetitif dan penuh kecemasan, spiritualitas Rabi‘ah menawarkan ketenangan yang tidak bergantung pada hasil. Ia mengingatkan bahwa relasi dengan Tuhan bukan kontrak untung-rugi.

Al-Qur’an menegaskan:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)

Rabi‘ah menghidupkan ayat ini bukan sebagai slogan, tetapi sebagai laku hidup.

Rabi‘ah al-Adawiyah adalah suara sunyi dalam sejarah Islam yang justru bergema paling lama. Ia mengajarkan bahwa iman tidak cukup hanya benar secara hukum, tetapi juga harus jujur secara batin. Cinta kepada Tuhan, dalam pandangannya, adalah puncak tauhid dan sumber kebebasan spiritual. ***


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.