Khazanah
Beranda » Berita » Menjaga Hati dari Penyakit Hasad: Pesan Mendalam Surah Al-Falaq dalam Tafsir Al-Ibriz

Menjaga Hati dari Penyakit Hasad: Pesan Mendalam Surah Al-Falaq dalam Tafsir Al-Ibriz

Ilustrasi realistis mushaf terbuka disinari cahaya lembut sebagai simbol makna mendalam Tafsir Jalalain.
Ilustrasi realis simbolik tentang substansi materi Tafsir Jalalain yang menerangi hati dan pikiran manusia di setiap zaman.

Penyakit hati seringkali lebih berbahaya daripada penyakit fisik yang menyerang tubuh manusia. Salah satu penyakit hati yang paling merusak adalah hasad atau dengki. Sifat ini tidak hanya menyiksa batin pemiliknya, tetapi juga berpotensi merugikan orang lain. Islam memberikan perhatian besar terhadap masalah ini melalui wahyu-Nya. Allah memerintahkan umat Islam untuk memohon perlindungan melalui Surah Al-Falaq.

Dalam khazanah literatur pesantren, Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa menjadi rujukan penting. Kitab tafsir berbahasa Jawa ini menjelaskan pesan-pesan Al-Qur’an dengan bahasa yang lugas dan kontekstual. KH Bisri Mustofa menguraikan betapa pentingnya menjaga hati dari penyakit hasad agar kehidupan tetap tenang dan berkah.

Memahami Makna Hasad dalam Tafsir Al-Ibriz

Secara harfiah, hasad bermakna keinginan seseorang agar nikmat pada orang lain menghilang. Penyakit ini muncul saat seseorang merasa tidak senang melihat keberuntungan sesamanya. Dalam Surah Al-Falaq ayat terakhir, Allah SWT berfirman:

“Wa min syarri haasidin idza hasad.”
(Artinya: “Dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki.”)

KH Bisri Mustofa dalam Tafsir Al-Ibriz menekankan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk berlindung. Kita memohon perlindungan Allah dari keburukan orang-orang yang menyimpan sifat dengki. Penulis menekankan bahwa hasad bisa memicu tindakan nyata yang merugikan orang lain. Orang yang hasad seringkali melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan orang yang ia benci.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Mengapa Kita Harus Waspada Terhadap Hasad?

Penyakit hasad merusak tatanan sosial dan spiritual seseorang. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. Sifat ini membutakan mata hati sehingga seseorang sulit bersyukur atas nikmatnya sendiri. Ia justru menghabiskan energinya untuk memantau dan membenci pencapaian orang lain.

Tafsir Al-Ibriz menjelaskan bahwa “idza hasad” atau “apabila ia dengki” merujuk pada saat sifat itu memuncak. Saat itulah, sang pendengki mulai melancarkan tipu daya atau serangan, baik melalui lisan maupun perbuatan. Menjaga hati dari penyakit hasad menjadi sangat mendesak karena sifat ini sangat halus dan mematikan.

Perisai Spiritual dari Surah Al-Falaq

Surah Al-Falaq memberikan solusi konkret bagi setiap Muslim dalam menghadapi serangan hasad. Kita tidak boleh membalas kedengkian dengan kedengkian serupa. Sebaliknya, kita harus mendekatkan diri kepada Sang Khalik sebagai pelindung sejati. KH Bisri Mustofa mengajak pembaca Al-Ibriz untuk merenungi kekuasaan Allah yang menguasai waktu subuh (Al-Falaq).

Dengan membaca surah ini, kita mengakui bahwa hanya Allah yang mampu menangkal segala bentuk kejahatan makhluk. Perlindungan ini mencakup kejahatan malam, penyihir, hingga orang-orang yang hasad. Mempraktikkan bacaan ini secara rutin akan memperkuat benteng spiritual kita dari energi negatif lingkungan sekitar.

Langkah Nyata Menjaga Hati dari Penyakit Hasad

Bagaimana cara kita membersihkan diri dari sifat buruk ini? Pertama, kita harus menumbuhkan rasa syukur yang kuat. Fokuslah pada apa yang Allah berikan kepada kita, bukan pada milik orang lain. Kedua, kita perlu menyadari bahwa pembagian rezeki adalah hak prerogatif Allah SWT. Membenci nikmat orang lain berarti secara tidak langsung mempertanyakan keadilan Tuhan.

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Ketiga, rutinlah membaca dan mentadabburi tafsir Al-Qur’an seperti kitab Al-Ibriz. Penjelasan yang dekat dengan budaya lokal membantu kita memahami esensi pesan langit dengan lebih mudah. Menjaga hati dari penyakit hasad memerlukan latihan yang berkelanjutan dan doa yang tulus kepada Allah SWT.

Kesimpulan

Surah Al-Falaq bukan sekadar bacaan perlindungan, melainkan pengingat tentang bahaya penyakit hati. Melalui kacamata Tafsir Al-Ibriz, kita belajar bahwa hasad adalah musuh nyata bagi ketenangan jiwa. Mari kita jaga hati kita agar selalu bersih dari rasa dengki. Dengan hati yang bersih, kita akan lebih mudah merasakan kebahagiaan dan keberkahan hidup.

Selalulah memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca Surah Al-Falaq di setiap kesempatan. Semoga Allah menjauhkan kita dari kejahatan orang-orang yang hasad dan menjaga hati kita tetap dalam hidayah-Nya. Kebersihan hati adalah kunci utama meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.