SURAU.CO. Suara azan masih berkumandang lima kali sehari di negeri ini. Ia melintas di antara gedung perkantoran, perumahan padat, hingga ruang-ruang digital yang tak pernah tidur. Di tengah masyarakat modern yang kian pragmatis, azan menghadapi ujian bukan hanya dari luar Islam, tetapi juga dari dalam umatnya sendiri.
Makna Azan sejatinya bukan sekadar penanda waktu shalat. Ia adalah pernyataan iman, seruan tauhid, dan simbol kehadiran nilai-nilai spiritual di ruang publik.
Sejarah Azan
Sejarah mencatat bahwa azan lahir dari kesadaran peradaban Islam untuk membangun identitasnya sendiri. Pada awal hijrah ke Madinah, Rasulullah dihadapkan pada persoalan sederhana namun mendasar: bagaimana memanggil umat untuk shalat. Usulan meniru lonceng Nasrani atau terompet Yahudi ditolak. Islam tidak ingin hadir sebagai gema dari peradaban lain.
Rasulullah bersabda, “Suruhlah Bilal mengumandangkan azan, karena suaranya lebih lantang dan merdu” (HR. Abu Dawud). Bilal bukan sekadar memiliki suara yang indah, tetapi juga keteguhan iman. Ia adalah simbol bahwa azan bukan panggilan kosong, melainkan suara yang lahir dari keyakinan yang jujur. Bahkan Rasulullah menyebut pernah mendengar langkah kaki Bilal di surga (HR. Bukhari), sebuah pengakuan atas kualitas spiritual seorang muazin.
Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat adalah kewajiban yang terikat waktu (QS. An-Nisa: 103). Azan adalah pintu masuknya. Lebih dari itu, azan berfungsi sebagai jeda peradaban, mengajak manusia berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk mengingat orientasi hidup yang lebih besar.
Namun di kota-kota besar, azan sering kalah oleh ritme kerja, notifikasi gawai, dan tekanan ekonomi. Ia terdengar, tetapi tak lagi memanggil. Di sinilah persoalan makna muncul. Padahal, di balik itu terdapat pesan sosial yang kuat. Islam menempatkan iman dan integritas spiritual di atas status sosial dan asal-usul.
Makna Azan
Azan memiliki bentuk yang beragam, dan setiap variasinya menyimpan pesan sosial yang kuat. Azan Subuh, misalnya, dengan kalimat ash-shalatu khairun minan naum, adalah kritik langsung terhadap kenyamanan berlebihan. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar soal istirahat, tetapi juga tanggung jawab spiritual.
Azan Jumat bahkan lebih tegas. Al-Qur’an memerintahkan agar umat meninggalkan transaksi ekonomi ketika azan dikumandangkan (QS. Al-Jumu’ah: 9). Ini bukan sekadar aturan ibadah, melainkan pernyataan bahwa nilai spiritual harus sesekali mengalahkan logika pasar.
Azan di telinga bayi pun menunjukkan bahwa Islam memposisikan tauhid sebagai suara pertama yang menyambut kehidupan manusia. Artinya, kesadaran spiritual seharusnya mendahului kesadaran sosial dan ekonomi.
Al-Qur’an mengingatkan, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah” (QS. Fussilat: 33). Azan adalah seruan itu. Tantangannya hari ini bukan apakah ia boleh berkumandang, melainkan apakah kita masih layak dan siap menjawabnya.
Tantangannya di Era Modern
Di era modern, azan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pertama, tantangan internal umat Islam sendiri. Ketika azan dikumandangkan tanpa penghayatan, tanpa adab, bahkan sekadar menggugurkan kewajiban, maka azan kehilangan maknanya.
Kedua, tantangan ruang publik. Di beberapa tempat, azan dipersoalkan atas nama kebisingan dan toleransi. Ini menuntut kebijaksanaan bersama. Azan adalah hak beragama, tetapi juga menuntut kepekaan sosial.
Ketiga, tantangan teknologi. Aplikasi pengingat shalat membantu secara personal, tetapi berpotensi menggeser azan dari ruang kolektif ke ruang privat. Jika ini terjadi, azan berisiko kehilangan fungsi sosialnya sebagai penanda kehidupan bersama.
Keempat, tantangan kualitas muazin. Azan bukan lomba volume suara. Ia membutuhkan kefasihan lafaz, keindahan nada, dan yang terpenting, integritas spiritual. Teladan Bilal bin Rabah menunjukkan bahwa azan adalah amanah, bukan sekadar tugas teknis.
Azan adalah suara peradaban. Ia bukan hanya milik masjid, tetapi juga milik ruang publik yang beradab. Ketika azan kehilangan makna, yang terancam bukan hanya kualitas ibadah, tetapi juga kedalaman spiritual masyarakat. ***
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
