Banyak orang mengira bahwa kesalehan hanya terbatas pada sajadah dan dinding masjid saja. Padahal, sejarah mencatat bahwa para Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah sosok-sosok profesional yang sangat tangguh di bidangnya. Mereka tidak hanya unggul dalam urusan akhirat, tetapi juga mendominasi sektor ekonomi, pemerintahan, hingga strategi militer. Mempelajari etos kerja Sahabat Nabi menjadi sangat relevan bagi kita yang ingin meraih kesuksesan karier sekaligus keberkahan ilahi.
Bekerja Sebagai Bentuk Ibadah yang Nyata
Bagi para Sahabat, bekerja bukanlah sekadar mencari nafkah untuk menyambung hidup atau menumpuk harta kekayaan. Mereka memandang setiap keringat yang menetes di tempat kerja sebagai investasi besar untuk kehidupan di akhirat kelak. Islam mengajarkan bahwa tangan yang bekerja lebih mulia daripada tangan yang hanya menanti uluran bantuan dari orang lain.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda mengenai pentingnya profesionalisme dalam bekerja:
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional, tekun, dan teliti).” (HR. Al-Baihaqi).
Kutipan ini menjadi fondasi utama bagi setiap Muslim untuk tidak bersikap setengah-setengah saat mengemban sebuah tanggung jawab pekerjaan.
Teladan Abdurrahman bin Auf: Mentalitas Mandiri
Salah satu contoh paling ikonik mengenai etos kerja Sahabat Nabi adalah kisah inspiratif dari Abdurrahman bin Auf. Saat beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau meninggalkan seluruh harta kekayaannya demi mempertahankan keimanan. Kaum Anshar di Madinah menawarkan separuh harta mereka untuk membantu Abdurrahman memulai hidup baru.
Namun, Abdurrahman bin Auf justru menolak tawaran tersebut dengan sopan dan memberikan jawaban yang sangat legendaris:
“Tunjukkan saja kepadaku di mana letak pasar.”
Kalimat singkat ini menunjukkan mentalitas profesional sejati yang tidak ingin bergantung pada belas kasihan orang lain. Beliau lebih memilih merintis usaha dari nol dengan integritas dan keahlian dagang yang luar biasa. Hasilnya, beliau kembali menjadi salah satu orang terkaya yang sangat dermawan dalam sejarah Islam.
Menghidupkan Konsep Itqan dalam Dunia Modern
Apa yang membuat para Sahabat begitu unggul di bidang mereka masing-masing? Kuncinya terletak pada prinsip Itqan. Secara bahasa, Itqan berarti melakukan sesuatu secara sempurna, rapi, dan terorganisir dengan sangat baik. Dalam konteks modern, kita mengenalnya dengan istilah profesionalisme tingkat tinggi atau excellence.
Muslim yang memiliki etos kerja tinggi tidak akan membiarkan tugasnya selesai dengan kualitas yang buruk atau seadanya. Mereka selalu berusaha memberikan hasil terbaik karena menyadari bahwa Allah sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Rasa takut kepada Allah (Taqwa) berubah menjadi standar kualitas kerja yang sangat disiplin dan penuh tanggung jawab.
Umar bin Khattab dan Teguran Terhadap Pengangguran
Khalifah Umar bin Khattab terkenal sebagai pemimpin yang sangat membenci kemalasan di kalangan umat Islam. Pernah suatu ketika, beliau melihat sekelompok orang yang hanya berdiam diri di masjid tanpa melakukan pekerjaan apapun. Mereka beralasan sedang bertawakal kepada Allah untuk mendapatkan rezeki dari langit.
Umar kemudian menegur mereka dengan kalimat yang sangat tegas:
“Janganlah salah seorang dari kalian duduk diam tanpa mencari rezeki, lalu ia berdoa: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki’. Padahal ia mengetahui bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas maupun perak.”
Pesan Umar ini menggarisbawahi bahwa tawakal harus dibarengi dengan ikhtiar atau usaha yang sangat maksimal dan nyata.
Mengapa Kita Harus Menjadi Profesional yang Unggul?
Menjadi Muslim yang profesional adalah sebuah keharusan karena kita membawa citra agama di pundak kita. Saat seorang Muslim bekerja dengan jujur, tepat waktu, dan inovatif, ia sedang melakukan dakwah melalui perbuatan (dakwah bil hal). Dunia akan melihat bahwa Islam melahirkan pribadi-pribadi hebat yang membawa manfaat luas bagi masyarakat sekitarnya.
Selain itu, profesionalisme merupakan bentuk amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang karyawan yang menerima gaji namun bekerja dengan malas sebenarnya telah mengkhianati akad kontrak yang ia tanda tangani. Sebaliknya, kerja keras yang dilandasi niat tulus akan mendatangkan ketenangan batin serta keberkahan dalam setiap rupiah yang kita terima.
Kesimpulan
Etos kerja Sahabat Nabi mengajarkan kita bahwa kesuksesan materi dan kemuliaan spiritual bisa berjalan beriringan secara harmonis. Dengan menerapkan prinsip Itqan, kemandirian seperti Abdurrahman bin Auf, dan disiplin tinggi, kita bisa menjadi pemenang di industri masing-masing. Mari kita ubah setiap aktivitas pekerjaan kita menjadi ladang pahala yang terus mengalir dengan cara bekerja secara profesional.
Dunia membutuhkan lebih banyak profesional Muslim yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh. Jadilah salah satu dari mereka yang menghidupkan kembali kejayaan peradaban Islam melalui karya-karya nyata yang unggul dan bermanfaat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
