SURAU.CO – Di ranah Minangkabau, orang diajarkan sejak kecil untuk manjago marwah, menjaga malu, dan menutup aib serapat mungkin. Namun zaman berubah. Media sosial membuat luka diumbar, dosa dipamerkan, dan kesedihan diproduksi demi simpati. Di tengah kebisingan itu, muncul sebuah pesan sunyi namun menampar: bisa jadi sedihmu justru menghapus dosamu.
Duka yang Dipikul dengan Sabar adalah Ibadah Sunyi
Ungkapan ini bukan kata mutiara motivasi, melainkan warisan nasihat ulama salaf. Al-Hakam bin ‘Utaibah rahimahullah menyatakan bahwa ketika seorang hamba tidak lagi memiliki amalan untuk menghapus dosanya, Allah membersihkannya dengan kesedihan¹. Pernyataan ini mengguncang nalar modern yang terbiasa mengukur rahmat Allah dengan kelapangan semata.
Di Minangkabau, kesedihan sering dianggap aib. Lelaki yang banyak termenung dicap indak manuruik adat, perempuan yang menangis terlalu lama dianggap lemah. Padahal dalam Islam, duka yang dipikul dengan sabar adalah ibadah sunyi. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tidak satu pun rasa sakit, sedih, atau kegelisahan menimpa seorang mukmin kecuali Allah jadikan ia penghapus dosa².
Namun Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa ikhtiar. Kesedihan bukan satu-satunya jalan. Ada amalan-amalan sadar yang Allah bukakan agar dosa tidak diwariskan menjadi beban sosial dan spiritual.
Amalan pertama dan paling utama adalah taubat nasuha. Allah memerintahkan orang beriman untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh, bukan taubat musiman, aktif saat Ramadhan, lalai saat Syawal³. Di Minangkabau, taubat sering berhenti pada ungkapan “alah biaso urang”. Ini berbahaya. Normalisasi dosa adalah awal kebangkrutan moral kolektif.
Senjata Ruhani Generasi Muda
Kedua, istighfar yang konsisten. Rasulullah ﷺ yang maksum saja beristighfar lebih dari 70 kali sehari⁴. Ironisnya, di surau-surau kampung, istighfar sering dipersempit menjadi zikir orang tua, bukan senjata ruhani generasi muda. Padahal istighfar adalah bentuk pengakuan paling jujur bahwa manusia tidak suci oleh adat, gelar, atau status sosial.
Ketiga, shalat yang hidup, bukan sekadar gugur kewajiban. Shalat lima waktu diibaratkan Rasulullah ﷺ seperti mandi di sungai yang membersihkan kotoran setiap hari⁵. Tetapi di banyak nagari, shalat sering kalah oleh rapat adat, kalah oleh urusan ladang, bahkan kalah oleh layar gawai. Ketika shalat kehilangan ruh, dosa tidak lagi luruh, ia menumpuk.
Keempat, sabar atas ujian hidup. Inilah yang paling relevan dengan konteks Minangkabau hari ini. Banyak orang terhimpit ekonomi, konflik waris, retak hubungan mamak dan kemenakan, namun memilih meluapkan amarah di media sosial. Padahal sabar yang dijaga dari keluh kesah berlebihan adalah kafarat dosa yang besar². Tidak semua ujian perlu diumumkan; sebagian cukup dipendam sebagai doa.
Sedekah Memadamkan Dosa
Kelima, sedekah, terutama di saat sempit. Rasulullah ﷺ menyatakan sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api⁶. Dalam adat Minangkabau, semangat baliak ka surau dan badoncek adalah sedekah sosial yang kini mulai memudar, sedangkan ketika sedekah digantikan gengsi, dosa kehilangan lawan.
Keenam, puasa sunnah. Puasa bukan hanya tradisi Ramadhan, tetapi latihan mengendalikan hawa nafsu yang menjadi akar banyak dosa. Puasa Arafah dan Asyura secara eksplisit disebut Rasulullah ﷺ sebagai penghapus dosa tahunan⁷. Ironisnya, sebagian orang Minangkabau rajin puasa adat, menahan diri demi citra, tetapi lalai puasa syariat.
Ketujuh, Berbakti kepada orang tua. Namun, dalam masyarakat matrilineal seperti Minangkabau, konflik ibu dan anak sering berdampak panjang. Padahal birrul walidain termasuk amalan yang sangat besar pengaruhnya dalam penghapusan dosa, sehingga ridha ibu adalah pintu langit yang sering diabaikan demi pembenaran ego.
Allah Mengampuni Semua Dosa Tanpa Kecuali
Akhirnya, penting ditegaskan: Islam tidak pernah kehabisan cara mengampuni. Jika amal lahir menipis, maka Allah membersihkan dengan duka. Jika duka dilalui dengan sabar, maka dosa luruh. Yang berbahaya bukan dosa itu sendiri, tetapi putus asa dari rahmat Allah.
Allah menegaskan bahwa Dia mengampuni seluruh dosa tanpa kecuali⁸. Maka bagi orang Minangkabau—yang memegang adat, menjaga marwah, dan menjunjung syarak—jalan pulang itu selalu ada. Tinggal keberanian untuk jujur pada diri sendiri: apakah kita sedang diuji, atau sedang diperingatkan?
Catatan Kaki
¹ Ibnu Abid Dunya, At-Taubah, hlm. 130.
² HR. Al-Bukhari dan Muslim.
³ QS. At-Tahrim: 8.
⁴ HR. Al-Bukhari.
⁵ HR. Muslim.
⁶ HR. At-Tirmidzi.
⁷ HR. Muslim.
⁸ QS. Az-Zumar: 53. (Penulis: Tengku Iskandar, M. Pd –
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
