Khazanah
Beranda » Berita » Mengganti Toxic Masculinity dengan Maskulinitas Rasulullah yang Penuh Kasih Sayang

Mengganti Toxic Masculinity dengan Maskulinitas Rasulullah yang Penuh Kasih Sayang

Dunia modern saat ini sering memperbincangkan istilah toxic masculinity. Fenomena ini merujuk pada perilaku pria yang sempit dan merusak. Maskulinitas Rasulullah vs Toxic Masculinity Masyarakat sering menuntut pria untuk selalu terlihat kuat secara fisik. Pria dilarang menunjukkan emosi, apalagi menangis di depan umum. Sayangnya, konsep ini justru memicu kekerasan dan sikap dominan yang berlebihan.

Islam sebenarnya telah memberikan standar maskulinitas yang jauh berbeda. Rasulullah Muhammad SAW merupakan prototipe pria sejati yang sempurna.  Maskulinitas Rasulullah vs Toxic Masculinity Beliau menggabungkan kekuatan fisik dengan kelembutan hati yang luar biasa. Mari kita bedah perbedaan mendalam antara maskulinitas beracun dengan teladan sang Nabi.

Mengenal Bahaya Toxic Masculinity

Toxic masculinity sering kali memaksa pria untuk menekan sisi kemanusiaan mereka. Pria dianggap lemah jika mereka membantu urusan domestik atau bersikap lembut. Standar ini menciptakan lingkungan yang kaku dan penuh tekanan. Pria merasa harus mendominasi perempuan agar terlihat berwibawa. Akibatnya, hubungan keluarga sering kali menjadi renggang dan dingin.

Budaya ini juga sering melahirkan sikap agresif yang tidak perlu. Pria merasa harus menyelesaikan masalah hanya dengan kekuatan otot semata. Padahal, kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan menindas orang lain. Rasulullah justru mengajarkan bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri sendiri.

Maskulinitas Rasulullah: Lembut Namun Berwibawa

Berbeda dengan konsep maskulinitas modern yang keras, Rasulullah menampilkan sosok yang hangat. Beliau tidak pernah merasa rendah diri saat membantu pekerjaan rumah tangga. Aisyah RA pernah memberikan kesaksian mengenai keseharian Nabi di dalam rumah.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Beliau bersabda dalam sebuah kutipan populer:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Kutipan ini menegaskan bahwa ukuran kejantanan seorang pria adalah kebaikannya kepada istri. Rasulullah menjahit bajunya sendiri dan memerah susu kambing secara mandiri. Beliau tidak menuntut pelayanan berlebihan dari para istrinya. Hal ini menunjukkan bahwa maskulinitas Islam tidak identik dengan sikap malas atau feodal.

Pria Juga Boleh Menunjukkan Emosi

Salah satu pilar toxic masculinity adalah larangan bagi pria untuk menangis. Masyarakat menganggap air mata sebagai simbol kelemahan bagi kaum adam. Namun, Rasulullah justru sering menunjukkan empati yang mendalam hingga meneteskan air mata. Beliau menangis saat putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia.

Para sahabat sempat terkejut melihat sang Nabi menangis dengan sedihnya. Beliau kemudian menjelaskan bahwa air mata adalah bentuk rahmat Allah dalam hati manusia.

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami.” (HR. Bukhari).

Tindakan ini mengajarkan pria untuk berani jujur dengan perasaan mereka sendiri. Menunjukkan emosi bukan berarti kehilangan kewibawaan sebagai pemimpin keluarga. Justru, kejujuran emosional akan memperkuat ikatan batin antara ayah, ibu, dan anak.

Menghargai Perempuan sebagai Mitra Sejajar

Pria dengan maskulinitas beracun biasanya memandang rendah peran perempuan. Mereka menganggap perempuan hanya sebagai objek atau pelayan kepentingan pria. Rasulullah meruntuhkan tembok diskriminasi ini dengan cara yang sangat elegan. Beliau sangat menghormati pendapat para istri dalam pengambilan keputusan penting.

Beliau sering mengajak Aisyah RA untuk berdiskusi dan bercanda bersama. Bahkan, Nabi pernah melakukan lomba lari dengan istrinya tersebut untuk menghibur hati. Keromantisan ini menunjukkan bahwa pria sejati adalah mereka yang mampu memuliakan perempuan. Pria yang baik tidak akan pernah merendahkan martabat wanita dengan kata-kata kasar.

Membangun Generasi Maskulin yang Baru

Kita perlu mengenalkan konsep maskulinitas Rasulullah kepada generasi muda sejak dini. Anak laki-laki harus paham bahwa menjadi pria berarti menjadi pelindung yang penyayang. Mereka harus belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti menang dalam perkelahian fisik. Keberanian sejati adalah berani membela kebenaran dan bersikap adil kepada yang lemah.

Memahami Hak dan Kewajiban Suami Istri: Perspektif Tafsir Ahkam

Masyarakat harus berhenti menuntut pria untuk menjadi robot tanpa perasaan. Kita perlu mengembalikan fungsi pria sebagai qawwam atau pemimpin yang mengayomi. Pemimpin yang baik adalah mereka yang memimpin dengan keteladanan, bukan dengan ancaman.

Kesimpulan

Meneladani Rasulullah adalah solusi terbaik untuk menghapus dampak buruk toxic masculinity. Maskulinitas dalam Islam adalah tentang tanggung jawab, kasih sayang, dan pengendalian diri. Dengan mengikuti Sunnah, pria akan menemukan kedamaian dalam peran mereka sebagai pemimpin. Mari kita bangun peradaban yang lebih sehat dengan karakter pria yang lembut hati.

Kelembutan Rasulullah tidak pernah mengurangi kegagahan beliau di medan perang. Beliau adalah ksatria yang paling berani namun juga ayah yang paling penyayang. Inilah standar maskulinitas yang seharusnya kita perjuangkan di era modern ini. Dunia membutuhkan pria-pria yang memiliki kekuatan fisik namun tetap memiliki hati yang tulus.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.