Tren self-love atau mencintai diri sendiri kini sedang populer di kalangan generasi muda maupun dewasa. Banyak orang menganggap konsep ini sebagai kunci kesehatan mental yang utama. Namun, masyarakat sering kali keliru dalam menafsirkan makna self-love yang sebenarnya. Batasan Self-Love dalam Islam Tanpa pemahaman yang tepat, seseorang bisa terjerumus ke dalam sifat ananiah atau egoisme yang berlebihan.
Islam sebagai agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara kita memperlakukan diri sendiri. Islam tidak melarang umatnya menghargai diri, namun Islam memberikan batasan yang jelas. Lalu, di mana titik temu antara mencintai diri dan kerendahan hati? Mari kita bedah lebih dalam.
Apa Itu Self-Love dalam Perspektif Islam?
Dalam kacamata Islam, mencintai diri sendiri merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Tubuh, jiwa, dan akal kita adalah amanah dari Sang Pencipta. Menjaga kesehatan fisik, memberikan nutrisi yang baik, serta menjaga kesehatan mental adalah bagian dari ibadah.
Seseorang yang mencintai dirinya akan berusaha menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Hal ini karena ia tidak ingin dirinya celaka, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Jadi, self-love yang benar justru mendekatkan seorang hamba kepada pencipta-Nya. Kita menghargai diri karena kita adalah ciptaan Allah yang mulia.
Mengenal Penyakit Hati Ananiah (Egois)
Berbeda dengan self-love, ananiah berasal dari bahasa Arab “Ana” yang berarti “Aku”. Sifat ini merujuk pada sikap egois yang mengedepankan kepentingan pribadi di atas segalanya. Orang yang memiliki sifat ananiah cenderung merasa paling benar dan paling hebat.
Mereka sering mengabaikan hak orang lain demi kepuasan diri sendiri. Dalam Islam, ananiah adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Sifat ini bisa melahirkan kesombongan atau takabbur. Rasulullah SAW sangat membenci sifat ini karena dapat memutus tali silaturahmi dan merusak tatanan sosial.
Batasan Tipis Antara Cinta Diri dan Kesombongan
Kita harus mampu menarik garis tegas antara menghargai diri dan memuja diri. Seseorang mulai terjebak dalam ananiah ketika ia merasa tidak membutuhkan orang lain. Ia merasa semua keberhasilannya murni karena usahanya sendiri tanpa campur tangan Allah.
Islam mengajarkan keseimbangan atau tawazun. Kita boleh mengapresiasi diri, namun tetap harus menyadari kelemahan kita sebagai manusia. Batasan utamanya adalah syariat. Jika alasan “mencintai diri” membuat seseorang melanggar perintah Allah, maka itu bukan lagi self-love, melainkan hawa nafsu.
Kutipan Hadits Tentang Mencintai Diri dan Sesama
Islam mengaitkan kecintaan pada diri sendiri dengan kecintaan kepada sesama Muslim. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits shahih yang sangat populer.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ukuran cinta kita kepada orang lain adalah cinta kita kepada diri sendiri. Jika kita ingin diperlakukan baik, maka kita harus memperlakukan orang lain dengan baik pula. Islam tidak membiarkan cinta diri berhenti pada ego individu, tetapi harus mengalir menjadi manfaat bagi orang lain.
Cara Mempraktikkan Self-Love yang Syar’i
Agar tidak salah arah, berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mencintai diri sesuai ajaran Islam:
-
Menjaga Ibadah: Bentuk tertinggi mencintai diri adalah menyelamatkan diri dari api neraka dengan taat beribadah.
-
Menjaga Kesehatan: Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk makan secukupnya dan rajin berolahraga.
-
Memberikan Hak Istirahat: Tubuh memiliki hak untuk beristirahat setelah bekerja keras sepanjang hari.
-
Menuntut Ilmu: Mengisi akal dengan ilmu pengetahuan adalah cara menghargai potensi diri yang Allah berikan.
-
Memaafkan Diri Sendiri: Islam mengajarkan taubat. Jangan menyiksa diri dengan penyesalan berlebih, bangkitlah dan perbaiki diri.
Bahaya Self-Love yang Berlebihan
Saat ini, banyak konten media sosial yang mendorong orang untuk menjadi narsistik atas nama self-love. Mereka mengajak orang untuk mengabaikan kritik dan hanya peduli pada perasaan pribadi. Jika kita menelan mentah-mentah konsep ini, kita akan menjadi pribadi yang anti-sosial.
Islam mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan orang lain hanya karena ingin fokus pada kebahagiaan sendiri. Kebahagiaan sejati dalam Islam justru terletak pada kemudahan yang kita berikan kepada orang lain.
Kesimpulan
Mencintai diri sendiri adalah hal yang sangat positif jika tujuannya adalah menjaga amanah Allah. Kita harus sehat, cerdas, dan bahagia agar bisa beribadah dengan maksimal. Namun, jangan biarkan rasa cinta tersebut berubah menjadi ananiah atau egoisme yang membutakan hati.
Jadikan syariat sebagai kompas dalam mengenal diri. Dengan memahami batasan ini, kita akan meraih kedamaian jiwa tanpa kehilangan kepedulian sosial. Mari cintai diri kita secukupnya, dan cintai Allah serta sesama setulusnya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
