Banyak orang tua merasa bingung saat menghadapi perilaku anak yang sulit diatur pada zaman modern ini. Sering kali, orang tua memilih jalan pintas dengan menanamkan rasa takut agar anak menjadi penurut. Padahal, kepatuhan yang lahir dari rasa takut bersifat semu dan tidak akan bertahan lama. Sebaliknya, pola asuh yang penuh cinta akan melahirkan kerinduan dan penghormatan yang tulus dari sang anak.
Al-Qur’an mengabadikan sosok Luqman Al-Hakim sebagai teladan orang tua yang sangat bijaksana bagi seluruh umat manusia. Beliau bukan seorang Nabi, namun namanya menjadi abadi karena cara mendidiknya yang sangat luar biasa indah. Refleksi pola asuh Luqman Al-Hakim memberikan panduan bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang selalu anak-anak rindukan.
Fondasi Aqidah sebagai Landasan Utama
Luqman memulai pendidikan anaknya dengan menanamkan tauhid atau keesaan Allah secara kuat dan sangat mendalam. Beliau memahami bahwa hubungan anak dengan Tuhannya merupakan akar dari segala kebaikan perilaku di masa depan. Luqman menyampaikan pesan ini dengan nada bicara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang kepada buah hatinya.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan perkataan Luqman tersebut dalam sebuah kutipan yang sangat populer:
“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
Melalui ayat ini, kita belajar bahwa orang tua harus memprioritaskan aspek spiritual sebelum mengajarkan hal-hal bersifat duniawi lainnya. Anak yang mengenal Tuhannya dengan baik akan memiliki kompas moral yang kuat dalam setiap langkah hidupnya. Mereka akan merasa selalu diawasi oleh Allah sehingga orang tua tidak perlu merasa cemas secara berlebihan.
Membangun Komunikasi dengan “Nida’ Mahabbah”
Satu hal menarik dari pola asuh Luqman adalah penggunaan panggilan kesayangan atau disebut dengan Nida’ Mahabbah. Beliau memanggil anaknya dengan sebutan “Ya Bunayya” yang berarti “Wahai anakku tersayang” dalam setiap nasihatnya. Panggilan ini menciptakan suasana yang hangat sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh hati anak.
Komunikasi yang efektif merupakan kunci utama agar anak tidak merasa tertekan oleh perintah-perintah orang tua mereka. Orang tua yang dirindukan adalah mereka yang mampu mendengarkan suara hati anak sebelum mereka memberikan banyak instruksi. Pola komunikasi searah yang bersifat mengancam hanya akan menjauhkan ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Menanamkan Kedisiplinan Melalui Ibadah dan Kesabaran
Setelah aspek aqidah dan komunikasi terbangun, Luqman mulai mengajarkan aspek ibadah praktis serta ketahanan mental. Beliau ingin anaknya menjadi pribadi yang kuat dan bermanfaat bagi lingkungan masyarakat di sekitarnya kelak. Luqman mengajarkan bahwa salat adalah tiang agama yang harus ditegakkan dalam kondisi apa pun oleh seorang mukmin.
Kutipan nasihat Luqman berikutnya memberikan gambaran tentang kurikulum kehidupan yang sangat lengkap:
“Wahai anakku, laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17).
Pesan ini mengandung makna bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik di sekolah yang bersifat angka. Luqman menekankan pentingnya memiliki keberanian untuk berbuat baik dan kesabaran yang luas dalam menghadapi ujian hidup. Orang tua perlu memberikan teladan nyata dalam melaksanakan poin-poin tersebut sebelum menuntut anak untuk melakukannya.
Pendidikan Etika dan Rendah Hati
Luqman Al-Hakim juga sangat memperhatikan bagaimana anaknya berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sosial sehari-hari. Beliau melarang anaknya untuk bersikap sombong atau merasa lebih hebat daripada manusia lain di muka bumi ini. Karakter rendah hati akan membuat seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan dan sangat dicintai sesama.
Beliau juga mengajarkan etika berkomunikasi, seperti mengatur volume suara agar selalu terdengar sopan dan tidak mengganggu. Orang tua yang berhasil adalah mereka yang mampu mencetak generasi dengan adab yang mulia dan tutur kata lembut. Luqman mengingatkan bahwa kesombongan hanya akan menjauhkan keberkahan dan rasa cinta dari orang-orang di sekitar kita.
Kesimpulan: Menjadi Orang Tua yang Memberi Inspirasi
Menjadi orang tua yang dirindukan membutuhkan konsistensi, kesabaran ekstra, dan doa yang tidak pernah putus kepada Allah. Kita harus mulai mengubah pola asuh yang mengandalkan kemarahan menjadi pola asuh yang mengandalkan hikmah dan kasih sayang. Pola asuh Luqman Al-Hakim membuktikan bahwa kelembutan jauh lebih efektif daripada kekerasan dalam membentuk karakter anak.
Mari kita bercermin pada cara Luqman memberikan kasih sayang sekaligus batasan yang jelas bagi putra tercintanya tersebut. Jadilah oase yang menyejukkan bagi anak-anak sehingga mereka selalu merasa aman ketika berada di dekat kita. Ketika orang tua menjadi sosok yang dirindukan, maka setiap nasihat akan mengalir deras ke dalam jiwa sang anak. Dengan demikian, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang kuat secara iman dan mulia secara akhlak.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
