Dunia digital saat ini menawarkan kemudahan informasi sekaligus tantangan moral yang besar. Anak-anak kini tumbuh berdampingan dengan gawai dan koneksi internet yang tak terbatas. Fenomena ini menuntut orang tua untuk lebih waspada terhadap paparan konten negatif. Sebagai solusi, penerapan nilai-nilai Nabawi menjadi fondasi utama dalam pola asuh atau parenting di era digital.
Tantangan Moral di Balik Layar Gawai
Teknologi ibarat pisau bermata dua bagi tumbuh kembang anak. Di satu sisi, internet mendukung proses belajar dan kreativitas mereka. Namun, di sisi lain, konten kekerasan, pornografi, dan perundungan siber selalu mengintai. Orang tua tidak mungkin mengawasi anak selama dua puluh empat jam penuh. Oleh karena itu, anak membutuhkan “benteng interior” berupa keimanan dan akhlak yang kokoh.
Menghadapi situasi ini, pendekatan Rasulullah SAW dalam mendidik generasi muda sangat relevan. Beliau mengedepankan kasih sayang, dialog, dan keteladanan. Strategi ini sangat efektif untuk membentengi anak dari pengaruh buruk dunia maya.
Menanamkan “Muraqabatullah” pada Anak
Langkah pertama dalam parenting di era digital adalah menanamkan konsep Muraqabatullah. Istilah ini berarti perasaan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan hamba-Nya. Orang tua harus mengajarkan bahwa meskipun ayah dan ibu tidak melihat, Allah Maha Melihat apa yang mereka akses di internet.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapusnya; dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Kutipan ini menjadi dasar bagi anak untuk selalu menjaga perilaku, termasuk saat berinteraksi di media sosial. Ketika nilai ini tertanam, anak akan memiliki kontrol diri yang kuat. Mereka akan secara mandiri menjauhi konten yang tidak bermanfaat atau melanggar syariat.
Membangun Komunikasi Berbasis Kasih Sayang
Orang tua sering kali bersikap otoriter dengan menyita gawai tanpa penjelasan. Padahal, pendekatan Nabawi mengutamakan dialog yang hangat atau al-hiwar. Rasulullah SAW sering mengajak anak muda berdiskusi untuk memahami isi hati mereka.
Dalam dunia digital, orang tua perlu meluangkan waktu untuk mengobrol tentang aktivitas daring anak. Tanyakan apa yang mereka tonton dan siapa teman bicara mereka di dunia maya. Jadikan diri Anda tempat pertama bagi anak untuk bercerita atau bertanya tentang hal-hal yang mereka temukan di internet. Komunikasi yang terbuka akan mencegah anak mencari jawaban dari sumber yang salah.
Menjadi Teladan Digital (Uswah Hasanah)
Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka lebih banyak melihat apa yang orang tua lakukan daripada mendengar apa yang orang tua katakan. Jika orang tua ingin anak bijak menggunakan gawai, maka orang tua harus memberi contoh terlebih dahulu.
Jangan sampai kita melarang anak bermain gim berlebihan, namun kita sendiri asyik berselancar di media sosial saat waktu makan. Terapkanlah waktu bebas gawai (gadget-free time) saat berada di rumah. Gunakan waktu tersebut untuk beribadah bersama atau sekadar bercengkerama. Keteladanan atau Uswah Hasanah adalah kunci keberhasilan dalam mendidik karakter anak.
Literasi Digital sebagai Bagian dari Tarbiyah
Pola asuh masa kini juga harus mencakup literasi digital yang memadai. Orang tua wajib memahami fitur-fitur keamanan pada perangkat elektronik. Gunakan aplikasi pengawasan orang tua (parental control) untuk membatasi akses konten dewasa. Namun, jangan jadikan teknologi sebagai satu-satunya alat pengawas.
Ajarkan anak untuk membedakan antara informasi yang benar (haq) dan yang salah (batil). Nilai-nilai Nabawi mengajarkan kita untuk selalu melakukan tabayyun atau verifikasi informasi. Hal ini sangat penting agar anak tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong atau paham radikal yang tersebar luas di internet.
Kesimpulan
Parenting di era digital bukan berarti menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Kita justru harus membekali mereka dengan kompas moral yang benar. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Nabawi, kita membentuk generasi yang cerdas secara digital namun tetap memiliki kemuliaan akhlak. Mari kita jaga amanah Allah ini dengan penuh kesabaran dan doa yang tak terputus. Perlindungan terbaik bagi anak adalah iman yang menghujam di dalam dada dan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
