Media sosial kini telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara drastis. Ruang digital memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk bersuara. Namun, kebebasan ini sering kali menjadi pedang bermata dua. Tanpa etika berpendapat di medsos yang kuat, konflik digital akan terus bermunculan. Kita kini hidup dalam era post-truth. Era ini mengutamakan emosi dan keyakinan pribadi daripada fakta objektif.
Fenomena Post-Truth di Ruang Digital
Era post-truth menciptakan tantangan besar bagi masyarakat modern. Informasi palsu atau hoaks menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Banyak orang lebih percaya pada narasi yang mendukung perasaan mereka. Mereka cenderung mengabaikan data valid yang ada di depan mata.
Kondisi ini memicu polarisasi di tengah masyarakat. Perdebatan di kolom komentar sering kali berujung pada caci maki. Batasan antara kritik membangun dan penghinaan menjadi sangat kabur. Inilah alasan mengapa kita memerlukan pendekatan baru dalam berinternet.
Memahami Konsep Jihad Literasi
Menghadapi kacaunya arus informasi, muncul sebuah istilah bernama “Jihad Literasi”. Kata “jihad” di sini bermakna perjuangan sungguh-sungguh. Ini bukan tentang kekerasan fisik atau konflik senjata. Jihad literasi adalah perjuangan melawan kebodohan dan disinformasi di dunia maya.
Jihad literasi menuntut kita untuk menjadi konsumen informasi yang kritis. Kita tidak boleh menelan mentah-mentah setiap kabar yang lewat di beranda. Sebagaimana sebuah kutipan populer menyatakan: “Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan kemampuan memahami konteks dan kebenaran informasi.” Kutipan ini menegaskan bahwa pemahaman mendalam adalah kunci utama.
Prinsip Utama Etika Berpendapat di Medsos
Menerapkan etika berpendapat di medsos memerlukan kesadaran penuh dari setiap individu. Berikut adalah beberapa prinsip yang harus kita pegang teguh:
-
Verifikasi Sebelum Berbagi (Tabayyun)
Pastikan informasi yang Anda bagikan berasal dari sumber kredibel. Jangan terburu-buru menekan tombol share hanya karena judul yang bombastis. -
Gunakan Bahasa yang Santun
Kata-kata mencerminkan kepribadian penggunanya. Pilihlah diksi yang sopan meskipun Anda sedang berbeda pendapat. Hindari kata-kata yang mengandung unsur SARA atau kebencian. -
Hargai Privasi Orang Lain
Jangan mengumbar data pribadi atau aib orang lain di media sosial. Ruang publik digital tetap memiliki batasan moral yang harus kita jaga. -
Tanggung Jawab atas Konten
Setiap status atau komentar memiliki konsekuensi hukum dan sosial. Ingatlah bahwa jejak digital sangat sulit untuk kita hapus sepenuhnya.
Mengapa Jihad Literasi Penting?
Tanpa jihad literasi, kita akan mudah menjadi korban manipulasi opini. Banyak pihak yang tidak bertanggung jawab sengaja menyebarkan hoaks demi kepentingan tertentu. Mereka memanfaatkan emosi netizen untuk memicu kerusuhan digital.
Kita harus aktif memproduksi konten yang positif dan edukatif. Jangan biarkan ruang digital penuh dengan narasi negatif. Kita perlu mengimbangi hoaks dengan fakta-fakta yang akurat. Inilah esensi dari perjuangan literasi di zaman modern.
Pakar komunikasi sering mengingatkan kita melalui kalimat berikut: “Di era digital, jarimu adalah harimaumu yang bisa menerkam dirimu sendiri atau orang lain.” Kutipan ini mengingatkan kita untuk selalu waspada sebelum bertindak di internet.
Langkah Nyata Menjadi Netizen Bijak
Bagaimana cara memulai jihad literasi secara mandiri? Mulailah dari diri sendiri dengan membatasi waktu layar. Bacalah buku atau artikel panjang untuk melatih konsentrasi otak. Kebiasaan membaca cepat di medsos sering kali membuat kita malas berpikir mendalam.
Kedua, ikuti akun-akun yang memberikan edukasi dan manfaat. Unfollow atau mute akun yang sering menyebarkan provokasi dan kebencian. Lingkungan digital yang sehat akan membentuk pola pikir yang sehat pula.
Ketiga, beranikan diri untuk mengoreksi hoaks dengan cara yang sopan. Jika melihat teman membagikan berita palsu, berikan klarifikasi melalui pesan pribadi. Jangan mempermalukan mereka di kolom komentar umum.
Kesimpulan
Etika berpendapat di medsos adalah fondasi bagi peradaban digital yang maju. Jihad literasi di era post-truth merupakan kewajiban setiap pengguna internet. Kita harus melawan arus hoaks dengan kecerdasan dan ketenangan.
Jangan biarkan emosi menguasai logika saat kita berselancar di dunia maya. Masa depan demokrasi dan harmoni sosial bergantung pada jempol kita. Mari kita jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar dan berbagi kebaikan. Dengan literasi yang kuat, kita akan mampu menavigasi badai informasi dengan bijaksana.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
