Khazanah
Beranda » Berita » Mengakhiri Polarisasi Umat Islam: Mengapa Kita Harus Berhenti Saling Mengkafirkan?

Mengakhiri Polarisasi Umat Islam: Mengapa Kita Harus Berhenti Saling Mengkafirkan?

Fenomena saling mengkafirkan atau takfiri karena perbedaan pandangan fikih kini semakin memprihatinkan. Media sosial sering menjadi medan tempur bagi kelompok yang merasa paling benar. Padahal, para ulama terdahulu mengajarkan bahwa perbedaan fikih adalah rahmat bagi umat manusia. Lantas, kapan kita bisa benar-benar berhenti berkonflik dan mulai merajut kembali persatuan?

Memahami Akar Perbedaan Fikih

Fikih merupakan hasil ijtihad para ulama terhadap dalil-dalil agama yang bersifat dinamis. Berbeda dengan akidah yang bersifat absolut, fikih memberikan ruang untuk interpretasi yang beragam. Sayangnya, banyak orang saat ini mencampuradukkan masalah cabang (furu’iyah) dengan masalah pokok (ushuliyah).

Ketidaktahuan ini memicu sentimen negatif antar kelompok. Seseorang dengan mudah melabeli orang lain sesat hanya karena perbedaan posisi tangan saat salat. Padahal, keragaman ini mencerminkan kekayaan intelektual dalam tradisi Islam yang sangat panjang. Kita perlu menyadari bahwa kebenaran dalam fikih seringkali bersifat relatif.

Bahaya Labeling dan Takfiri

Budaya saling mengkafirkan membawa dampak yang sangat destruktif bagi stabilitas sosial. Polarisasi ini merusak ikatan ukhuwah Islamiyah yang seharusnya menjadi kekuatan utama umat. Ketika seseorang mulai mengkafirkan saudaranya, ia sebenarnya sedang menutup pintu dialog.

Sikap merasa paling benar secara berlebihan seringkali menutup mata dari esensi ajaran Islam. Islam datang untuk membawa kedamaian dan menyatukan berbagai kabilah. Jika kita terus terjebak dalam ego kelompok, kita hanya akan melemahkan posisi umat di mata dunia. Persatuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Belajar dari Kebijaksanaan Ulama Salaf

Para imam mazhab besar seperti Imam Syafi’i dan Imam Malik memberikan teladan luar biasa dalam menyikapi perbedaan. Imam Syafi’i pernah berkata dalam kutipan terkenalnya:

“Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar.”

Kutipan tersebut menunjukkan kerendahan hati seorang intelektual besar. Beliau tidak pernah memaksakan pendapatnya kepada orang lain apalagi sampai mengkafirkan. Semangat inilah yang seharusnya kita adopsi dalam kehidupan beragama di Indonesia saat ini. Menghormati perbedaan pendapat bukan berarti kita kehilangan prinsip, melainkan bentuk kedewasaan dalam beriman.

Peran Penting Moderasi Beragama

Moderasi beragama atau wasathiyah menjadi solusi krusial dalam mengakhiri polarisasi umat Islam. Pemerintah dan lembaga keagamaan harus terus mendorong pemahaman agama yang moderat. Kita perlu fokus pada titik temu daripada mencari-cari titik perbedaan yang memisahkan.

Pendidikan agama di sekolah dan pesantren juga harus menekankan aspek toleransi. Pengajar perlu membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dan terbuka. Dengan cara ini, mereka tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten provokatif di internet. Literasi agama yang baik akan membentengi umat dari paham radikal yang suka mengkafirkan sesama.

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Mengedepankan Ukhuwah di Atas Perbedaan

Mengakhiri polarisasi umat Islam membutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Kita harus mulai berhenti memberikan panggung bagi tokoh-tokoh yang gemar memecah belah. Sebaliknya, kita dukung pendakwah yang membawa pesan sejuk dan mempersatukan.

Ukhuwah Islamiyah harus berdiri tegak di atas perbedaan warna bendera organisasi maupun partai politik. Perbedaan fikih jangan sampai meruntuhkan persaudaraan yang telah dibangun selama berabad-abad. Indonesia membutuhkan umat Islam yang bersatu untuk membangun peradaban yang lebih maju dan bermartabat.

Kesimpulan

Kapan kita berhenti saling mengkafirkan? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Kita berhenti saat kita mulai melapangkan dada menerima perbedaan. Kita berhenti saat kita lebih mencintai persatuan daripada ego kelompok. Mari kita jadikan fikih sebagai sarana untuk mempermudah ibadah, bukan sebagai senjata untuk memukul saudara seiman.



Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.