Ibadah
Beranda » Berita » Fenomena Self-Proclaimed Hijrah: Mengapa Sanad Guru Sangat Vital?

Fenomena Self-Proclaimed Hijrah: Mengapa Sanad Guru Sangat Vital?

Fenomena hijrah kini tengah melanda berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Banyak individu memutuskan untuk mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih religius. Kita melihat perubahan ini melalui cara berpakaian hingga aktivitas keseharian. Fenomena ini tentu memberikan angin segar bagi perkembangan dakwah Islam. Namun, muncul sebuah tantangan baru bernama “self-proclaimed hijrah” di era digital ini.

Istilah ini merujuk pada mereka yang merasa telah hijrah secara mandiri. Mereka sering kali mendalami agama hanya melalui potongan video di media sosial. Tanpa bimbingan guru yang mumpuni, semangat belajar ini berisiko menimbulkan pemahaman yang keliru. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami betapa pentingnya mencari guru dengan sanad yang jelas.

Apa Itu Self-Proclaimed Hijrah?

Self-proclaimed hijrah terjadi ketika seseorang merasa sudah berilmu setelah menonton konten internet. Mereka mengandalkan algoritma mesin pencari untuk menjawab persoalan hukum agama yang kompleks. Padahal, belajar agama bukan sekadar membaca teks atau menonton video singkat. Belajar agama memerlukan proses pendampingan dari seorang ahli yang memiliki silsilah keilmuan.

Fenomena ini sering kali melahirkan individu yang bersifat kaku dalam beragama. Mereka mudah menyalahkan orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Tanpa bimbingan guru, seseorang sulit membedakan antara perkara prinsip dan perkara cabang. Kondisi ini justru dapat menjauhkan pesan damai yang dibawa oleh Islam.

Kedudukan Sanad dalam Tradisi Islam

Dalam Islam, ilmu bukan hanya sekadar informasi, melainkan sebuah amanah. Sanad merupakan rantai transmisi ilmu yang menyambung dari murid hingga Rasulullah SAW. Sanad menjaga kemurnian ajaran Islam dari penyimpangan dan penafsiran nafsu manusia. Para ulama terdahulu sangat menekankan pentingnya silsilah keilmuan ini dalam proses belajar.

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Abdullah bin al-Mubarak memberikan pernyataan yang sangat terkenal mengenai hal ini. Beliau berkata:

“Al-isnad minad din, lau lal isnad la qala man sya’a ma sya’a.”

Artinya: “Sanad adalah bagian dari agama. Jika bukan karena sanad, maka setiap orang akan berkata sekehendak hatinya.”

Kutipan tersebut menegaskan bahwa agama memiliki standar otoritas yang ketat. Seseorang tidak boleh menafsirkan ayat suci hanya berdasarkan logika pribadinya sendiri. Guru yang bersanad akan memberikan konteks sejarah dan kaidah bahasa yang benar. Hal inilah yang menjaga umat dari pemahaman radikal atau ekstrem.

Bahaya Belajar Tanpa Bimbingan Guru

Belajar agama secara otodidak melalui internet mengandung risiko yang sangat besar. Tanpa guru, seseorang bisa saja salah memahami maksud dari sebuah hadis. Mereka mengabaikan Asbabun Nuzul atau latar belakang turunnya sebuah wahyu. Akibatnya, mereka sering kali menerapkan hukum secara tidak tepat pada situasi sekarang.

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Selain itu, guru berfungsi sebagai teladan akhlak bagi para muridnya. Ilmu agama tidak hanya berhenti pada kognitif atau hafalan semata. Murid perlu melihat bagaimana sang guru bersikap dan bertutur kata. Guru yang memiliki sanad biasanya memiliki sanad akhlak yang juga bersambung. Mereka mengajarkan kasih sayang, kesabaran, serta toleransi dalam beragama.

Cara Memilih Guru di Era Milenial

Masyarakat harus lebih selektif dalam memilih sumber belajar agama. Pastikan guru tersebut memiliki latar belakang pendidikan pesantren atau universitas yang kredibel. Kita bisa menelusuri kepada siapa guru tersebut belajar sebelumnya. Guru yang jujur biasanya akan menyebutkan nama-nama syekh atau ustadz mereka.

Jangan hanya terpukau dengan jumlah pengikut (followers) di media sosial. Popularitas bukan menjadi ukuran kebenaran sebuah pemahaman agama. Carilah majelis ilmu yang mengajarkan kitab-kitab klasik dengan penjelasan yang komprehensif. Melalui guru yang bersanad, kita akan mendapatkan pemahaman agama yang moderat dan menyejukkan.

Penutup: Hijrah Adalah Perjalanan Panjang

Hijrah bukan sekadar perpindahan identitas fisik atau perubahan gaya berpakaian. Hijrah merupakan perjalanan spiritual menuju pemahaman yang lebih dalam tentang Tuhan. Perjalanan ini membutuhkan kompas yang akurat agar kita tidak tersesat jalan. Sanad keilmuan adalah kompas tersebut dalam rimba informasi digital yang menyesatkan.

Mari kita terus pupuk semangat hijrah dengan cara yang benar. Temukanlah guru yang teduh, yang ilmunya bersambung hingga baginda Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, proses hijrah akan membawa manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Jangan biarkan semangat beragama kita padam hanya karena salah memilih narasumber. Pentingnya sanad keilmuan hijrah menjadi kunci utama untuk menjaga iman yang lurus.

Memahami Hak dan Kewajiban Suami Istri: Perspektif Tafsir Ahkam


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.