Ibadah
Beranda » Berita » Didikan Subuh: Tradisi yang Dipuji, tapi Perlahan Ditinggalkan

Didikan Subuh: Tradisi yang Dipuji, tapi Perlahan Ditinggalkan

Didikan Subuh: Tradisi yang Dipuji, tapi Perlahan Ditinggalkan
Didikan Subuh: Tradisi yang Dipuji, tapi Perlahan Ditinggalkan

 

SURAU.CO – Didikan Subuh kerap dielu-elukan sebagai warisan pendidikan Islam yang “khas Indonesia”. Ia dibanggakan dalam pidato, difoto untuk laporan kegiatan, dan disebut-sebut sebagai bukti kepedulian umat terhadap generasi. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus mengganggu: apakah Didikan Subuh masih hidup sebagai pendidikan, atau hanya bertahan sebagai seremoni?.

Di banyak tempat, Didikan Subuh masih berjalan. Tapi jujur saja, ia berjalan terseok-seok, kalah pamor oleh lomba akademik, kursus daring, dan hiburan digital yang menyedot waktu anak-anak hingga larut malam. Subuh yang dulu menjadi awal kehidupan spiritual, kini justru menjadi jam paling sepi dalam ritme keluarga Muslim. Ironisnya, kesepian itu sering kita maklumi, bahkan kita normalisasi.

Modal Ruhani Generasi

Padahal Al-Qur’an sudah menegaskan keistimewaan waktu Subuh dengan bahasa yang tegas dan sakral:

> إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Sesungguhnya bacaan Al-Qur’an di waktu fajar itu disaksikan (oleh para malaikat).”
(QS. Al-Isrā’: 78)¹

Menyambut Ramadhan: Menata Hati, Meneguhkan Arah Umat

Ayat ini bukan puisi motivasi. Ia adalah peringatan keras bahwa waktu Subuh memiliki nilai yang tidak bisa digantikan. Ketika anak-anak Muslim dibiasakan tidur larut, bangun siang, dan abai terhadap Subuh, sesungguhnya yang sedang dirampas bukan hanya waktu ibadah, tetapi modal ruhani generasi.

Didikan Subuh sejatinya lahir sebagai jawaban atas kegagalan pendidikan formal dalam membentuk adab. Sekolah bisa mencetak siswa pintar, tapi sering gagap mencetak anak yang disiplin shalat, santun berbicara, dan hormat pada guru. Maka masjid mengambil peran. Didikan Subuh hadir sebagai pendidikan berbasis komunitas, murah, sederhana, tapi sarat nilai.

Namun di titik inilah masalah muncul. Ketika Didikan Subuh mulai meniru logika sekolah formal, ia kehilangan ruhnya. Anak-anak dijejali hafalan untuk tampil, bukan dibina untuk memahami. Orang tua sibuk mengejar kebanggaan sosial, bukan kesalehan anak. Didikan Subuh berubah menjadi panggung kecil dengan ambisi besar, tetapi pembinaan minim.

Pendidikan Anak

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab serius, bukan urusan sambilan:

> مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”
(HR. Abu Dawud)²

Doa Terbaik untuk Keturunan: Menyelami Kedalaman Makna Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 74

Hadis ini sering dibaca ringan, seolah sekadar instruksi teknis. Padahal ia menuntut kesungguhan, konsistensi, dan keteladanan. Perintah shalat tidak akan bermakna jika orang tua sendiri tidak menjaga shalatnya. Didikan Subuh tidak akan hidup jika ayah-ibunya masih memeluk bantal saat azan Subuh berkumandang.

Buya Hamka pernah mengkritik pendidikan yang hanya sibuk pada kecerdasan otak, tetapi lalai membentuk akhlak. Menurutnya, orang berilmu tanpa adab adalah bencana yang menunggu waktu. Dalam konteks hari ini, kritik itu terasa menampar. Kita menyaksikan generasi yang fasih berbicara, tetapi miskin rasa hormat; berani tampil, tetapi rapuh secara moral.

Hidup dalam Ritme Ibadah

Di Minangkabau, Didikan Subuh semestinya menjadi kelanjutan dari tradisi surau, tempat anak-anak ditempa disiplin dan tanggung jawab. Namun realitasnya, banyak surau kini hanya ramai saat acara besar. Di luar itu, masjid sepi dari anak-anak. Kita bangga dengan slogan adat basandi syarak, tetapi gagap menjaga denyut praktiknya dalam keseharian.

Allah mengingatkan dengan bahasa yang tidak bisa ditawar:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrīm: 6)³

Memahami Hak dan Kewajiban Suami Istri: Perspektif Tafsir Ahkam

Ayat ini bukan untuk dibingkai dan dipajang, tetapi untuk dijalankan. Menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya soal memberi nafkah atau menyekolahkan anak di tempat mahal, tetapi membiasakan mereka hidup dalam ritme ibadah. Didikan Subuh adalah salah satu alatnya, jika sungguh-sungguh dijalankan.

Tanggung jawab sosial dan ketuhanan

Masalahnya, kita sering menuntut anak saleh, tetapi enggan mengorbankan kenyamanan diri. Kita ingin anak rajin Subuh, tetapi membiarkan televisi dan gawai menyala hingga tengah malam. Kita berharap masjid hidup, tetapi enggan menjadikannya pusat aktivitas keluarga. Dalam kondisi seperti ini, Didikan Subuh berjuang sendirian, sementara rumah justru menjadi penghambatnya.

Hasbi Ash-Shiddieqy menekankan bahwa pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang sadar tanggung jawab sosial dan ketuhanan. Didikan Subuh, jika dijalankan dengan benar, mampu menanamkan kesadaran itu sejak dini. Tetapi jika ia hanya dijadikan agenda rutin tanpa evaluasi, ia akan mati pelan-pelan, masih ada namanya, hilang isinya.

Maka polemik Didikan Subuh hari ini bukan soal perlu atau tidak, melainkan serius atau tidak. Apakah kita masih menganggap Subuh sebagai fondasi hidup, atau sekadar jeda sebelum tidur kembali? Apakah Didikan Subuh masih kita rawat sebagai proses pembentukan karakter, atau cukup kita kenang sebagai nostalgia masa kecil?.

Masa Depan Umat

Sejarah umat tidak dibangun oleh generasi yang nyaman, tetapi oleh generasi yang ditempa. Jika Didikan Subuh benar-benar kita hidupkan kembalid engan keteladanan, disiplin, dan kesadaran kolektif, ia bisa menjadi benteng terakhir di tengah runtuhnya adab publik. Tetapi jika tidak, jangan heran bila kita menuai generasi yang asing dengan masjid, canggung dengan Subuh, dan rapuh menghadapi godaan zaman.

Karena sejatinya, masa depan umat ditentukan sebelum matahari terbit.

Catatan Kaki

  1. Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’: 78.
  2. HR. Abu Dawud, Kitab Ash-Shalah.
  3. Al-Qur’an, QS. At-Tahrīm: 6. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.