Salah satu sastrawan senior asal Kulon Progo (Yogyakarta), Marwanto, memulai tahun 2026 dengan menghadirkan sebuah buku. Ia menandai pergantian tahun ini melalui sebuah karya sastra baru. Marwanto menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Maklumat Cinta.
Buku ini merupakan rekam jejak kreatif yang sangat panjang. Penulis merangkai puisi-puisi di dalamnya sejak tahun 2002 hingga 2022. Meskipun proses penciptaannya berakhir empat tahun lalu, isinya tetap terasa segar.
Relevansi Tema Cinta dan Alam
Marwanto memandang tema dalam bukunya sangat universal. Ia merasa pesan dalam Maklumat Cinta masih sangat relevan. Terlebih, Indonesia menghadapi banyak bencana pada penghujung tahun 2025 yang lalu.
Pria yang menjabat Ketua Bawaslu Kabupaten Kulon Progo ini memberikan pandangannya. Menurutnya, bencana sering terjadi karena manusia kurang bersyukur. Selain itu, manusia mulai meninggalkan sentuhan cinta dalam mengelola alam.
“Meski puisi-puisi di buku ini paling akhir saya cipta tahun 2022, namun karena temanya universal, ya masih relevan dengan kondisi sekarang. Apalagi di penghujung akhir tahun 2025 kemarin banyak bencana di negeri kita,” ungkap Marwanto.
Marwanto mengamati bahwa manusia kini lebih menuruti nafsu duniawi. Banyak orang merasa tidak pernah cukup terhadap materi. Akibatnya, eksploitasi alam terjadi secara besar-besaran. Manusia juga sering mengejar kekuasaan secara mutlak tanpa mau menerima kritik.
Penulis meyakini kekuatan cinta dapat menjaga kehidupan semesta. Jika manusia menebar cinta, keharmonisan alam akan selalu terjaga dengan baik.
Struktur Buku Maklumat Cinta
Penerbit Interlude mengemas buku ini setebal 122+xxii halaman. Terdapat 72 judul puisi yang menghiasi lembaran buku tersebut. Beberapa judul merupakan puisi panjang yang mencapai lebih dari empat halaman.
Marwanto membuka bukunya dengan puisi pendek berjudul “Maklumat”. Berikut adalah petikan larik dalam puisi tersebut:
1/Puisi
kucipta puisi
agar kehidupan berseri
dan ingin terus kucipta puisi
agar embun tak meninggalkan pagi
2/Sajak
kudendangkan sajak
agar zaman berdiri tegak
dan ingin terus kudendangkan sajak
agar cinta tak menghilangkan jejak
Deretan Puisi Berprestasi
Puisi-puisi dalam buku ini bukan karya biasa yang hanya tersimpan di file laptopnya. Marwanto sebelumnya telah memublikasikannya di berbagai media cetak dan daring. Bahkan, beberapa karya telah memenangi lomba cipta puisi tingkat nasional.
Salah satu karya unggulannya berjudul “Celengan Jago Warisan Ibu”. Puisi ini meraih juara pertama pada Pekan Literasi Bank Indonesia tahun 2020.
Prof. Dr. Abdul Wahid BS memberikan apresiasi tinggi terhadap karya tersebut. Guru Besar Pendidikan Bahasa UIN Purwokerto ini menilai Marwanto memiliki logika bahasa yang sangat baik. Penulis mampu menghubungkan perangkat bahasa dengan peristiwa secara apik.
Abdul Wahid menyebut puisi “Celengan Jago” menawarkan nilai filosofis yang luhur. Karya tersebut mampu merangsang imajinasi serta proyeksi bagi para pembacanya.
Selain itu, terdapat puisi “Ombak yang Tak Lagi Galak” dan “Di Ruang Kelas”. Keduanya menyabet penghargaan juara pertama lomba cipta puisi nasional pada tahun 2022. Lomba tersebut diselenggarakan oleh situs negerikertas.com.
Suara Bagi Mereka yang Tak Bersuara
Ardi Wina Saputra, pengajar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, turut memberikan testimoni. Ia menilai Marwanto sukses menangkap makna kehidupan melalui suaranya.
Marwanto berhasil menyuarakan keluh kesah para nelayan melalui puisi. Dalam pandangan Ardi, sastra harus menjadi voice of voiceless atau suara bagi mereka yang tak bersuara.
“Nasib nelayan dalam “Ombak yang Tak Lagi Galak” merupakan keberhasilan penyair menciptakan realitas baru berdasarkan akumulasi realitas lama ditambah dengan imajinya”, ungkap Ardi.
Menunggu Jadwal Peluncuran Resmi
Hingga saat ini, Marwanto belum meluncurkan bukunya secara resmi. Ia masih menimbang tanggal yang tepat untuk acara peluncuran. Penulis juga belum merencanakan kegiatan bedah buku dalam waktu dekat.
”Semoga dalam beberapa waktu ke depan,” tutur Marwanto di sela-sela kesibukannya di kantor Bawaslu Kulon Progo.
Marwanto bukan orang baru dalam dunia kesenian Yogyakarta. Ia pernah memimpin Forum Teater dan Sastra Kulon Progo selama dua periode. Selain itu, ia mengabdi di Dewan Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo selama 13 tahun. Pengalaman panjang ini membuat buku Maklumat Cinta menjadi karya yang sangat matang.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
