Opinion
Beranda » Berita » Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis
Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

 

SURAU.CO – Bagi masyarakat pesisir Bengkalis, laut bukan sekadar bentang alam biru yang membentang di ufuk timur Sumatra. Ia adalah ruang hidup, sumber nafkah, sekaligus penentu masa depan. Dari laut, nelayan menjemput rezeki; dari laut pula masyarakat pesisir membaca tanda-tanda alam, angin, arus, dan pasang surut. Namun di balik kedekatan itu, ada ironi yang kian mengkhawatirkan: laut yang menjadi tumpuan hidup justru semakin rusak oleh ulah manusia.

 

Fenomena abrasi yang menggerus garis pantai Bengkalis, rusaknya mangrove, berkurangnya hasil tangkapan ikan, hingga pencemaran perairan pesisir bukanlah sekadar peristiwa alamiah. Ia adalah akumulasi dari relasi manusia yang tidak lagi berangkat dari amanah. Padahal, dalam pandangan Islam, laut merupakan ayat Allah, tanda kebesaran-Nya, yang harus diperlakukan dengan tanggung jawab, bukan keserakahan.

 

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Allah Ta‘ala mengingatkan manusia:

> ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…” (QS. ar-Rūm: 41).¹

 

Ayat ini seakan menjadi cermin bagi kondisi pesisir Bengkalis hari ini. Kerusakan laut bukan datang tiba-tiba, melainkan lahir dari pilihan-pilihan manusia yang mengabaikan keseimbangan alam.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

Taman Laut: Ekosistem yang Menjaga Kehidupan

Taman laut sering kali dipersempit maknanya sebagai kawasan wisata bahari. Padahal, dalam konteks ekologis, taman laut mencakup seluruh ekosistem pesisir dan perairan yang menopang kehidupan: terumbu karang, padang lamun, mangrove, hingga habitat ikan dan biota laut lainnya.

 

Di perairan Bengkalis dan Riau pada umumnya, mangrove memegang peranan vital. Ia menjadi benteng alami dari abrasi, tempat bertelurnya ikan dan udang, sekaligus penyangga keseimbangan ekosistem pesisir. Ketika mangrove ditebang atau dibiarkan rusak, maka laut kehilangan pelindungnya, dan daratan kehilangan penjaganya.

 

Islam memandang alam sebagai sistem yang diciptakan dengan ukuran dan keseimbangan. Allah berfirman:

Mitos Dewa Kristen di Balik Bulan Masehi

 

> وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ۝ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

“Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan keseimbangan, agar kamu tidak melampaui batas dalam keseimbangan itu.” (QS. ar-Raḥmān: 7–8).²

 

Keseimbangan (mīzān) ini tidak hanya berlaku di langit, tetapi juga di laut. Ketika manusia melampaui batas, menangkap ikan secara berlebihan, merusak mangrove, atau mencemari perairan, maka ia sedang merusak sistem yang telah Allah tetapkan.

Antara Nelayan Kecil dan Kerusakan Besar

Ironi lain di pesisir Bengkalis adalah posisi nelayan kecil yang kerap menjadi korban ganda. Di satu sisi, mereka sangat bergantung pada laut; di sisi lain, merekalah yang paling merasakan dampak kerusakan. Hasil tangkapan menurun, jarak melaut semakin jauh, dan risiko keselamatan semakin besar.

 

Namun, dalam banyak kasus, nelayan kecil justru sering diposisikan sebagai pihak yang disalahkan. Sementara itu, praktik perusakan berskala besar—baik melalui pencemaran, alih fungsi pesisir, maupun eksploitasi berlebihan, kerap luput dari pengawasan serius.

 

Dalam Islam, tanggung jawab menjaga alam bersifat kolektif. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

 

> إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya dunia itu indah dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim).³

 

Hadis ini menegaskan bahwa manusia adalah khalifah, pengelola, bukan perusak. Keindahan laut dan taman pesisir adalah ujian: apakah manusia menjaga atau justru mengkhianati amanah tersebut.

Dakwah Ekologis dari Pesisir

Sudah saatnya isu taman laut dan lingkungan pesisir menjadi bagian dari agenda dakwah. Di Bengkalis dan wilayah pesisir Riau, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat kesadaran sosial dan ekologis.

 

Dakwah yang memisahkan iman dari kepedulian terhadap lingkungan sejatinya dakwah yang kehilangan ruh. Al-Qur’an secara tegas melarang perbuatan merusak bumi setelah Allah memperbaikinya:

 

> وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A‘rāf: 56).⁴

 

Menjaga laut, mangrove, dan taman pesisir bukan agenda asing dalam Islam. Ia adalah bagian dari ketaatan dan wujud syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Pendidikan dan Kebijakan: Jalan Panjang Perubahan

Kesadaran menjaga taman laut tidak cukup dengan imbauan moral. Ia membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian. Anak-anak pesisir perlu diajarkan sejak dini bahwa laut bukan tempat sampah, bukan ladang eksploitasi tanpa batas, melainkan ruang hidup bersama yang harus dijaga.

 

Di sisi lain, kebijakan negara dan daerah harus tegas dalam melindungi ekosistem pesisir. Penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan adalah bagian dari keadilan.

Ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, yang lahir bukan kesejahteraan, melainkan krisis berkepanjangan.

Penutup

Taman laut di pesisir Bengkalis adalah amanah yang kian terlupakan. Kerusakannya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan iman dan tanggung jawab moral. Islam tidak pernah memisahkan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap ciptaan-Nya.

 

Menjaga laut adalah bagian dari ibadah sosial. Merawat taman laut adalah bentuk syukur. Dan membiarkannya rusak adalah dosa yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Jika laut hari ini menangis, sesungguhnya ia sedang mengingatkan manusia agar kembali pada amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Catatan Kaki (Footnote)

¹ QS. ar-Rūm (30): 41.

² QS. ar-Raḥmān (55): 7–8.

³ HR. Muslim, no. 2742.

⁴ QS. al-A‘rāf (7): 56. (Tengku Iskandar: Aktivis Dakwah dan Pendidikan Masyarakat Pesisir Bengkalis, Riau)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.