SURAU.CO – Di sebuah perjalanan kehidupan, hiduplah tiga saudara yang sebenarnya satu asal, namun berjalan dengan cara yang berbeda.
Mereka dikenal sebagai Saudara 3 in 1. Yang pertama bernama Akal. Yang kedua bernama Hati. Yang ketiga bernama Nafsu.
Ketiganya lahir dari satu diri manusia, tinggal dalam satu tubuh, namun sering berjalan saling mendahului bahkan saling bertentangan.
Suatu hari, mereka sepakat melakukan perjalanan panjang untuk mencari Teman Sejati. Bukan teman untuk tertawa sesaat, tetapi teman yang setia menemani dalam suka, duka, benar, dan salah.
Perjalanan Akal
Akal berjalan paling depan. Ia cerdas, penuh perhitungan, membawa peta dan buku tebal. Akal bertanya pada banyak orang
“Siapa teman sejati yang paling menguntungkan dan rasional?” Ia bertemu orang pandai, berilmu tinggi, berwibawa.
Namun ketika Akal jatuh dan salah langkah, mereka berkata “Itu bukan urusanku.” Akal mulai lelah.
Ia sadar, kepintaran tidak selalu melahirkan kesetiaan.
Perjalanan Nafsu
Nafsu berjalan paling cepat. Ia mudah tertawa, mudah marah, mudah tertarik.
Ia mencari teman yang bisa memuaskan keinginannya. Ia menemukan banyak kawan. Yang memuji, yang bersenang-senang, yang berjanji setia.
Namun ketika Nafsu kehilangan kesenangan, satu per satu pergi. Bahkan ada yang berbalik menjadi musuh. Nafsu pun terdiam. Ia sadar, kenikmatan tidak melahirkan ketulusan.
Perjalanan Hati
Hati berjalan paling pelan. Ia sering berhenti, mendengar, dan merasakan.
Hati tidak banyak bertanya, hanya memperhatikan. Hati bertemu orang sederhana.
yang mau mendengar tanpa menghakimi,
yang menasihati tanpa merendahkan,
yang diam namun hadir saat dibutuhkan.
Orang itu tidak menjanjikan apa apa,
namun tidak pergi saat Hati terluka.
Hati pun tersenyum, dan berkata pelan “Inilah Teman Sejati.”
Pertemuan Kembali
Ketiga saudara itu akhirnya berkumpul kembali.
Akal berkata “Aku menemukan banyak ilmu, tapi sedikit kesetiaan.”
Nafsu berkata “Aku menemukan banyak kesenangan, tapi tidak ada yang bertahan.”
Hati berkata “Aku menemukan satu yang sederhana, tapi ia tidak meninggalkanku.”
Saat itulah mereka sadar, Teman Sejati bukan yang paling pintar, bukan yang paling menyenangkan, melainkan yang paling jujur menemani kita mendekat kepada kebenaran.
Dan mereka pun memahami satu hikmah besar
Teman Sejati, sejatinya adalah ketika Akal tunduk pada Kebenaran,
Nafsu terkendali oleh Kesadaran, dan Hati terhubung dengan Sang Pemilik Hati.
Kata Penutup Hikmah
Manusia sering mencari teman di luar, padahal Teman Sejati dimulai dari dalam diri.
Jika Akal, Hati, dan Nafsu berdamai, maka Alloh menghadirkan teman sejati di jalan kehidupan
tanpa kita harus memaksanya.
“Ketika hatimu lurus, Alloh yang memilihkan siapa yang pantas berjalan bersamamu.”
Hikmah Ilmu “Tentang Kehadiran dan KeberadaanNya”
Pada suatu ketika, ada seorang pencari ilmu yang gelisah.
Ia rajin belajar, hafal banyak kitab, menguasai banyak rumus, tetapi hatinya terasa kosong.
Ia bertanya dalam diam, “Jika Tuhan itu ada, mengapa aku sering merasa sendiri?”
Suatu pagi ia duduk di tepi sungai. Air mengalir tanpa suara, namun tak pernah berhenti.
Ia memperhatikan: sungai tidak berteriak “aku ada”, namun setiap makhluk yang haus tahu bahwa sungai itu hadir.
Di situlah hikmah pertama menyentuhnya.
KeberadaanNya tidak menunggu pengakuan, dan kehadiranNya tidak menuntut pembuktian.
Kehadiran Sesuatu
Seperti udara:
tak terlihat, tak dipuji, namun tanpanya tak ada satu tarikan napas pun yang hidup.
Pencari itu lalu sadar:
selama ini ia mencari
Tuhan sebagai objek, padahal Tuhan adalah kehadiran yang memungkinkan segala sesuatu ada.
Ia melihat pohon:
akar tak pernah terlihat, tapi menentukan tegaknya batang.
Ia melihat dirinya sendiri, akal berpikir, jantung berdetak, napas keluar-masuk
siapa yang mengatur irama itu saat ia tidur?
Maka turunlah hikmah kedua:
KeberadaanNya bukan di luar, tetapi meliputi dalam dan luar sekaligus.
Bukan “di mana Tuhan berada”, melainkan “tanpa Dia, di mana kita bisa berada?”.
Pada malam hari, ia berdzikir tanpa suara
Bukan untuk meminta, bukan untuk memahami, hanya untuk hadir.
Dan saat ia benar-benar hadir, ia merasakan sesuatu yang halus:
Tuhan tidak datang, karena sejak awal Dia tidak pernah pergi
Itulah hikmah ketiga:
Yang sering hilang bukan kehadiranNya, melainkan kesadaran kita akan keberadaanNya.
Sejak saat itu, ia belajar dengan cara baru.
Ilmu tidak lagi membuatnya sombong, karena setiap pengetahuan mengingatkannya:
“Jika aku bisa memahami, itu karena ada Yang Mengizinkan pemahaman terjadi.”
Ia bekerja, berbuat, meneliti, mengajar namun hatinya tenang.
Karena ia tahu:
KeberadaanNya adalah sebab,
kehadiranNya adalah makna.
Dan manusia,
hanya diminta satu hal yaitu “Sadar”. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
