SURAU.CO – Di tengah semangat sebagian umat Islam untuk kembali kepada identitas keislaman, beredar sebuah klaim yang terdengar lantang namun problematis: bahwa bulan-bulan dalam kalender Masehi berasal dari “dewa-dewa Kristen” dan karenanya patut dijauhi. Klaim ini sekilas tampak religius, tetapi ketika diuji dengan disiplin ilmu sejarah, justru memperlihatkan kerapuhan nalar dan ketergesaan dalam beragama.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membela kalender Masehi secara ideologis, melainkan untuk meluruskan kekeliruan, sebab Islam tidak dibangun di atas mitos, melainkan di atas ilmu, keadilan, dan ketepatan hujjah.
Kalender Masehi: Warisan Romawi, Bukan Teologi Kristen
Kalender Masehi yang hari ini digunakan secara global bukanlah produk ajaran Kristen, apalagi hasil doktrin ketuhanan gereja. Ia merupakan kelanjutan dari kalender Romawi kuno, khususnya Kalender Julian yang ditetapkan oleh Julius Caesar pada tahun 46 sebelum Masehi. Fakta ini terjadi jauh sebelum kelahiran Nabi Isa عليه السلام, apalagi sebelum Kristen menjadi agama resmi kekaisaran.
Nama-nama bulan seperti Januari, Maret, dan Juni memang berasal dari mitologi, tetapi mitologi tersebut adalah mitologi Romawi pagan, bukan mitologi Kristen:
Januari dari Janus, dewa bermuka dua dalam kepercayaan Romawi.
Maret dari Mars, dewa perang Romawi.
Juni dari Juno, dewi rumah tangga dan pernikahan.
Sementara Juli dan Agustus diambil dari nama tokoh politik Romawi, yakni Julius Caesar dan Kaisar Augustus. Adapun September hingga Desember berasal dari angka Latin (septem sampai decem). Semua ini adalah fakta sejarah yang tercatat rapi dalam literatur klasik Barat.
Maka, mengaitkan nama-nama bulan tersebut dengan “dewa-dewa Kristen” adalah kesalahan fatal dalam membaca sejarah.
Kristen: Pewaris Sistem, Bukan Pencipta Nama Bulan
Ketika Kekaisaran Romawi mengadopsi Kristen pada abad ke-4 M, gereja tidak membangun sistem kalender baru. Ia mewarisi sistem administrasi yang telah ada, termasuk kalender, lalu menggunakannya untuk keperluan sipil dan penentuan hari raya.
Tidak ada bukti historis bahwa gereja menciptakan atau mensyariatkan nama-nama bulan tersebut sebagai bagian dari akidah Kristen.
Dengan kata lain, kalender Masehi adalah alat administrasi, bukan simbol teologis. Menyebutnya sebagai “produk dewa Kristen” bukan hanya keliru, tetapi juga mencampuradukkan antara sejarah politik Romawi, mitologi pagan, dan tradisi gerejawi secara serampangan.
Islam dan Penanggalan: Antara Sakral dan Fungsional
Islam memiliki pandangan yang sangat jernih dalam soal waktu. Allah Ta’ala menegaskan bahwa sistem bulan telah ditetapkan sejak awal penciptaan:
> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi.”
(QS. At-Taubah: 36)¹
Namun ayat ini berbicara tentang ketetapan kosmik, bukan pembatasan teknis administrasi. Dalam praktik ibadah, Rasulullah ﷺ menegaskan penggunaan kalender qamariyah:
> صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)²
Hadis ini menegaskan bahwa ibadah mahdhah memang terikat dengan kalender Hijriyah. Tetapi tidak satu pun nash yang mengharamkan penggunaan sistem penanggalan lain untuk urusan dunia.
Ijma’ Praktis Ulama: Kalender sebagai Alat, Bukan Akidah
Sejarah Islam justru menunjukkan sikap yang sangat realistis. Penetapan kalender Hijriyah pada masa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه dilakukan untuk kebutuhan administrasi negara, bukan untuk menafikan sistem lain. Bahkan, penetapan itu sendiri merupakan hasil ijtihad sahabat, bukan perintah tekstual langsung dari Nabi ﷺ.
Ibnu Taimiyah رحمه الله menegaskan bahwa perkara duniawi yang tidak mengandung unsur ibadah berada dalam wilayah adat:
“الأصل في العادات الإباحة إلا ما دل الدليل على تحريمه”³
“Hukum asal perkara adat adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Menggunakan kalender Masehi untuk administrasi, pendidikan, atau hubungan internasional tidak serta-merta menjadikan seseorang terjatuh dalam tasyabbuh akidah, apalagi syirik.
Ketika Semangat Beragama Kehilangan Ketelitian Ilmu
Masalah utama dari klaim “dewa-dewa Kristen” bukan sekadar kesalahan faktual, tetapi metode berpikir. Ketika sentimen mengalahkan ilmu, agama justru kehilangan wibawanya. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci sesuatu tanpa dasar yang adil dan ilmiah.
Allah Ta’ala mengingatkan:
> وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. al-Ma’idah: 8)⁴
Ayat ini relevan bukan hanya dalam konflik politik, tetapi juga dalam menilai sejarah dan fakta peradaban lain.
Penutup: Antara Identitas dan Kecerdasan Beragama
Kalender Masehi bukanlah produk Kristen, apalagi dewa-dewa Kristen. Ia adalah warisan Romawi pagan yang kemudian dipakai dunia sebagai alat administrasi global. Islam, dengan keluhuran manhajnya, tidak merasa terancam oleh alat duniawi selama ibadah dan akidah tetap terjaga.
Yang lebih berbahaya dari penggunaan kalender non-Hijriyah adalah cara berpikir yang tidak ilmiah, mudah menghakimi, dan gemar menyederhanakan sejarah. Dakwah yang kuat bukanlah dakwah yang emosional, melainkan dakwah yang jujur pada fakta dan kokoh dalam hujjah.
Catatan Kaki (Footnote)
- Al-Qur’an al-Karim, QS. At-Taubah [9]: 36.
-
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ash-Shaum; Muslim, Shahih Muslim, Kitab ash-Shiyam.
-
Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, Jilid 29, hlm. 17.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Ma’idah [5]: 8. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
