Dunia modern saat ini menghadapi tantangan polarisasi ideologi yang sangat tajam. Perbedaan pandangan seringkali memicu perpecahan yang merusak tatanan sosial masyarakat. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Jauh pada masa keemasan Islam, ulama besar Ibnu Hazm Al-Andalusi telah membedah masalah ini. Melalui mahakaryanya, Al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal, ia memberikan peta jalan intelektual. Kita dapat menggunakan pemikiran tersebut untuk membangun narasi persatuan yang kokoh saat ini.
Mengenal Kitab Al-Fashl dan Sosok Ibnu Hazm
Ibnu Hazm merupakan seorang pemikir besar dari Andalusia yang hidup pada abad ke-11. Ia menulis kitab Al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal sebagai respons atas keragaman aliran. Kitab ini tidak sekadar berisi kritik terhadap kelompok lain. Ibnu Hazm menyusun argumen secara sistematis untuk mencari kebenaran yang hakiki. Ia menolak sikap fanatisme buta yang sering menjadi akar perpecahan di masyarakat.
Ibnu Hazm memandang bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Namun, ia menekankan pentingnya kejujuran intelektual dalam menghadapi perbedaan tersebut. Tanpa kejujuran, perbedaan hanya akan berujung pada permusuhan yang tidak berkesudahan. Kitab ini menjadi rujukan penting dalam studi perbandingan agama dan sekte di dunia.
Menghadapi Polarisasi dengan Kejujuran Intelektual
Polarisasi hari ini sering terjadi karena orang lebih mendahulukan sentimen daripada data. Ibnu Hazm mengajarkan kita untuk selalu merujuk pada teks dan logika yang jernih. Beliau sangat membenci sikap taqlid atau mengikuti pendapat tanpa dasar yang kuat. Menurutnya, narasi persatuan harus tegak di atas pondasi ilmu pengetahuan yang objektif.
Dalam kitabnya, Ibnu Hazm menulis kutipan penting mengenai pencarian kebenaran:
“Sesungguhnya kebenaran itu satu dan tidak ada duanya; apa yang melampaui kebenaran itu hanyalah kesesatan.”
Kutipan ini mengajak kita untuk mencari titik temu yang objektif. Persatuan tidak akan tercapai jika masing-masing pihak mempertahankan ego kelompoknya sendiri. Kita harus berani mengakui kebenaran meskipun itu datang dari pihak lawan. Inilah esensi dari narasi persatuan yang ingin Ibnu Hazm sampaikan kepada pembaca.
Metode Dialektika untuk Mengurangi Ketegangan
Ibnu Hazm menggunakan metode debat yang tajam namun tetap berpegang pada fakta. Ia selalu berusaha memahami pendapat lawan bicara secara utuh sebelum memberikan bantahan. Hal ini sangat relevan untuk meredam polarisasi di media sosial sekarang. Seringkali, kita menyerang orang lain tanpa memahami posisi mereka yang sebenarnya.
Membangun narasi persatuan memerlukan kesediaan untuk mendengar secara mendalam. Ibnu Hazm menunjukkan bahwa dialog yang sehat membutuhkan kecerdasan dan integritas. Kita tidak boleh memutarbalikkan fakta hanya untuk memenangkan sebuah argumen ideologis. Persatuan bangsa akan terwujud jika semua pihak mengedepankan dialog yang jujur dan terbuka.
Pentingnya Moderasi dalam Berpikir
Meskipun terkenal tegas, Ibnu Hazm tetap menekankan pentingnya batasan dalam berselisih. Beliau mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam hawa nafsu saat mempertahankan pendapat. Kitab Al-Fashl mengajarkan kita untuk mengategorikan perbedaan secara proporsional. Ada perbedaan yang bersifat fundamental, namun banyak pula yang hanya bersifat cabang.
Ibnu Hazm menegaskan posisi ini dengan kalimat:
“Tidak ada yang lebih merusak agama dan dunia selain orang-orang yang merasa benar sendiri tanpa landasan ilmu.”
Pernyataan tersebut menjadi pengingat keras bagi para penyebar kebencian di ruang publik. Narasi persatuan harus mampu merangkul keragaman tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing kelompok. Kita perlu fokus pada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
Mengimplementasikan Pemikiran Ibnu Hazm di Era Digital
Bagaimana kita menerapkan pemikiran Ibnu Hazm dalam konteks masyarakat digital saat ini? Pertama, kita harus melakukan verifikasi informasi sebelum menyebarkannya ke khalayak luas. Kedua, kita perlu menghindari penggunaan kata-kata yang merendahkan martabat orang lain. Ketiga, kita harus fokus pada substansi masalah daripada menyerang kepribadian seseorang.
Ibnu Hazm mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci utama menuju perdamaian sejati. Dengan memperluas wawasan, kita akan lebih bijaksana dalam melihat sebuah perbedaan. Narasi persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan berarti kita setuju untuk saling menghormati di tengah perbedaan yang ada.
Kesimpulan
Kitab Al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal tetap relevan hingga ribuan tahun lamanya. Ibnu Hazm telah memberikan warisan intelektual yang sangat berharga bagi umat manusia. Kita dapat belajar cara mengelola perbedaan pendapat dengan cara yang sangat elegan. Mari kita bangun narasi persatuan dengan mengedepankan logika, data, dan rasa hormat. Dengan cara ini, polarisasi ideologi tidak akan mampu merobek jalinan persaudaraan kita. Kita harus yakin bahwa ilmu pengetahuan akan selalu mampu mengalahkan kegelapan fanatisme.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
