Dunia digital hari ini menghadapi tantangan besar berupa banjir informasi palsu atau hoaks. Setiap hari, pengguna internet menerima ribuan pesan yang belum tentu kebenarannya. Islam sebenarnya telah memiliki sistem filter informasi yang sangat canggih sejak abad ke-3 Hijriah. Imam Muslim bin Al-Hajjaj, dalam mahakaryanya Muqaddimah Shahih Muslim, meletakkan fondasi kuat mengenai pentingnya verifikasi atau tabayyun dan kritik sumber (kritik sanad).
Urgensi Meneliti Pembawa Berita
Imam Muslim memulai kitabnya dengan peringatan keras bagi siapa saja yang menyampaikan informasi tanpa menyaringnya. Beliau menekankan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban moral untuk memastikan validitas sebuah berita sebelum menyebarkannya. Dalam pandangan Imam Muslim, menyebarkan berita dari sembarang orang merupakan tindakan yang membahayakan integritas agama dan sosial.
Beliau menuliskan sebuah kutipan penting dalam Muqaddimah-nya:
“Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kewajiban bagi setiap orang yang mampu membedakan antara riwayat yang shahih dan yang dhaif, serta antara perawi yang terpercaya dan yang tertuduh dusta, adalah tidak meriwayatkan kecuali riwayat yang telah diketahui keshahihan para perawinya dan selamat dari cacat.”
Prinsip ini sangat relevan untuk menghadapi fenomena “share” cepat di media sosial. Kita sering kali terjebak dalam membagikan konten hanya karena judulnya yang bombastis. Padahal, Imam Muslim mengajarkan kita untuk melihat siapa yang berbicara sebelum kita mempercayai apa yang mereka bicarakan.
Sanad Sebagai Identitas Informasi
Dalam tradisi hadis, sanad atau rantai transmisi adalah jantung dari sebuah kebenaran informasi. Tanpa sanad, seseorang bisa berkata apa saja sesuai keinginan hawa nafsunya. Imam Muslim mengutip pernyataan ulama tabiin besar, Muhammad bin Sirin, yang sangat masyhur:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Kutipan ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya otoritas dan kredibilitas sumber. Di era modern, “sanad” bisa kita maknai sebagai rekam jejak sebuah akun, situs web, atau tokoh publik. Apakah sumber tersebut memiliki integritas? Apakah mereka sering menyebarkan berita bohong sebelumnya? Jika sumbernya bermasalah, maka informasinya harus kita tolak mentah-mentah, meskipun isinya terlihat menarik.
Etika Mendengar dan Menyampaikan Informasi
Imam Muslim juga mengingatkan bahwa sekadar menceritakan semua yang kita dengar adalah salah satu bentuk kebohongan. Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
Kalimat ini menjadi teguran keras bagi para pengguna media sosial yang gemar melakukan copy-paste tanpa verifikasi. Ketika kita meneruskan pesan yang ternyata hoaks, kita telah mengambil peran sebagai pendusta. Kita ikut menyebarkan racun yang dapat merusak tatanan masyarakat dan memicu perpecahan.
Kritik sanad ala Imam Muslim mengajak kita menjadi “detektif informasi”. Kita tidak hanya menilai isi berita (matan), tetapi juga menyelidiki siapa pembawanya. Jika si pembawa berita memiliki sifat pelupa, sering berdusta, atau memiliki agenda tersembunyi, maka informasinya tidak layak kita konsumsi, apalagi kita sebarkan.
Implementasi Kritik Sanad di Era Digital
Bagaimana kita menerapkan metode Imam Muslim saat ini? Pertama, lakukan tabayyun dengan mencari sumber asli informasi tersebut. Kedua, periksa kredibilitas media atau akun yang mengunggah berita tersebut. Ketiga, pastikan apakah ada pakar atau otoritas terkait yang memvalidasi berita tersebut.
Imam Muslim mengajarkan bahwa kejujuran adalah harga mati dalam penyampaian informasi. Beliau sangat ketat dalam menyeleksi perawi hadis. Beliau hanya menerima riwayat dari orang-orang yang memiliki ketaatan beragama (‘adalah) dan akurasi ingatan yang kuat (dhabth).
Jika prinsip ini kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, hoaks tidak akan mendapatkan ruang untuk tumbuh. Masyarakat akan lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak jelas asal-usulnya. Tradisi kritik sanad adalah warisan intelektual Islam yang harus kita hidupkan kembali sebagai tameng menghadapi disinformasi global.
Kesimpulan
Melawan hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau penyedia layanan internet. Ini adalah tanggung jawab setiap individu Muslim. Mengikuti jejak Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim berarti kita menghargai kebenaran dan menjaga kejujuran. Mari kita jadikan tabayyun sebagai gaya hidup digital agar kita terhindar dari dosa menyebarkan dusta. Dengan memegang teguh prinsip kritik sanad, kita ikut menjaga kewarasan publik dan marwah ajaran agama dari pengaruh berita bohong.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
