Sosok
Beranda » Berita » Etika Berdebat di Media Sosial: Meneladani Kesantunan KH Hasyim Asy’ari

Etika Berdebat di Media Sosial: Meneladani Kesantunan KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari
Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang, pendiri Nahdlatul Ulama, adalah guru paripurna.

Dunia digital saat ini sering menjadi panggung perdebatan yang panas dan penuh caci maki. Pengguna internet seringkali melupakan nilai-nilai kesantunan saat mempertahankan pendapat mereka. Padahal, Islam telah mengatur bagaimana cara bertukar pikiran yang sehat dan bermartabat. Kita bisa mengambil pelajaran berharga dari KH Hasyim Asy’ari melalui karya monumentalnya, kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim.

KH Hasyim Asy’ari menulis kitab ini sebagai panduan bagi pencari ilmu dan pengajar. Beliau menekankan bahwa ilmu tanpa adab tidak akan membawa keberkahan. Prinsip ini sangat relevan jika kita terapkan sebagai etika berdebat di media sosial masa kini.

Mengutamakan Niat dan Kejujuran

Dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya niat yang tulus. Beliau menyatakan bahwa tujuan mencari ilmu adalah untuk mengharap rida Allah dan mengamalkannya. Saat berdebat di media sosial, tanyakan pada diri sendiri: apakah kita mencari kebenaran atau hanya ingin menang sendiri?

Ulama salaf selalu menempatkan kebenaran di atas ego pribadi. Mereka tidak merasa malu jika pendapat lawan ternyata lebih benar. Sebaliknya, netizen zaman sekarang seringkali terjebak dalam kesombongan intelektual. Mereka memaksakan pendapat meskipun bukti-bukti sahih sudah terpampang nyata di depan mata.

Menghindari Debat Kusir yang Memecah Belah

KH Hasyim Asy’ari mengingatkan para penuntut ilmu agar menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat. Beliau menulis:

Menyelami Biografi Achjat Irsjad: Kiai Penggerak dari Banyuwangi

“Hendaknya ia (pelajar) menjauhi perdebatan dan perselisihan yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan lawan atau memamerkan keunggulan diri.”

Kalimat ini menjadi teguran keras bagi kita semua. Media sosial sering memicu debat kusir yang hanya menguras energi dan merusak persaudaraan. Jika perdebatan sudah mengarah pada penghinaan fisik atau fitnah, maka berhentilah segera. Kesantunan ulama salaf mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan jempol dari kata-kata yang menyakitkan.

Menghormati Perbedaan Pendapat

Salah satu poin penting dalam etika berdebat di media sosial adalah menghargai perspektif orang lain. KH Hasyim Asy’ari memberikan contoh betapa para ulama terdahulu sangat menghormati perbedaan furu’iyah (cabang agama). Mereka berdebat dengan landasan argumen yang kuat, bukan dengan emosi yang meledak-ledak.

Beliau menekankan agar seorang alim atau terpelajar tetap bersikap tawadhu (rendah hati). Jangan pernah meremehkan orang lain hanya karena mereka memiliki tingkat pendidikan yang berbeda. Di kolom komentar, kita sering melihat orang saling merendahkan dengan sebutan kasar. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran kesantunan yang KH Hasyim Asy’ari wariskan.

Verifikasi Informasi Sebelum Berargumen

Kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim juga mengajarkan ketelitian dalam menukil ilmu. KH Hasyim Asy’ari mewajibkan para pelajar untuk memastikan kebenaran sumber referensi mereka. Dalam konteks digital, ini berarti kita harus melakukan tabayyun atau verifikasi informasi.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Jangan menyebarkan berita bohong atau kutipan palsu hanya untuk memenangkan debat. Menggunakan data yang salah untuk menjatuhkan lawan bicara adalah tindakan yang tidak bermartabat. Gunakanlah bahasa yang santun dan fakta yang akurat agar diskusi memberikan manfaat bagi banyak orang.

Etika Menanggapi Komentar Negatif

Bagaimana jika kita menghadapi netizen yang menyerang secara personal? KH Hasyim Asy’ari mengajarkan kesabaran sebagai bagian dari adab. Beliau menyarankan agar kita tetap tenang dan tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.

Menjaga kemuliaan diri lebih penting daripada memenangkan komentar di unggahan viral. Jika tujuan berdebat adalah untuk saling menasihati, maka lakukanlah dengan cara yang lembut. Sebagaimana pesan dalam kitab tersebut, tutur kata yang halus lebih mudah diterima oleh hati daripada hardikan yang keras.

Kesimpulan

Menerapkan etika berdebat di media sosial sesuai panduan KH Hasyim Asy’ari adalah kebutuhan mendesak. Kita harus mengembalikan marwah diskusi di ruang publik menjadi sarana belajar, bukan sarana menghujat. Dengan meneladani kesantunan ulama salaf, kita bisa menciptakan iklim digital yang lebih sehat dan sejuk.

Mari kita jadikan setiap unggahan dan komentar sebagai ladang pahala, bukan sumber dosa. Ingatlah bahwa setiap kata yang kita tulis akan mendapat pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Adab selalu menempati posisi yang lebih tinggi daripada sekadar keluasan ilmu pengetahuan.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.