Dunia modern saat ini sering kali menjebak manusia dalam sekat-sekat individualisme yang sangat tebal. Banyak orang lebih peduli pada layar ponsel daripada menyapa tetangga yang berada di samping rumah mereka. Fenomena ini menciptakan kerenggangan sosial yang cukup memprihatinkan dalam kehidupan bermasyarakat. Islam sebagai agama yang komprehensif telah memberikan solusi nyata melalui konsep kesalehan sosial. Salah satu referensi utama yang membahas hal ini adalah kitab Al-Adab Al-Mufrad karya ulama besar, Imam Al-Bukhari.
Kitab ini tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual antara hamba dan penciptanya. Imam Al-Bukhari secara khusus merangkum ribuan hadis yang menitikberatkan pada akhlak dan etika bersosialisasi. Melalui kitab ini, kita dapat belajar bagaimana membangun kembali fondasi kesalehan sosial di tengah masyarakat yang semakin egois.
Makna Kesalehan Sosial dalam Islam
Kesalehan sosial bukan sekadar label bagi mereka yang rajin bersedekah secara finansial. Maknanya jauh lebih dalam, yakni kemampuan seseorang untuk mencerminkan nilai-nilai iman dalam interaksi kemanusiaan. Seorang muslim yang saleh secara sosial akan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad menekankan bahwa kualitas iman seseorang sangat bergantung pada cara ia memperlakukan manusia lain. Tanpa adab yang baik, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan iman yang hakiki.
Memulai dari Lingkaran Terdekat: Orang Tua dan Kerabat
Kitab Al-Adab Al-Mufrad menempatkan bab berbakti kepada orang tua (Birrul Walidain) pada bagian awal. Ini menunjukkan bahwa kesalehan sosial harus bermula dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Masyarakat yang individualis sering kali melupakan peran orang tua ketika mereka sudah mencapai kesuksesan pribadi.
Imam Al-Bukhari mencantumkan hadis tentang pentingnya menyambung tali silaturahmi. Menjaga hubungan dengan kerabat merupakan kunci pembuka pintu rezeki dan umur yang berkah. Dalam masyarakat modern, silaturahmi sering kali terputus hanya karena perbedaan status sosial atau kesibukan pekerjaan. Kitab ini mengingatkan kita untuk meruntuhkan ego tersebut demi keharmonisan keluarga.
Menghidupkan Kembali Etika Bertetangga
Salah satu masalah utama dalam masyarakat individualis adalah hilangnya rasa peduli terhadap tetangga. Orang bisa tinggal bertahun-tahun di sebuah kompleks perumahan tanpa mengetahui nama orang di sebelah rumahnya. Imam Al-Bukhari membawa pesan yang sangat kuat tentang hak tetangga dalam kitabnya.
Ada kutipan hadis yang sangat masyhur dalam kitab ini:
“Jibril senantiasa berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira bahwa tetangga akan mendapatkan harta waris.”
Pesan ini menginstruksikan umat Islam untuk tidak bersikap apatis. Kita harus memperhatikan kondisi tetangga, membantu mereka saat kesulitan, dan berbagi makanan jika memiliki kelebihan. Kesalehan sosial menuntut kita untuk menjadi penjaga bagi keamanan dan kenyamanan orang-orang di sekitar kita.
Adab dalam Berinteraksi dan Berbicara
Masyarakat individualis cenderung memiliki gaya komunikasi yang kasar atau terlalu dingin. Al-Adab Al-Mufrad mengajarkan kita untuk selalu menjaga lisan dan menunjukkan wajah yang berseri-seri. Senyum tulus kepada sesama muslim merupakan sedekah yang paling mudah untuk kita lakukan.
Imam Al-Bukhari menekankan pentingnya menjauhi sifat sombong dan mencela orang lain. Di era media sosial, di mana setiap orang bebas berkomentar, ajaran ini menjadi sangat relevan. Kita harus menggunakan lisan untuk membangun semangat, bukan untuk meruntuhkan mental orang lain. Dengan menjaga etika berbicara, kita secara otomatis membangun lingkungan sosial yang sehat dan suportif.
Menolong yang Lemah sebagai Bentuk Keimanan
Kesalehan sosial juga menuntut kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Masyarakat yang individualis sering kali menganggap kemiskinan orang lain bukan sebagai urusan mereka. Namun, Imam Al-Bukhari melalui hadis-hadisnya menegaskan bahwa menyantuni mereka yang lemah adalah jalan menuju surga.
Membangun kesalehan sosial berarti kita harus aktif terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Kita tidak boleh membiarkan ada orang yang kelaparan sementara kita tidur dalam keadaan kenyang. Prinsip empati inilah yang akan menghancurkan dinding pembatas dalam masyarakat yang egois.
Kesimpulan
Meneladani ajaran Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad adalah langkah konkret untuk memperbaiki tatanan sosial. Kita perlu menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dengan mempraktikkan adab yang baik kepada orang tua, tetangga, dan masyarakat umum, kita bisa menciptakan kedamaian. Mari kita bangun kesalehan sosial mulai dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil di sekitar kita. Akhlak yang mulia adalah identitas sejati seorang muslim di tengah dunia yang semakin individualis.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
