Dunia digital hari ini mengubah cara manusia berinteraksi secara drastis. Media sosial kini menjadi panggung raksasa bagi setiap individu. Fenomena narsisme digital tumbuh subur melalui fitur likes, shares, dan komentar. Sayangnya, tren ini seringkali memicu munculnya berbagai penyakit hati yang merusak iman.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Tazkiyatun Nafs memberikan panduan mendalam. Beliau menjelaskan bagaimana seorang Muslim harus menjaga hatinya dari kotoran batin. Di tengah riuhnya konten visual, kita perlu menilik kembali kesehatan jiwa kita sendiri.
Memahami Narsisme Digital sebagai Tantangan Zaman
Narsisme digital merujuk pada perilaku pamer yang berlebihan di dunia maya. Pengguna seringkali merasa butuh pengakuan dari orang lain secara konstan. Hal ini selaras dengan peringatan para ulama mengenai penyakit hati. Hati yang sakit akan selalu haus akan pujian makhluk.
Ibnu Rajab Al-Hanbali menekankan pentingnya membersihkan jiwa dari ketergantungan selain kepada Allah. Beliau menyatakan:
“Ketahuilah bahwa hati tidak akan menjadi baik dan tidak akan suci kecuali jika di dalamnya hanya ada rasa takut kepada Allah.”
Tanpa rasa takut tersebut, media sosial hanya akan menjadi ladang bagi penyakit riya dan ujub.
Ancaman Riya dan Sum’ah di Balik Layar Smartphone
Penyakit hati yang paling sering muncul di era digital adalah riya. Riya berarti melakukan amal ibadah atau kebaikan demi mendapatkan pujian manusia. Saat seseorang mengunggah foto ibadah atau donasi, niat asli seringkali teruji. Apakah konten tersebut untuk inspirasi atau sekadar mencari validasi?
Selain riya, ada pula sum’ah. Sum’ah adalah keinginan agar amal kebaikannya didengar dan dibicarakan orang lain. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa penyakit ini menghapus pahala amal saleh. Hati yang terjangkit sum’ah akan merasa gelisah jika unggahannya sepi dari interaksi. Kita harus waspada agar jempol kita tidak menggiring kita ke dalam lubang kemunafikan.
Jebakan Ujub dan Rasa Superioritas
Narsisme digital seringkali melahirkan sifat ujub. Ujub adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan. Seseorang merasa lebih baik, lebih pintar, atau lebih saleh daripada pengikutnya. Fitur profil yang menampilkan pencapaian hidup seringkali memicu perasaan ini.
Ibnu Rajab Al-Hanbali mengingatkan kita dalam kitabnya:
“Sifat ujub akan menghalangi seseorang dari taufik Allah dan menjauhkannya dari keberkahan.”
Seorang hamba yang sadar akan hakikat dirinya tidak akan merasa bangga. Ia menyadari bahwa semua kelebihan hanyalah titipan Allah semata. Media sosial seharusnya menjadi sarana bersyukur, bukan sarana menyombongkan diri.
Hasad: Racun Saat Melihat Kebahagiaan Orang Lain
Penyakit hati lainnya yang meledak di era digital adalah hasad atau iri dengki. Melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di Instagram seringkali memicu rasa tidak puas. Kita mulai membandingkan nikmat Allah pada orang lain dengan keadaan kita sendiri.
Hasad dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Ibnu Rajab menekankan bahwa pembersihan jiwa memerlukan kelapangan dada. Kita harus belajar ikut bahagia atas nikmat orang lain. Fokuslah pada perbaikan diri sendiri daripada sibuk memantau kehidupan orang lain yang hanya fatamorgana.
Solusi Tazkiyatun Nafs Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali
Lantas, bagaimana kita mengatasi penyakit hati di era narsisme digital ini? Ibnu Rajab menawarkan solusi melalui penyucian jiwa yang konsisten. Berikut adalah beberapa langkah praktisnya:
-
Meluruskan Niat (Ikhlas): Pastikan setiap unggahan memiliki tujuan yang jelas karena Allah. Jika ragu, lebih baik urungkan niat untuk membagikan konten tersebut.
-
Mengingat Kematian: Ibnu Rajab sering menekankan zikir kematian untuk menghancurkan kelezatan duniawi yang menipu. Kematian akan membuat popularitas digital terasa tidak berarti.
-
Muhasabah (Evaluasi Diri): Luangkan waktu sejenak sebelum tidur untuk memeriksa hati. Apakah ada rasa bangga atau iri yang terselip selama kita berselancar di dunia maya?
-
Memperbanyak Amal Rahasia: Lawan narsisme dengan melakukan kebaikan yang tidak diketahui siapa pun. Hal ini efektif untuk menjaga keikhlasan hati.
Penutup: Menjaga Hati di Tengah Arus Informasi
Digitalisasi adalah keniscayaan, namun kesehatan hati adalah pilihan. Kita tidak boleh membiarkan layar ponsel merusak kualitas iman kita. Kitab Tazkiyatun Nafs karya Ibnu Rajab Al-Hanbali tetap relevan hingga ribuan tahun kemudian.
Jadikanlah teknologi sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Hindari narsisme yang merusak esensi kemanusiaan kita. Dengan hati yang bersih, kita akan menemukan ketenangan yang sesungguhnya. Kebahagiaan sejati tidak berasal dari jumlah followers, melainkan dari kedekatan kita dengan Allah SWT.
Mari kita mulai membersihkan hati hari ini. Jangan biarkan penyakit hati menggerogoti amal kita di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita agar tetap istikamah di jalan-Nya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
