Kehidupan modern seringkali menjebak manusia dalam perlombaan yang tidak pernah usai. Kita mengejar karier, popularitas, dan materi hingga melupakan kesehatan mental serta spiritualitas. Banyak orang merasa hampa meskipun mereka memiliki segalanya secara finansial. Di tengah kekacauan ini, karya legendaris Ibnu Atha’illah as-Sakandari hadir sebagai oase yang menyejukkan. Kitab Al-Hikam menawarkan panduan mendalam untuk meraih ketenangan hati yang sejati.
Berhenti Memaksakan Kehendak Sendiri
Salah satu ajaran utama dalam Al-Hikam adalah konsep tadbir atau usaha mengatur hasil secara berlebihan. Ibnu Atha’illah memberikan nasihat yang sangat relevan bagi masyarakat modern yang sering mengalami kelelahan mental (burnout). Beliau menulis dalam kutipan terkenalnya:
“Istirahatkan dirimu dari urusan tadbir (mengatur urusanmu sendiri), sebab apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak usah kau sibuk memikirkannya.”
Kalimat ini tidak berarti kita harus menjadi malas atau berhenti bekerja. Sebaliknya, Ibnu Atha’illah mengajak kita untuk membedakan antara ikhtiar dan ambisi yang merusak. Kita wajib berusaha dengan maksimal, namun kita harus melepaskan keterikatan hati pada hasil akhir. Beban pikiran kita akan berkurang drastis saat kita menyadari bahwa Tuhan memegang kendali penuh atas segalanya.
Mengenali Posisi Diri dalam Kehidupan
Seringkali kita merasa iri dengan posisi atau pekerjaan orang lain. Kita merasa ibadah kita akan lebih baik jika kita memiliki lebih banyak waktu luang. Ibnu Atha’illah mengingatkan kita untuk menerima maqam atau posisi yang Tuhan berikan saat ini. Beliau menyatakan:
“Keinginanmu untuk tajrid (fokus ibadah saja tanpa bekerja) padahal Allah masih menempatkanmu pada kasab (mencari nafkah) adalah syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk kasab padahal Allah telah menempatkanmu pada tajrid adalah suatu kejatuhan dari cita-cita yang luhur.”
Nasihat ini mengajarkan kita untuk mensyukuri realitas hidup saat ini. Jika Anda adalah seorang pekerja, temukan Tuhan di dalam pekerjaan Anda tersebut. Jangan menunda kebahagiaan atau ketenangan hanya karena kondisi hidup belum ideal menurut standar manusia. Ketenangan hati Kitab Al-Hikam berakar pada penerimaan yang tulus terhadap takdir Ilahi.
Membersihkan Cermin Hati dari Dunia
Modernitas seringkali memaksa kita untuk terus mengonsumsi informasi dan materi secara berlebihan. Hal ini membuat hati kita menjadi “berkarat” dan sulit merasakan kedamaian. Ibnu Atha’illah mengibaratkan hati manusia seperti sebuah cermin. Beliau berpesan:
“Bagaimana hati dapat bersinar, sedangkan bayangan dunia masih melekat pada cerminnya? Ataukah bagaimana hati akan berangkat menuju Allah, sedangkan ia masih terbelenggu oleh syahwatnya?”
Untuk meraih ketenangan, kita perlu melakukan detoksifikasi spiritual. Kita harus membatasi keterikatan emosional terhadap hal-hal yang bersifat sementara. Fokuslah pada kualitas hubungan kita dengan Pencipta daripada sekadar mengejar validasi dari sesama manusia di media sosial.
Mengubah Sudut Pandang terhadap Kegagalan
Bagi manusia modern, kegagalan adalah momok yang sangat menakutkan. Namun, Al-Hikam mengajarkan bahwa kegagalan seringkali merupakan bentuk pemberian Tuhan yang tersembunyi. Ibnu Atha’illah menjelaskan:
“Kapan saja Allah membuatmu mampu memberi (taat), maka Ia sebenarnya sedang memperlihatkan kebaikan-Nya padamu. Dan kapan saja Allah menahan (pemberian-Nya) darimu, maka Ia sebenarnya sedang memperlihatkan kekuasaan-Nya padamu.”
Dengan prinsip ini, kita tidak akan mudah depresi saat menghadapi hambatan hidup. Kita akan memandang setiap kejadian sebagai bagian dari pendidikan Tuhan untuk mendewasakan jiwa kita. Inilah seni tingkat tinggi dalam mengelola emosi dan ekspektasi.
Kesimpulan
Membaca Kitab Al-Hikam di zaman sekarang bukan sekadar aktivitas religius. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan zaman. Ibnu Atha’illah as-Sakandari mengajak kita kembali ke pusat kedamaian, yaitu kedekatan dengan Tuhan. Mari kita mulai mempraktikkan seni melepas beban duniawi agar hati tetap tenang meski badai kehidupan menerjang. Ketenangan sejati tidak berada di luar sana, melainkan ada di dalam keridhaan hati kita sendiri.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
