Peradaban Islam tidak tumbuh besar melalui kekuatan militer semata. Fondasi terkuat yang menopang kejayaannya selama berabad-abad adalah ilmu pengetahuan. Perintah pertama dalam Al-Qur’an, yaitu “Iqra” (bacalah), telah memicu revolusi intelektual yang luar biasa. Perintah ini tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca. Para ulama kemudian menerjemahkannya ke dalam tradisi menulis yang sangat produktif.
Tradisi menulis inilah yang menjadi kunci utama transmisi ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa tulisan, pemikiran brilian para tokoh besar akan hilang tertelan zaman. Sejarah mencatat bahwa masa keemasan Islam berjalan beriringan dengan puncak kreativitas para ulama dalam menyusun kitab.
Menulis Sebagai Cara Mengikat Ilmu
Para ulama terdahulu sangat menyadari keterbatasan ingatan manusia. Mereka memiliki pepatah populer yang berbunyi: “Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya.” Kalimat ini mendorong setiap penuntut ilmu untuk selalu membawa pena dan kertas. Mereka tidak ingin satu pun mutiara hikmah terlepas begitu saja.
Seorang ulama besar, Imam Syafi’i, memberikan nasihat yang sangat menyentuh mengenai hal ini:
“Ilmu adalah binatang buruan dan tulisan adalah pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.”
Nasihat ini menjadi landasan etos kerja intelektual di dunia Islam. Menulis bukan sekadar hobi, melainkan kewajiban moral untuk menjaga kelestarian agama. Dengan menulis, para ulama memastikan bahwa cahaya kebenaran tetap bersinar meski mereka telah tiada.
Karya Monumental yang Mengubah Dunia
Bayangkan dunia medis tanpa kitab Al-Qanun fi al-Tibb karya Ibnu Sina. Atau bayangkan ilmu sosiologi tanpa Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Kitab-kitab ini menjadi rujukan utama universitas-universitas di Eropa selama ratusan tahun. Tradisi menulis ulama tidak hanya mencakup ilmu agama seperti tafsir dan hadis. Mereka juga menulis tentang astronomi, matematika, kedokteran, hingga filsafat.
Imam Al-Ghazali merupakan contoh lain ulama yang sangat produktif. Karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddin telah menghidupkan kembali spiritualitas umat di tengah kekacauan pemikiran. Beliau menulis dengan ketajaman analisis yang luar biasa. Melalui tulisan tersebut, beliau mampu menjangkau jutaan pembaca melintasi ruang dan waktu. Inilah kekuatan literasi yang sebenarnya.
Literasi Sebagai Mesin Penggerak Peradaban
Mengapa tradisi menulis sangat krusial bagi kejayaan Islam? Pertama, menulis memungkinkan akumulasi pengetahuan. Ilmuwan muslim tidak perlu memulai segala sesuatu dari nol. Mereka membaca karya pendahulu, memberikan kritik, lalu menambah penemuan baru. Proses ini menciptakan kemajuan yang berkelanjutan.
Kedua, tradisi menulis mempermudah penyebaran gagasan ke wilayah yang jauh. Pada masa keemasan, naskah-naskah dari Baghdad bisa sampai ke Cordoba, Spanyol, dalam waktu singkat. Perpustakaan-perpustakaan besar seperti Baitul Hikmah menjadi pusat gravitasi ilmu dunia. Di sana, aktivitas penerjemahan dan penulisan buku berlangsung selama 24 jam penuh.
Ketiga, literasi menciptakan masyarakat yang kritis dan beradab. Islam sangat menghargai argumen yang berdasar pada data dan naskah yang valid. Hal ini mencegah tersebarnya berita bohong atau hoaks di tengah masyarakat. Tradisi sanad (rantai transmisi) dalam penulisan hadis menunjukkan betapa ketatnya ulama menjaga akurasi informasi.
Membangkitkan Kembali Tradisi Literasi di Era Digital
Kini, tantangan literasi umat Islam jauh berbeda. Kita hidup di era informasi yang melimpah namun seringkali dangkal. Budaya membaca buku mulai tergeser oleh konten singkat di media sosial. Umat Islam harus belajar kembali dari semangat para ulama terdahulu.
Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Generasi Muslim saat ini harus kembali menjadi produsen ilmu pengetahuan. Menulis di blog, media sosial, atau buku digital adalah bentuk jihad intelektual masa kini. Kita harus mengisi ruang publik dengan narasi yang sehat, ilmiah, dan mencerahkan.
Kejayaan Islam masa lalu bukanlah kebetulan sejarah. Kejayaan itu merupakan buah manis dari ketekunan para ulama dalam menggoreskan pena. Jika kita ingin melihat kembali kejayaan tersebut, maka kita harus memulai dari satu hal sederhana: mulailah menulis.
Tradisi menulis adalah warisan berharga yang tidak boleh hilang. Mari kita jadikan literasi sebagai gaya hidup. Dengan menulis, kita tidak hanya mencatat sejarah, tetapi kita sedang membentuk masa depan peradaban yang lebih baik. Ingatlah, pena para ulama lebih suci daripada darah para syuhada dalam menjaga keberlangsungan ilmu.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
