Sosok
Beranda » Berita » Syekh Yusuf al-Makassari: Ulama, Pejuang, dan Simbol Perlawanan Lintas Benua

Syekh Yusuf al-Makassari: Ulama, Pejuang, dan Simbol Perlawanan Lintas Benua

Sejarah kemerdekaan Indonesia menyimpan nama-nama besar yang melampaui batas wilayah negara. Salah satu tokoh paling fenomenal adalah Syekh Yusuf al-Makassari. Beliau bukan sekadar ulama besar yang menguasai berbagai cabang ilmu agama. Beliau adalah simbol perlawanan gigih terhadap kolonialisme yang jejaknya abadi di dua benua. Melalui keberaniannya, Syekh Yusuf membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tidak bisa terbelenggu oleh jeruji besi maupun samudera yang luas.

Perjalanan Intelektual dari Tanah Gowa

Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan. Beliau memiliki nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari. Pendidikan awalnya bermula di Cikoang, di bawah bimbingan guru-guru terbaik pada masanya. Namun, dahaga akan ilmu membawa beliau berlayar jauh meninggalkan tanah kelahirannya.

Beliau mengunjungi pusat-pusat peradaban Islam di Timur Tengah, mulai dari Yaman, Mekkah, Madinah, hingga Damaskus. Di sana, Syekh Yusuf mendalami ilmu tasawuf dan mendapatkan ijazah dari berbagai tarekat besar. Perjalanan ini membentuk karakter intelektual yang kuat sekaligus spiritualitas yang mendalam. Kembalinya beliau ke Nusantara membawa misi suci untuk memperbaiki akhlak umat dan melawan ketidakadilan.

Jihad Melawan VOC di Tanah Banten

Setibanya di Nusantara, Syekh Yusuf tidak langsung kembali ke Gowa yang saat itu mulai jatuh ke tangan Belanda. Beliau justru memilih menetap di Banten dan menjadi penasihat utama Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten, Syekh Yusuf tidak hanya mengajar agama, tetapi juga menyusun strategi perang melawan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie).

Pasukan Banten yang terinspirasi oleh semangat jihad Syekh Yusuf memberikan perlawanan yang sangat sengit. Belanda merasa sangat terancam oleh pengaruh besar sang ulama di kalangan prajurit dan rakyat. Keteguhan beliau dalam prinsip anti-penjajahan membuat VOC harus mengerahkan kekuatan besar untuk memadamkan perlawanan tersebut. Akhirnya, melalui tipu muslihat yang licik, Belanda berhasil menangkap Syekh Yusuf pada tahun 1683.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Pengasingan dan Dakwah di Benua Afrika

Belanda menganggap Syekh Yusuf sebagai sosok yang sangat berbahaya jika tetap berada di Nusantara. Oleh karena itu, pemerintah kolonial membuang beliau ke Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1684. Namun, pengasingan tidak menghentikan pengaruh beliau. Dari Sri Lanka, beliau tetap menjalin komunikasi dengan para pejuang di Nusantara melalui jamaah haji yang singgah.

Melihat pengaruhnya yang tetap kuat, Belanda membuang Syekh Yusuf lebih jauh lagi ke Cape Town, Afrika Selatan, pada 1694. Di tempat yang sangat asing ini, beliau justru menjadi cahaya baru bagi masyarakat setempat. Beliau membangun komunitas Muslim pertama di wilayah Macassar, Cape Town. Di sana, beliau mengajarkan martabat dan harga diri kepada para budak dan penduduk lokal.

Warisan dan Pengakuan Dunia

Kehadiran Syekh Yusuf di Afrika Selatan menanamkan benih perlawanan terhadap penindasan rasial. Nelson Mandela, sang pejuang anti-apartheid, mengakui peran besar Syekh Yusuf dalam sejarah perjuangan mereka. Mandela pernah berkata:

“Syekh Yusuf adalah salah seorang putra Afrika terbaik dan inspirasi bagi perjuangan kami melawan penindasan.”

Pemerintah Afrika Selatan memberikan penghargaan gelar pahlawan nasional kepada beliau pada tahun 2005. Di Indonesia, Syekh Yusuf juga mendapatkan gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya yang luar biasa. Beliau merupakan sosok unik yang menjadi pahlawan bagi dua negara sekaligus.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Meneladani Semangat Syekh Yusuf

Kisah hidup Syekh Yusuf al-Makassari mengajarkan kita bahwa seorang ulama harus memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ilmu agama yang beliau miliki selaras dengan aksi nyata dalam membela kebenaran. Beliau tidak pernah tunduk pada tirani meskipun harus menghadapi pahitnya pengasingan ribuan kilometer dari kampung halaman.

Hari ini, makam beliau di Lakiung, Gowa, dan di Faure, Cape Town, menjadi saksi sejarah yang tak bisu. Keduanya terus dikunjungi oleh peziarah yang mengagumi kegigihannya. Syekh Yusuf al-Makassari akan selalu kita kenal sebagai sang “Tuanta Salamaka,” orang suci yang membawa keselamatan dan inspirasi lintas zaman. Kita harus terus menjaga semangat perlawanan terhadap ketidakadilan yang beliau wariskan demi masa depan bangsa yang lebih baik.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.