Sosok
Beranda » Berita » Kisah Inspiratif Tafsir Jalalain: Harmoni Intelektual Jalaluddin al-Mahalli dan al-Suyuthi

Kisah Inspiratif Tafsir Jalalain: Harmoni Intelektual Jalaluddin al-Mahalli dan al-Suyuthi

Dunia literasi Islam mengenal sebuah mahakarya fenomenal bernama Tafsir Jalalain. Kitab ini menjadi kurikulum wajib pada berbagai pesantren dan universitas Islam di seluruh dunia. Keunikan utama kitab ini terletak pada penulisnya. Dua ulama besar dengan nama depan yang sama, yakni Jalaluddin, menyusun kitab ini secara estafet. Mereka adalah Jalaluddin al-Mahalli dan muridnya, Jalaluddin al-Suyuthi.

Sosok Jalaluddin al-Mahalli: Sang Guru yang Jenius

Jalaluddin al-Mahalli lahir di Kairo pada tahun 791 H. Ia memiliki nama lengkap Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim bin Ahmad al-Mahalli. Para ulama sezamannya mengenal Al-Mahalli sebagai sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa. Banyak orang menjuluki beliau sebagai “Al-Mutaifannin” karena menguasai berbagai disiplin ilmu secara mendalam.

Kehebatan berpikir Al-Mahalli memicu kekaguman rekan-rekannya. Salah satu kutipan terkenal mengenai kecerdasannya berbunyi:

“Saya melihat seolah-olah ia bisa membelah intan dengan kecerdasannya.”

Al-Mahalli memulai penulisan tafsir ini dari surah Al-Kahfi hingga surah An-Nas. Setelah menyelesaikan bagian akhir Al-Qur’an, ia menulis tafsir surah Al-Fatihah. Namun, takdir berkata lain sebelum ia sempat merampungkan seluruh isi Al-Qur’an. Al-Mahalli wafat pada tahun 864 H, meninggalkan bagian surah Al-Baqarah hingga Al-Isra yang belum sempat ia tafsirkan.

Ketika Jabatan Berakhir, Dedikasi yang Bicara

Estafet Keilmuan oleh Jalaluddin al-Suyuthi

Sepeninggal sang guru, tugas besar melanjutkan tafsir tersebut jatuh ke tangan murid kesayangannya. Jalaluddin al-Suyuthi merupakan pemuda yang sangat produktif dalam menulis. Ia lahir pada tahun 849 H dan tumbuh menjadi ulama yang sangat alim. Al-Suyuthi memutuskan untuk menyempurnakan karya sang guru agar manfaatnya bisa tersebar luas ke seluruh umat.

Al-Suyuthi memiliki kecepatan menulis yang sangat menakjubkan. Ia mampu menyelesaikan bagian yang kosong, mulai dari surah Al-Baqarah sampai Al-Isra, dalam waktu singkat. Sejarah mencatat bahwa ia merampungkan tugas berat tersebut hanya dalam kurun waktu 40 hari. Kecepatan ini bukan berarti mengurangi kualitas isi tafsirnya. Al-Suyuthi sangat menjaga metodologi dan gaya bahasa yang telah sang guru mulai.

Harmoni Gaya Bahasa yang Menakjubkan

Salah satu keajaiban dari Tafsir Jalalain adalah kesinambungan gaya bahasanya. Meskipun dua orang yang berbeda menulis kitab ini, pembaca sulit membedakan batas tulisan Al-Mahalli dan Al-Suyuthi. Keduanya menerapkan prinsip Ijaz atau ringkas namun padat makna. Mereka menyajikan penjelasan ayat Al-Qur’an dengan bahasa yang lugas sehingga mudah bagi orang awam untuk memahaminya.

Para ulama memberikan apresiasi tinggi terhadap kekompakan guru dan murid ini. Al-Suyuthi secara rendah hati menyesuaikan gaya penulisannya agar selaras dengan gurunya. Hal ini menunjukkan adab tinggi seorang murid kepada gurunya. Ia tidak ingin menonjolkan diri sendiri, melainkan ingin menjaga keutuhan karya besar yang gurunya rintis.

Mengapa Tafsir Jalalain Sangat Populer?

Kepopuleran kitab ini bertahan hingga berabad-abad karena beberapa alasan kuat. Pertama, format penjelasannya sangat praktis. Penulis menaruh tafsiran langsung di sela-sela atau di pinggir teks ayat. Kedua, kitab ini sangat membantu pembaca memahami kosa kata sulit secara cepat. Ketiga, keberkahan niat ikhlas dari kedua penulisnya membuat kitab ini diterima di seluruh penjuru dunia.

Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

Hingga saat ini, santri di Indonesia selalu memulai pelajaran tafsir mereka dengan kitab ini. Kitab ini menjadi pintu gerbang bagi siapa saja yang ingin mendalami samudera makna Al-Qur’an. Kolaborasi antara Al-Mahalli dan Al-Suyuthi membuktikan bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan kerja sama dan rasa hormat antar generasi.

Kesimpulan

Kisah di balik penyusunan Tafsir Jalalain memberikan kita pelajaran berharga tentang loyalitas intelektual. Jalaluddin al-Mahalli meletakkan fondasi yang kokoh, sementara Jalaluddin al-Suyuthi mendirikan bangunannya dengan sempurna. Melalui tangan dingin kedua “Jalaluddin” ini, umat Islam memiliki warisan abadi yang terus menerangi jalan para pencari ilmu. Kita patut meneladani semangat mereka dalam berkarya demi kemaslahatan umat manusia secara luas.



Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.