Khazanah
Beranda » Berita » Dan Siapa Lagi yang Mengampuni Dosa Selain-NYA? Antara Harapan dan Kejujuran Taubat

Dan Siapa Lagi yang Mengampuni Dosa Selain-NYA? Antara Harapan dan Kejujuran Taubat

Dan Siapa Lagi yang Mengampuni Dosa Selain-NYA? Antara Harapan dan Kejujuran Taubat
Dan Siapa Lagi yang Mengampuni Dosa Selain-NYA? Antara Harapan dan Kejujuran Taubat

 

SURAU.CO – Di tengah gelapnya langit dan sunyinya senja, Al-Qur’an menampar kesadaran manusia dengan satu pertanyaan yang tak butuh jawaban panjang, karena jawabannya sudah mutlak: tidak ada.

 

Allah ﷻ berfirman:

> وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

“Dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” (QS. Āli ‘Imrān: 135)¹

 

Ayat ini bukan sekadar penghibur bagi pendosa. Ia adalah vonis tauhid: bahwa urusan dosa bukan milik manusia, bukan milik tokoh agama, bukan milik komunitas, dan bukan pula milik opini publik. Ampunan hanya milik Allah.

Namun justru di sinilah banyak orang tergelincir. Kita baca ayat ini untuk menenangkan diri, tetapi tidak untuk mengubah hidup. Kita jadikan harapan, tetapi tidak melahirkan taubat yang jujur.

Ampunan Allah Bukan Lisensi untuk Mengulang Dosa

Islam tidak pernah menutup pintu ampunan. Tetapi Islam juga tidak membuka pintu pembangkangan. Ayat ini turun bukan untuk membela pelaku dosa yang keras kepala, melainkan untuk mengangkat mereka yang jatuh lalu bangkit.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

 

Perhatikan lanjutan ayatnya:

> وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (yaitu) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan mereka tidak terus-menerus dalam dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Āli ‘Imrān: 135)¹

 

Mitos Dewa Kristen di Balik Bulan Masehi

Kuncinya ada pada frasa: وَلَمْ يُصِرُّوا — mereka tidak terus-menerus.

Ayat ini tidak memuji orang yang tidak pernah berdosa, melainkan orang yang tidak betah hidup di dalam dosa.

Taubat Palsu: Dosa yang Dibungkus Istighfar

Fenomena berbahaya hari ini adalah taubat yang lisan saja. Kita rajin beristighfar, tapi tetap merawat maksiat. Kita menangis dalam doa, tapi sudah menyusun rencana dosa berikutnya. Inilah taubat yang berubah menjadi permainan psikologis dengan diri sendiri dan ini sangat berbahaya.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

> التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibn Mājah)²

 

Hadis ini sering dikutip, tetapi jarang dipahami. Taubat yang dimaksud Nabi ﷺ adalah taubat yang memutus dosa, bukan yang hanya memberi jeda.

Para ulama menjelaskan, syarat taubat yang sah ada tiga:

  1. Menyesal,

  2. Berhenti,

  3. Bertekad tidak mengulangi.³

Tanpa itu, istighfar berubah menjadi penghibur palsu bagi nafsu.

Jangan Putus Asa, Tapi Jangan Berdusta

Setan punya dua strategi besar:

membuat manusia merasa terlalu kotor untuk kembali,

atau merasa terlalu diampuni untuk berubah.

Keduanya sama-sama menyesatkan.

 

Allah ﷻ berfirman:

> قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)⁴

 

Tetapi ayat ini bukan tiket bebas maksiat. Ia adalah panggilan pulang bukan izin untuk terus pergi.

Mengaku Dosa Itu Awal Keselamatan

Ayat QS. Āli ‘Imrān: 135 mengajarkan satu akhlak penting: kejujuran spiritual. Mereka yang diampuni adalah orang yang mengakui dosanya, bukan yang membenarkannya. Yang menyebut dirinya zalim, bukan yang menyalahkan keadaan.

 

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

> اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ

“Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku.” (HR. Muslim)⁵

Inilah doa orang beriman: tidak defensif, tidak berdalih, tidak sibuk mencari kambing hitam. Ia berdiri telanjang di hadapan Allah dan justru di situlah rahmat turun.

Penutup: Ampunan Itu Hak Allah, Tapi Taubat Itu Tugas Kita

Jangan pernah merasa dosamu terlalu besar untuk diampuni.

Tapi jangan pula merasa ampunan Allah terlalu murah untuk dipermainkan.

 

Ayat ini bukan kalimat penghibur kosong. Ia adalah panggilan untuk berhenti, berbalik, dan kembali.

 

Karena benar jelas:

yang mengampuni dosa hanyalah Allah,

tetapi yang diminta jujur dalam taubat adalah kita.

 

Catatan Kaki

  1. Al-Qur’an al-Karīm, QS. Āli ‘Imrān: 135.

  2. Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, no. 4250.

  3. An-Nawawī, Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, Bab Taubat.

 

  1. Al-Qur’an al-Karīm, QS. Az-Zumar: 53.

  2. Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb adz-Dzikr. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.