Surau.co – Sejarah perkembangan masyarakat Islam di Banyuwangi berkaitan erat dengan kiprah para kiai yang lahir di luar daerah ini. Banyak kiai kharismatik yang berpengaruh signifikan dalam transformasi sosial masyarakat Banyuwangi, tercatat merupakan para pendatang. Salah satunya Kiai Achjat Irsjad yang lahir di Kediri, pada 31 Januari 1910.
Achjat Irsjad kecil lahir di lingkungan keluarga dengan taraf ekonomi serba pas-pasan. Kedua orang tuanya bukan seorang ulama terkemuka, melainkan merupakan petani penggarap lahan di pedesaan Kediri. Nahasnya, tatkala Achjat Irsjad belum beranjak dari masa balita, kedua orang tuanya meninggal dunia.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Achjat Irsjad kecil tinggal dan tumbuh bersama bimbingan neneknya. Sepanjang periode ini, Achjat Irsjad mendapatkan pendidikan keagamaan, moral, dan karakter dasar dari neneknya. Pendidikan informal dari neneknya menjadi pondasi kepribadian dan karakter pada fase selanjutnya.
Menempa Diri di Tanah Rantau: Surabaya dan Jombang
Karena desakan kebutuhan ekonomi, Achjat Irsjad memutuskan merantau ke Surabaya ketika beranjak remaja. Selama di Surabaya, Achjat Irsjad bekerja serabutan, sehingga sering berpindah tempat kerja. Siklus ini membuatnya memiliki pergaulan yang sangat beragam dan berpengaruh terhadap kepribadiannya.
Pada suatu hari, di tengah aktivitas kesehariannya di Surabaya, Achjat Irsjad mendengar informasi terkait adanya rencana penangkapan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari oleh pemerintah kolonial Belanda. Informasi tersebut lantas mendorongnya untuk segera bertolak ke Tebuireng, Jombang. Ia sangat terusik dengan informasi tersebut, sehingga sebagai seorang santri hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu demi keselamatan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama itu.
Setibanya di Tebuireng, Achjat Irsjad menyampaikan informasi penting tadi kepada Kiai Hasyim. Kiai Hasyim sangat berterima kasih kepadanya dan memintanya untuk tinggal di Pesantren Tebuireng.
Sejak saat itu, Achjat Irsjad tercatat sebagai santri di Pesantren Tebuireng. Selain belajar langsung di bawah bimbingan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari, ia juga mengemban amanah khusus untuk mengawal Wahid Hasyim.
Achjat Irsjad menempa keterampilan kepemimpinannya selama di Pesantren Tebuireng. Proses penempaannya melalui jabatan lurah pondok dan keaktifan di organisasi Ikatan Pelajar-Pelajar Islam (IKPI).
Setelah cukup lama mengenyam pendidikan di Pesantren Tebuireng, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari menugaskan Achjat Irsjad bersama sejumlah santri lainnya untuk membantu pengembangan Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. Achjat Irsjad pun segera berangkat ke Banyuwangi. Di Banyuwangi, ia menemui alumni Pesantren Tebuireng, yakni Kiai Dimyati Syafi’i.
Berkiprah di Banyuwangi
Sekitar tahun 1937, berbekal alamat tersebut, Achjat Irsjad bersama beberapa santri lainnya pun lekas bertolak ke ujung timur Pulau Jawa. Tak berselang lama mereka akhirnya tiba di kediaman Kiai Dimyati Syafi’i. Tepatnya di Pesantren Darul Falah, Kepundungan, Srono. Di sini, ia menyampaikan pesan gurunya dan maksud kedatangannya. Pesan dan tujuan itu lantas disambut dengan baik oleh Kiai Dimyati. Seiring perkembangannya, Kiai Dimyati Syafi’i pun membangun relasi yang sangat erat dengan Achjat Irsjad.
Relasi yang sangat baik antara Kiai Dimyati Syafi’i dengan Achjat Irsjad menjadi modal awal yang krusial bagi pengembangan NU di Banyuwangi. Achjat Irsjad mengawali misinya dengan menginisiasi pendirian ranting NU Kepundungan. Di dalam kepengurusan NU Kepundungan, Kiai Dimyati menjadi Rois Syuriah.
Setelah memiliki kendaraan organisasi, ikhtiar selanjutnya adalah membentuk sistem kaderisasi berbasis pendidikan pesantren. Ikhtiar itu Alhasil, gagasan itu diwujudkan dengan mendirikan madrasah di pesantren Kiai Dimyati. Madrasah itu bernama Nahdlatut Thullab. Nama tersebut pada gilirannya menjadi nama pengganti Darul Falah.
Di samping itu, keduanya juga melakukan kaderisasi melalui dakwah dari desa ke desa. Dakwah di akar rumput tersebut dipandang jitu untuk meraup banyak anggota baru.
Ketua NU Cabang Blambangan
Pergerakan Achjat Irsjad semakin intensif di Banyuwangi. Tepatnya tatkala terjadi pemekaran NU Cabang Banyuwangi. Alhasil, Banyuwangi memiliki dua cabang, yakni NU Cabang Banyuwangi untuk wilayah utara dan NU Cabang Blambangan di bagian selatan.
Pada 12 Oktober 1944, Achjat Irsjad resmi menjadi ketua tanfidziyah NU Blambangan. Status formal keorganisasian ini kian memasifkan pergerakan dalam mendakwahkan Islam ahlusunnah wal jamaah sekaligus mensosialisasikan NU di arus bawah.
Sepanjang menjabat sebagai ketua NU Blambangan, Kiai Achjat Irsjad tidak hanya membesarkan NU di wilayah selatan Banyuwangi dengan mendukung pendirian struktural ranting-ranting NU. Namun juga memperluas akses pendidikan dan keagamaan melalui pendirian madrasah-madrasah serta masjid-mushola desa. Keberadaan organisasi, ruang-ruang pendidikan, dan keagamaan yang ada, pada fase berikutnya berdampak positif terhadap transformasi sosial masyarakat.
Praktis keberadaan NU Blambangan telah memudahkan kerja-kerja dakwah para kiai, karena terjadi koordinasi yang berkelanjutan. Pada kisaran 1950-an awal, Kiai Achjat Irsjad mengikuti forum musyawarah kiai-kiai Banyuwangi yang membahas terkait pembagian fokus kerja-kerja sosial kemasyarakatan, antara lain pengajian, pesantren, dan madrasah.
Sepak Terjang Politik Praktis
Sejak NU memutuskan menjadi partai politik pada 1952, Kiai Achjat Irsjad yang notabene ketua NU Blambangan secara otomatis ikut terjun ke dalam arena politik praktis. Realitas politik di wilayah selatan menjadi tantangan tersendiri bagi perjuangan dakwah Kiai Achjat. Karena mayoritas kepala desa berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.
Dalam konteks kontestasi politik, selain sebagai ketua tanfidziyah NU Blambangan, Kiai Achjat juga menjadi anggota Dewan Partai NU Blambangan. Pada Pemilu 1955, Kiai Achjat berperan mengusulkan nama-nama calon anggota DPR dan anggota Konstituante kepada LAPUNU (Lajnah Pemilihan Umum Nahdlatul Ulama). Sayangnya dalam Pemilu edisi perdana tersebut, tidak ada satupun calon dari Banyuwangi yang terpilih sebagai anggota DPR. Namun di sisi lain, ada satu calon yakni KH. Harun Abdullah yang lolos sebagai anggota Konstituante.
Selain itu, Kiai Achjat juga aktif mengawal pesta demokrasi di level pedesaan. Kiai Achjat sangat memperhatikan pesta demokrasi di tingkat pedesaan. Tujuannya untuk memastikan peta politik yang kala itu menempatkan NU sebagai minoritas politik. Selain itu, juga sebagai upaya meningkatkan pencapaian dan pengaruh politik dengan mengamankan basis massa pedesaan di wilayah selatan. Ikhtiar ini sangat penting untuk menguatkan NU Blambangan sebagai organisasi kemasyarakatan sekaligus partai politik.
Giat Dakwah Keagamaan
Dakwah keagamaan adalah jiwa dari seluruh pergerakan Kiai Achjat. Ikhtiar membesarkan NU di Banyuwangi dan keterlibatannya dalam gelanggang politik praktis pada prinsipnya bermuara untuk memudahkan aktivitas dakwah keagamaan. Kiai Achjat adalah ‘Kiai Tanpa Pesantren’. Karena ia memang tidak pernah mendirikan pesantren sepanjang kiprah pergerakannya.
Karena Kiai Achjat lebih gemar berdakwah dari pengajian ke pengajian di akar rumput. Ia lebih memiliki blusukan ke desa-desa menghadiri undangan masyarakat atau pun menjemput bola. Karena memang terbatasnya moda transportasi, Kiai Achjat sering kali berjalan kaki dengan jarak tempuh yang jauh untuk mengisi pengajian.
Kiai Achjat memiliki reputasi secara nasional. Reputasi itu dibuktikan lewat partisipasinya dalam ‘Musyawarah Nasional Alim Ulama Seluruh Indonesia’ yang pertama di Istana Merdeka, Jakarta pada 29 Mei 1964. Dalam forum tersebut, Kiai Achjat tidaknya bersanding dengan Presiden Sukarno, tetapi juga ulama-ulama kharismatik NU, seperti KH. Bisri Syansuri dan KH. As’ad Syamsul Arifin.
Kiprah pergerakan Kiai Achjat Irsjad pada akhirnya menjadi realitas historis yang dapat menjadi salah satu referensi inspirasi dan keteladanan lintas generasi.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
