Banyak orang mengira sosiologi lahir dari pemikiran ilmuwan Barat seperti Auguste Comte. Namun, catatan sejarah menunjukkan fakta yang berbeda. Jauh sebelum sosiologi modern muncul, seorang ilmuwan Muslim telah meletakkan fondasinya. Beliau adalah Ibnu Khaldun, sang pemikir genius dari Tunisia. Melalui karya monumentalnya, Muqaddimah, ia berhasil membaca pola besar peradaban manusia.
Ibnu Khaldun bukan sekadar pencatat sejarah biasa. Ia merupakan pengamat sosial yang sangat tajam. Ia melihat sejarah bukan sebagai kumpulan tanggal dan nama raja semata. Baginya, sejarah adalah cerminan dari perilaku sosial manusia. Pemikiran ini yang kemudian mengubah cara dunia memandang dinamika sebuah bangsa.
Mengenal Sosok di Balik Kitab Muqaddimah
Lahir pada tahun 1332 di Tunisia, Ibnu Khaldun tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar. Ia menguasai berbagai bidang ilmu sejak usia muda. Ia mempelajari Al-Qur’an, hadis, fikih, hingga filsafat dan matematika. Pengalaman hidupnya yang nomaden dan penuh intrik politik membentuk cara pandangnya.
Ia pernah menjabat sebagai pejabat tinggi di berbagai dinasti di Afrika Utara dan Spanyol. Pengalaman praktis ini memberinya wawasan tentang bagaimana kekuasaan bekerja. Ia melihat sendiri bagaimana sebuah kerajaan bangkit lalu runtuh secara tragis. Semua observasi tersebut ia tuangkan ke dalam kitab Muqaddimah.
Konsep Asabiyyah: Lem Perekat Masyarakat
Salah satu sumbangan terbesar Ibnu Khaldun adalah konsep Asabiyyah. Secara sederhana, Asabiyyah berarti solidaritas sosial atau rasa kebersamaan kelompok. Ia percaya bahwa kekuatan sebuah bangsa bergantung pada kuatnya ikatan ini. Tanpa Asabiyyah, sebuah komunitas tidak akan mampu membangun peradaban yang besar.
Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa masyarakat nomaden biasanya memiliki Asabiyyah yang sangat kuat. Mereka saling bergantung untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras. Kekuatan solidaritas inilah yang memungkinkan mereka menaklukkan peradaban perkotaan yang sedang melemah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemakmuran dapat mengikis ikatan sosial tersebut.
Membaca Siklus Kejayaan Bangsa
Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun membagi siklus hidup sebuah dinasti atau bangsa menjadi lima tahap. Ia melihat bahwa peradaban memiliki umur seperti layaknya manusia.
-
Tahap Penaklukan: Kelompok dengan Asabiyyah kuat berhasil merebut kekuasaan.
-
Tahap Pembangunan: Pemimpin mulai memusatkan kekuasaan dan membangun infrastruktur.
-
Tahap Kemakmuran: Bangsa mencapai puncak kejayaan dan menikmati hasil kerja keras.
-
Tahap Kemandekan: Pemimpin mulai terbuai dengan kemewahan dan kehilangan visi.
-
Tahap Keruntuhan: Moral merosot, Asabiyyah lenyap, dan bangsa lain datang menaklukkan.
Pemikiran ini membuktikan bahwa kejayaan tidak pernah bersifat abadi. Ibnu Khaldun menulis sebuah kutipan terkenal: “Ketahuilah bahwa kondisi-kondisi di dunia ini, dan kondisi-kondisi bangsa-bangsa serta adat istiadat mereka, tidak selalu menetap pada satu cara atau satu pola tertentu.”
Pengaruh Global dan Warisan Intelektual
Dunia Barat mengakui kehebatan Ibnu Khaldun berabad-abad setelah kematiannya. Arnold Toynbee, seorang sejarawan Inggris terkenal, memuji Muqaddimah. Ia menyebutnya sebagai karya terbesar yang pernah diciptakan oleh otak manusia. Ibnu Khaldun tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga ekonomi, geografi, dan pendidikan.
Dalam bidang ekonomi, ia telah membahas teori nilai, pembagian kerja, dan siklus pajak. Ia berpendapat bahwa pajak yang terlalu tinggi justru akan mematikan produktivitas rakyat. Pemikiran ini muncul jauh sebelum Adam Smith menulis The Wealth of Nations. Hal ini mempertegas statusnya sebagai pionir berbagai ilmu sosial modern.
Relevansi Pemikiran Ibnu Khaldun Saat Ini
Membaca Ibnu Khaldun dan Muqaddimah saat ini terasa sangat relevan. Kita melihat banyak negara mengalami gejolak sosial karena hilangnya solidaritas. Individualisme yang tinggi seringkali merusak tatanan masyarakat yang sudah terbangun lama. Ibnu Khaldun mengingatkan kita bahwa moralitas dan kebersamaan adalah kunci keberlanjutan sebuah bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter masyarakat. Baginya, manusia adalah produk dari lingkungan dan kebiasaan mereka. Ibnu Khaldun berpesan, “Manusia adalah anak dari kebiasaan-kebiasaannya, bukan anak dari sifat-sifat leluhurnya.”
Kesimpulan
Ibnu Khaldun telah memberikan kacamata bagi kita untuk melihat dunia secara lebih luas. Melalui Muqaddimah, ia mengajarkan bahwa setiap kejayaan memerlukan pengorbanan dan kerja keras kolektif. Sebagai Bapak Sosiologi, warisannya akan terus menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin memahami pola perubahan zaman. Kita tidak boleh melupakan kontribusi besar ilmuwan Muslim ini dalam sejarah intelektual dunia.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
